Bomberay–Tomage Tak Sekadar Bertani, TEP Unpad Suntikkan Empat Gagasan Ekonomi Hijau
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Bomberay–Tomage memiliki lahan, tetapi potensi itu belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Persoalan pupuk, irigasi, dan keterbatasan sarana produksi masih menjadi ganjalan.
Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (TEP Unpad) mencoba membongkar persoalan itu melalui empat gagasan terpadu dalam Focus Group Discussion (FGD) Klaster Agrokompleks di Distrik Tomage, Kabupaten Fakfak, 2 September 2026.
Forum yang mempertemukan akademisi Unpad, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, dan tokoh masyarakat itu merancang pengembangan kawasan melalui integrasi singkong dan sapi potong, jagung sebagai pangan dan pakan, mina padi berbasis Azolla pinnata dengan sistem Jajar Legowo, serta pariwisata berbasis kearifan lokal.
Ketua TEP 8 Unpad, Dr. Ir. Iwang Gumilar, M.Si., menegaskan pendekatan yang dibawa Unpad bukanlah model sosialisasi dari kampus kepada masyarakat.
“TEP UNPAD datang untuk saling mengisi kekosongan. Jika pengetahuan lokal dan akademik disinergikan, kita bisa menciptakan solusi yang benar-benar membumi,” ujar Iwang.
Di lapangan, petani justru menyodorkan persoalan yang lebih mendasar: pupuk subsidi sulit diakses, saluran irigasi belum tertata, dan sarana produksi modern masih terbatas.
Koordinator BPP Serubur Kementerian Pertanian, Benyamin Unwakoli, S.P., M.Si., mengatakan persoalan distribusi pupuk terus diperjuangkan dengan mengacu pada Permentan Nomor 6 Tahun 2026. Ia juga berharap Koperasi Desa Merah Putih menjadi simpul rantai pasok dan memperluas akses petani terhadap sarana produksi.
TEP Unpad menawarkan solusi yang tidak berhenti pada pupuk kimia. Azolla pinnata diarahkan sebagai sumber nitrogen alami dalam sistem mina padi. Limbah sapi dan tanaman singkong pun dapat diputar dalam satu siklus produksi untuk menghasilkan pupuk organik.
Gagasannya sederhana: jangan hanya mengejar produksi, tetapi bangun sistem yang membuat petani lebih mandiri.
Pertanian, peternakan, perikanan, koperasi, dan pariwisata dipandang sebagai mata rantai yang harus saling menguatkan. Dengan pola itu, Bomberay–Tomage berpeluang bergerak dari kawasan transmigrasi menjadi kawasan agroekonomi yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Namun, gagasan itu akan diuji setelah FGD berakhir. Sebab bagi petani, ukuran keberhasilan bukan banyaknya konsep yang dibicarakan, melainkan biaya produksi yang lebih rendah, hasil panen yang terserap pasar, dan pendapatan yang benar-benar meningkat.
Di situlah pekerjaan TEP Unpad dan para pemangku kepentingan di Bomberay–Tomage sesungguhnya dimulai.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook