Tak Lolos Tim SMP, Kini Menembus Proliga: Jejak Panjang Pius Janwarin dari Namlea ke Panggung Nasional

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 27 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Tak Lolos Tim SMP, Kini Menembus Proliga: Jejak Panjang Pius Janwarin dari Namlea ke Panggung Nasional

Tak Lolos Tim SMP, Kini Menembus Proliga: Jejak Panjang Pius Janwarin dari Namlea ke Panggung Nasional

LANGGUR Kabarsulselindonesia.web.id — Jalan menuju prestasi tidak selalu dimulai dari kesempatan besar. Kadang, justru sebuah penolakan kecil menjadi titik awal lahirnya perjuangan panjang.

Hal itu tergambar dalam perjalanan Pius Andreas Stephanus Janwarin, putra Namlea, Maluku, yang sejak usia muda memilih bola voli sebagai arena untuk membuktikan kemampuan dan ketekunannya.

Pius bukan atlet yang langsung mendapatkan jalan mulus. Ketika masih duduk di bangku SMP, ia bahkan belum berhasil masuk dalam tim voli sekolah yang diimpikannya. Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar cita-cita.

Ia terus berlatih dan menunggu kesempatan.

Kesempatan itu kemudian datang ketika Pius melanjutkan pendidikan di SMA Pertiwi Namlea. Di sekolah tersebut, ia mendapat ruang untuk mengembangkan kemampuannya melalui latihan yang dibina guru olahraga sekaligus guru IPS yang dikenal dengan sapaan Martinus Rahanra.

Latihan yang awalnya sederhana perlahan membentuk kemampuan kompetitif. Pius mulai dipercaya tampil dalam berbagai pertandingan, termasuk memperkuat tim Kecamatan Namlea hingga kompetisi tingkat kabupaten.

Kepercayaan itu dibayar dengan prestasi. Bersama timnya, ia berhasil membawa Kecamatan Namlea meraih juara pertama dalam kompetisi tingkat kabupaten.

Tetapi Pius tidak berhenti pada pencapaian di tingkat lokal.

Merantau Demi Menjawab Tantangan

Selepas SMA, ia mengambil keputusan yang tidak mudah. Namlea ditinggalkan dan Ambon menjadi tempat berikutnya untuk menguji kemampuan.27/8/26

Di Ambon, Pius bergabung dengan Klub Yarden di kawasan Laha di bawah pembinaan Pak Man. Di lingkungan baru tersebut, ia mendapatkan kesempatan berlatih dan bertanding tanpa harus terbebani biaya.

Kesempatan itu justru menjadi tanggung jawab moral baginya untuk membuktikan diri.

Turnamen demi turnamen diikuti. Kemampuan terus diasah. Dari pertandingan ke pertandingan, pengalaman Pius semakin matang hingga namanya mulai mendapat perhatian di lingkungan bola voli Maluku.

Perjalanan itu kemudian membawanya masuk dalam persiapan tim bola voli Provinsi Maluku menuju PON.

Pius menjalani pemusatan latihan di Ambon dan selanjutnya tampil pada Pra-PON di Manado pada 1992.

Dari sinilah pintu menuju persaingan nasional mulai terbuka.

Dilirik Klub Besar dan Memasuki Persaingan Jakarta

Penampilannya di Pra-PON Manado membuat Pius mendapat perhatian dari lingkungan bola voli Jakarta. Ia kemudian memperoleh kesempatan bergabung dengan Pelita Jaya Jakarta dan berangkat ke ibu kota pada Oktober 1993.

Bagi seorang anak daerah, Jakarta menghadirkan tantangan yang berbeda. Persaingan lebih ketat, tuntutan lebih tinggi dan setiap pemain harus mampu mempertahankan performa.

Pius menjalani masa bersama Pelita Jaya sekitar enam bulan. Ketika klub tersebut kemudian bubar, kariernya kembali berada di persimpangan.

Namun, ia memilih mencari jalan lain.

Pius melanjutkan perjalanan bersama Popsivo.

Di saat yang sama, ia juga mengikuti proses penerimaan anggota Polri dan berhasil menjadi bagian dari institusi tersebut. Sejak saat itu, kehidupan Pius memasuki fase yang jauh lebih kompleks: menjalankan kewajiban sebagai anggota kepolisian sekaligus mempertahankan kecintaannya terhadap bola voli.

Gagal ke PON, Tetapi Tidak Berhenti

Pius kemudian mencoba tantangan lain melalui voli pantai.

Pada 1996, ia dipercaya mewakili DKI Jakarta dalam Pra-PON Voli Pantai di Yogyakarta. Ia berhasil melewati tahapan Pra-PON dan berpeluang melanjutkan perjalanan menuju PON.

Namun, kesempatan tampil di PON akhirnya belum berhasil diraihnya.

Di titik tersebut, Pius kembali berhadapan dengan kenyataan bahwa kerja keras tidak selalu langsung berujung pada kemenangan.

Tetapi justru di situlah karakter seorang atlet diuji.

Kegagalan tidak membuatnya meninggalkan olahraga. Ia terus mencari kesempatan, memperbaiki kemampuan dan kembali berkompetisi.

Dari Mabes TNI hingga Proliga

Setelah Popsivo bubar, Pius kembali memperkuat kariernya melalui Klub Mabes TNI.

Bersama klub tersebut, ia mengikuti berbagai kompetisi bola voli di Jakarta hingga akhirnya mencapai salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kariernya.

Mabes TNI berhasil meraih juara pertama Livoli.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan panjang Pius belum berakhir. Justru dari kompetisi tersebut, peluang menuju level yang lebih tinggi semakin terbuka.

Kesempatan tampil di Proliga akhirnya datang.

Pius dipercaya memperkuat Jakarta Patriot dalam kompetisi bola voli profesional Indonesia.

Dari Namlea, ia telah melewati berbagai tahapan: lapangan sekolah, kompetisi tingkat kecamatan dan kabupaten, Ambon, Pra-PON, Jakarta, berbagai klub, hingga akhirnya tampil di panggung Proliga.

Perjalanannya bahkan berlanjut sampai mengikuti proses seleksi Pelatnas.

Dua Jalan Pengabdian

Di luar lapangan, Pius tetap menjalankan tugasnya sebagai anggota Polri sejak 1995.

Saat ini, ia bertugas di Polresta Tangerang, Banten, dengan jabatan Kanit Lantas.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu harus berakhir ketika memasuki dunia profesi. Bagi Pius, olahraga dan pengabdian tetap dapat berjalan beriringan selama dijalani dengan disiplin dan tanggung jawab.

Di tengah kesibukan tersebut, ia juga menjalani kehidupan sebagai suami dan ayah. Pius menikah dengan Ratna Prihatin dan dikaruniai seorang anak, Katarina Zein Angelica Janwarin.

Namlea Bukan Batas

Jika ditarik kembali ke awal perjalanan, pencapaian Pius terasa semakin berarti.

Ia pernah tidak masuk tim voli SMP.

Ia pernah meninggalkan kampung halaman untuk mencari kesempatan.

Ia pernah gagal dalam seleksi PON.

Ia pernah kehilangan klub dan harus kembali mencari jalan.

Namun, setiap kali pintu tertutup, Pius memilih mencari pintu berikutnya.

Itulah yang membuat perjalanan Pius tidak semata-mata layak dilihat sebagai kisah seorang pemain bola voli. Ini adalah gambaran tentang bagaimana kegagalan dapat menjadi bahan bakar, bukan alasan untuk berhenti.

Dari sebuah kampung di Namlea, ia mampu membawa mimpinya melewati batas daerah dan memasuki persaingan olahraga nasional.

Pesannya bagi generasi muda cukup jelas: talenta boleh lahir dari daerah kecil, tetapi cita-cita tidak pernah mengenal batas wilayah.

Yang menentukan bukan dari mana seseorang memulai, melainkan seberapa kuat ia bertahan ketika perjalanan mulai terasa berat.

Bagi Pius Janwarin, perjalanan itu belum tentu selesai ketika pertandingan berakhir. Sebab, warisan terbesar seorang atlet bukan hanya trofi dan kompetisi yang pernah diikuti, tetapi juga keberanian menunjukkan kepada generasi berikutnya bahwa mimpi dari daerah pun dapat mencapai panggung nasional—asal diperjuangkan dengan disiplin, kerja keras dan ketekunan.

Editor: Bruce Elang