Dari Rimba Fakfak ke Pasar Dunia: Ketika Pala Tomandin dan Serat Pohon Pogah Menjadi Harapan Baru Ekonomi Hijau Papua

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 13 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Rimba Fakfak ke Pasar Dunia: Ketika Pala Tomandin dan Serat Pohon Pogah Menjadi Harapan Baru Ekonomi Hijau Papua

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Kabupaten Fakfak kembali memperlihatkan alasan mengapa wilayah di pesisir selatan Papua Barat ini layak disebut sebagai salah satu pusat kekayaan hayati Indonesia. Selama ini nama Fakfak identik dengan Pala Tomandin komoditas rempah yang telah lama mengukuhkan reputasinya di pasar internasional. Namun di balik harum pala, terdapat satu kekayaan lain yang mulai menarik perhatian dunia: pohon pogah.

Minat terhadap dua komoditas itu membawa Pemilik Mom's Bakery Indonesia sekaligus Greens and Beans (GnB), Fransisca Indriyana, bersama Direktur Global Business asal Korea Selatan, Jinho Jeffry Shin, datang langsung ke Fakfak.

Bukan sekadar melakukan kunjungan bisnis, keduanya ingin memastikan sendiri bagaimana masyarakat setempat mengolah kekayaan alam menjadi produk bernilai ekonomi tinggi tanpa melepaskan akar budaya dan prinsip keberlanjutan.

Perjalanan mereka berlanjut ke Kampung Mananmur. Di sana, mereka bertemu dengan Milton Iba, pengrajin serat pohon pogah, serta Mama Bernadeta bersama kelompok perempuan yang selama puluhan tahun mempertahankan tradisi mengolah serat pohon menjadi tas anyaman khas Fakfak.

Di tengah hutan yang masih terjaga, Milton memperlihatkan proses pengambilan serat yang dilakukan secara tradisional. Kulit pohon dipisahkan secara hati-hati, kemudian serat dibersihkan, dijemur, dan diolah tanpa bantuan mesin maupun bahan kimia. Semua dikerjakan dengan tangan, memanfaatkan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.

Yang menarik, masyarakat adat memiliki aturan tidak tertulis dalam memanen serat pogah. Waktu terbaik dilakukan saat fase bulan purnama karena diyakini menghasilkan kualitas serat yang lebih baik. Setelah diambil, pohon tidak ditebang. Ia tetap hidup dan kembali menghasilkan serat baru sehingga pemanfaatannya berlangsung secara berkelanjutan.

Kearifan lokal semacam inilah yang kini menjadi perhatian dunia. Ketika banyak industri mulai beralih pada bahan baku ramah lingkungan, masyarakat Fakfak ternyata telah mempraktikkan prinsip ekonomi sirkular jauh sebelum istilah itu populer.

Fransisca mengaku terkesan menyaksikan langsung asal-usul tas yang selama ini dikenalnya. Ia mengungkapkan bahwa produk anyaman berbahan serat pogah pernah dibawanya ke sejumlah pameran internasional dan selalu menarik perhatian karena keunikan material serta cerita budaya yang menyertainya.

"Selama ini saya hanya menggunakan produknya. Baru kali ini saya melihat sendiri bagaimana proses pembuatannya. Nilai budaya, keaslian, dan keberlanjutan yang dimiliki produk ini sangat kuat. Ini bukan sekadar kerajinan, tetapi sebuah cerita yang layak diperkenalkan kepada dunia," ujarnya.

Menurut Fransisca, peluang pasar produk berbahan serat alam saat ini terus meningkat. Konsumen global tidak lagi hanya mencari barang berkualitas, tetapi juga produk yang memiliki identitas budaya, ramah lingkungan, dan diproduksi secara bertanggung jawab.

Ia menilai, dengan peningkatan kualitas, desain, pengemasan, dan strategi pemasaran yang tepat, kerajinan mama-mama Fakfak memiliki peluang besar mengikuti jejak Pala Tomandin yang telah lebih dahulu dikenal di pasar internasional.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., menegaskan bahwa kunjungan pelaku usaha nasional dan internasional menjadi sinyal positif terhadap meningkatnya perhatian dunia terhadap kekayaan hayati Fakfak.

Menurutnya, selama ini Pala Tomandin telah menjadi ikon daerah. Namun potensi hasil hutan bukan kayu seperti pohon pogah sesungguhnya memiliki nilai ekonomi yang tidak kalah besar apabila dikelola secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat.

Ia menekankan bahwa pengembangan komoditas lokal tidak cukup berhenti pada produksi bahan baku. Yang jauh lebih penting adalah membangun hilirisasi, meningkatkan kualitas produk, memperkuat kelembagaan kelompok masyarakat, serta membuka akses pasar melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan komunitas.

Pelestarian pohon pogah, kata Widhi, menjadi syarat utama agar manfaat ekonomi dapat terus dinikmati generasi mendatang. Penanaman kembali, perlindungan habitat, dan pemanfaatan secara bijaksana harus berjalan beriringan dengan pengembangan industri kerajinan.

Kunjungan Fransisca Indriyana dan Jinho Jeffry Shin diharapkan menjadi awal kerja sama yang lebih luas dalam memperkenalkan produk-produk unggulan Fakfak ke pasar nasional maupun internasional.

Di tengah derasnya arus industrialisasi global, Fakfak menawarkan sesuatu yang semakin langka: produk yang lahir dari hutan yang dijaga, dikerjakan oleh tangan-tangan terampil masyarakat adat, dan membawa cerita tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Bila Pala Tomandin telah lama mengharumkan nama Fakfak sebagai kota pala dunia, maka serat pohon pogah kini berpeluang menjadi simbol baru ekonomi hijau Papua—membuktikan bahwa kekayaan terbesar sebuah daerah bukan hanya terletak pada sumber daya alamnya, melainkan pada kearifan masyarakat yang mampu merawatnya dengan penuh hormat.

 

Writter & Editor : Den