Tak Menunggu Pala Mati, Brigade Tomandin Suntik Nutrisi ke Tanaman yang Terdampak Kekeringan
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Musim kering tak hanya mengurangi ketersediaan air bagi masyarakat. Di kebun-kebun pala Fakfak, tekanan iklim mulai menguji daya tahan tanaman yang menjadi sumber penghidupan petani.
Pemerintah Kabupaten Fakfak memilih tidak sekadar menunggu hujan turun. Melalui Brigade Pala Tomandin, pemerintah turun langsung ke kebun masyarakat untuk memeriksa tanaman yang terdampak kekeringan sekaligus menyelamatkan pohon yang masih memiliki peluang untuk dipertahankan.
Salah satu lokasi yang menjadi sasaran intervensi berada di Kampung Waserat. Di tempat ini, tim Brigade Pala Tomandin yang dipimpin Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perlindungan Tanaman, George Waruma, S.ST., bersama 14 relawan memeriksa kondisi tanaman pala milik masyarakat.
Sebanyak 111 pohon pala ditemukan mengalami tekanan akibat kekeringan dan kekurangan nutrisi.
Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan sebagian tanaman tersebut masih hidup. Gejala yang dominan ditemukan berupa stres tanaman akibat kekurangan air atau dehidrasi. Kondisi itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa tanaman rusak akibat serangan organisme pengganggu tanaman.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan intervensi.
Tanaman yang masih memiliki peluang hidup diberikan perlakuan berupa nutrisi melalui metode injeksi serta pupuk atau nutrisi pendukung. Tindakan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi tanaman yang sedang berada dalam tekanan akibat kekurangan air.
Salah satu nutrisi yang digunakan berfungsi sebagai proteksi dan stimulan untuk membantu tanaman mempertahankan kondisi fisiologisnya selama menghadapi tekanan lingkungan.
George mengatakan tindakan tersebut difokuskan pada tanaman yang secara fisik masih memiliki peluang untuk diselamatkan.
“Tanaman yang kita temukan pada dasarnya masih hidup dan relatif sehat, tetapi mengalami dehidrasi karena kekurangan air. Karena itu kita melakukan intervensi dengan memberikan nutrisi dan stimulan agar tanaman dapat bertahan menghadapi tekanan kekeringan,” kata George.
Tak Menunggu Tanaman Mati
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T., turut turun melihat kondisi tanaman pala di sejumlah kebun masyarakat yang terdampak kekeringan.
Bagi Widhi, penyelamatan tanaman tidak dapat dilakukan dengan pendekatan menunggu. Tanaman yang masih hidup harus segera diidentifikasi dan mendapatkan perlakuan sesuai kebutuhannya.
Kebijakan itu sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat program strategis pengembangan pala unggul sebagai bagian dari arah pembangunan perkebunan Fakfak.
“Kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah sentra pala harus kita hadapi dengan ikhtiar bersama. Pemerintah tidak hanya melihat ini sebagai dampak musim, tetapi juga harus mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan tanaman yang masih bisa dipertahankan,” ujar Widhi.
Ia mengatakan intervensi Brigade Pala Tomandin merupakan salah satu bentuk tindakan konkret pemerintah di tingkat kebun.
“Ini bagian dari solusi dan tindakan penyelamatan terhadap tanaman pala yang masih bisa kita selamatkan. Kita tidak boleh hanya melihat dan menunggu. Mari sama-sama kita lakukan sesuatu. Tanaman yang masih hidup harus kita upayakan agar tetap bertahan,” katanya.
Bagi masyarakat Fakfak, kata Widhi, pala bukan sekadar komoditas perkebunan.
Tanaman itu telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi keluarga petani. Kebun pala dipelihara bertahun-tahun dan hasilnya menjadi salah satu penopang kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, kehilangan tanaman akibat kekeringan bukan hanya persoalan ekologis. Ia juga menyentuh investasi ekonomi keluarga yang dibangun dalam waktu panjang.
“Tanaman pala bagi masyarakat Fakfak bukan sekadar tanaman perkebunan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dan ATM keluarga sebagai sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, setiap tanaman yang masih dapat diselamatkan harus mendapatkan perhatian dan perawatan,” ujar Widhi.
Petani Diminta Tak Menyerah
Widhi meminta petani pekebun pala tetap melakukan perawatan meski menghadapi tekanan musim kering.
Ia mengingatkan petani untuk memantau kondisi tanaman secara berkala, menjaga ketersediaan air semaksimal mungkin, memberikan nutrisi sesuai kebutuhan tanaman, serta segera melaporkan apabila menemukan gejala kekeringan yang semakin berat.
Menurut dia, keberhasilan menyelamatkan tanaman pala tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
Dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, Brigade Pala Tomandin, penyuluh, relawan, dan petani sebagai pemilik sekaligus pengelola kebun.
“Saya berharap para petani pekebun pala juga terus berikhtiar. Jangan mudah menyerah dengan kondisi ini. Tanaman pala yang kita tanam hari ini adalah investasi untuk masa depan keluarga. Kalau masih bisa diselamatkan, mari kita rawat dan kita perjuangkan bersama,” kata Widhi.
Kehadiran Brigade Pala Tomandin di Kampung Waserat memperlihatkan bahwa respons terhadap tekanan iklim tidak berhenti pada pendataan kerusakan. Pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada tanaman yang masih memiliki peluang untuk dipertahankan.
Di kebun, penyelamatan itu dimulai dari hal yang sederhana: melihat tanaman satu per satu, mengenali penyebab tekanannya, lalu memberikan perlakuan sebelum kondisinya semakin buruk.
Bagi Fakfak, menjaga tanaman pala berarti menjaga lebih dari sekadar batang, daun, dan buah. Ada investasi keluarga, sumber pendapatan petani, serta keberlanjutan Pala Tomandin yang ikut dipertaruhkan.
Dan di tengah musim kering, setiap pohon yang berhasil dipertahankan berarti satu bagian dari masa depan kebun petani yang belum hilang.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook