Pupuk Indonesia Buka PIMA 2026, Memburu Cerita Transformasi di Balik Jalan Menuju Swasembada Pangan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pupuk Indonesia Buka PIMA 2026, Memburu Cerita Transformasi di Balik Jalan Menuju Swasembada Pangan

Jakarta, KabarsulselIndonesia.web.id | Perubahan di industri pupuk tak lagi berhenti di pabrik. Cara pupuk disalurkan, layanan kepada petani, penguatan industri, hingga pengembangan bisnis hijau menjadi bagian dari transformasi yang kini tengah berjalan.

Cerita tentang perubahan itu menjadi tema utama Pupuk Indonesia Media Awards (PIMA) 2026, kompetisi jurnalistik yang kembali digelar PT Pupuk Indonesia (Persero). Tahun ini, PIMA mengusung tema “Transformasi untuk Swasembada Pangan Negeri”.

Kompetisi tersebut terbuka bagi jurnalis nasional maupun daerah untuk menggali lebih jauh berbagai perubahan di tubuh industri pupuk dan dampaknya terhadap petani serta ekosistem pertanian nasional.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengatakan transformasi perusahaan berlangsung dari hulu hingga hilir.

“Transformasi di Pupuk Indonesia berlangsung dari hulu hingga hilir, mulai dari penguatan industri dan tata kelola, penyederhanaan penyaluran pupuk, hingga pengembangan layanan dan pendampingan bagi petani,” kata Yehezkiel dalam keterangan tertulis, Rabu, 30 September 2026.

Menurut dia, insan pers dapat menggali cerita dari berbagai sudut sehingga publik memperoleh gambaran mengenai perubahan yang berlangsung di industri pupuk dan kaitannya dengan upaya memperkuat ketahanan pangan.

PIMA 2026 menyediakan tiga subtema yang dapat menjadi pijakan bagi karya jurnalistik peserta.

Subtema pertama adalah “Transformasi Layanan: Ketika Pupuk Lebih Cepat Sampai ke Petani”. Tema ini membuka ruang untuk mengulas perubahan tata kelola dan digitalisasi distribusi pupuk, inovasi layanan, serta pendampingan kepada petani.

Pengalaman petani dalam memperoleh pupuk dan mengakses layanan pendukung menjadi salah satu perspektif yang dapat dikembangkan jurnalis.

Subtema kedua, “Transformasi Bisnis: Menata Industri Pupuk untuk Memberi Nilai Tambah”, menyoroti upaya penguatan industri melalui efisiensi, revitalisasi, inovasi, rantai pasok, dan aspek keberlanjutan.

Transformasi bisnis tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing industri pupuk nasional sekaligus menjaga kemampuan industri dalam menopang kebutuhan sektor pertanian.

Adapun subtema ketiga, “Transformasi Hijau: Membangun Masa Depan Lewat Hilirisasi”, mengangkat pengembangan hilirisasi, diversifikasi, serta industri hijau di lingkungan Pupuk Indonesia Group.

Di sini, jurnalis dapat mengeksplorasi bagaimana pengembangan industri dan penciptaan nilai tambah berjalan beriringan dengan agenda pengurangan emisi dan pencapaian target dekarbonisasi.

PIMA 2026 mempertandingkan lima kategori, yakni Teks Hardnews, Teks Feature, Foto Cerita, Televisi, dan Radio. Untuk kategori Radio, karya yang diikutsertakan dapat berupa hardnews, feature, maupun talkshow.

Karya peserta dapat mengangkat aktivitas Pupuk Indonesia maupun anak perusahaan di berbagai wilayah operasional, sepanjang berkaitan dengan tiga subtema yang telah ditentukan.

Karya yang masuk akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas wartawan senior yang menjabat sebagai pemimpin redaksi serta fotografer senior atau kepala redaksi foto dari media massa nasional.

Untuk lima kategori lomba tersebut, Pupuk Indonesia menyiapkan total hadiah Rp262,5 juta.

Setiap kategori menyediakan enam penghargaan: Juara I senilai Rp20 juta, Juara II Rp10 juta, Juara III Rp7,5 juta, serta tiga Juara Harapan yang masing-masing memperoleh Rp5 juta.

Karya jurnalistik yang dilombakan harus telah dipublikasikan dalam periode 1 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Informasi mengenai persyaratan dan mekanisme PIMA 2026 dapat diperoleh melalui WhatsApp 081396428707 (Vania) dan 0882001855751 (Putri) atau melalui surat elektronik [mediaaward@pupuk-indonesia.com](mailto:mediaaward@pupuk-indonesia.com).

 

Writter : Rilis | Editor : Den