Karhutla Bomberay-Tomage Menyisakan Luka: Pohon Sagu Hangus, Padang Teletabies Menghitam

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 30 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Karhutla Bomberay-Tomage Menyisakan Luka: Pohon Sagu Hangus, Padang Teletabies Menghitam

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Api yang sudah hampir 2 bulan menjalar di wilayah Distrik Bomberay dan Tomage tidak hanya meninggalkan asap dan tanah yang menghitam.

Setelah bara padam, yang tersisa adalah puing-puing pepohonan, hamparan ilalang yang hangus, dan puluhan pohon sagu yang ikut menjadi korban.

Padang Teletabies yang selama ini dikenal sebagai salah satu bentang alam yang menarik perhatian warga dan menjadi spot foto karena hamparan ilalangnya yang hijau menyerupai karpet kini kehilangan wajahnya. Warna hijau berganti hitam. Ilalang yang dahulu bergoyang diterpa angin kini tinggal sisa batang kering dan abu.

Di antara lanskap yang menghitam itu, pohon-pohon sagu berdiri dalam keadaan terbakar. Sebagian roboh, sebagian lainnya menyisakan batang yang hangus.

View Bukit Teletubies yang jadi ikon foto turut dilalap api | Foto Istimewah KSI

Padahal, bagi masyarakat Mbaham Matta Fakfak, sagu bukan sekadar tanaman yang tumbuh di alam. Ia merupakan bagian dari sumber pangan lokal yang diwariskan dan dipertahankan dari generasi ke generasi.

Kebakaran karena itu tidak berhenti pada hilangnya vegetasi. Ketika pohon sagu terbakar, yang ikut terancam adalah salah satu sumber pangan masyarakat.

Karhutla di Bomberay dan Tomage juga memperlihatkan wajah lain dari musim kering: api yang sulit dikendalikan ketika vegetasi mengering dan angin membantu memperluas rambatannya. Titik-titik api dapat muncul kembali setelah pemadaman, membuat ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Fakfak bersama unsur TNI dan kepolisian masih melakukan pemantauan terhadap titik-titik api. Petugas bersiaga sepanjang hari untuk mengantisipasi munculnya kembali kobaran api dan melakukan pemadaman ketika ditemukan titik kebakaran.

Namun, pemadaman hanyalah langkah pertama. Puing-puing pohon sagu yang terbakar menyisakan pertanyaan yang lebih panjang: berapa banyak sumber pangan lokal yang hilang, berapa lama vegetasi itu dapat pulih, dan bagaimana memastikan kebakaran serupa tidak terus berulang?

Di Bomberay dan Tomage, api mungkin suatu saat padam. Tetapi bagi alam dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil hutan, jejaknya tidak serta-merta hilang.

Padang Teletabies yang menghitam dan pohon-pohon sagu yang hangus menjadi semacam catatan terbuka tentang harga yang harus dibayar ketika api kehilangan kendali.

Bara boleh padam. Namun luka pada alam membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih.
 

Writter & Editor : Den