Dari Sekolah, Menanam Ketangguhan untuk Masa Depan Pala Tomandin Fakfak
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Sepuluh pohon Pala Tomandin ditanam di halaman SMA Don Bosco Kabupaten Fakfak. Jumlahnya memang kecil, tetapi pesan yang dibawa jauh lebih besar: keberlanjutan pala tidak hanya ditentukan oleh luas kebun, melainkan juga oleh seberapa dini generasi muda mengenal, merawat, dan memahami tanaman yang menjadi bagian dari identitas Fakfak.
Bibit yang ditanam merupakan Pala Tomandin hasil grafting atau sambung pucuk, teknologi perbanyakan tanaman yang menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas dan keberlanjutan komoditas pala. Di lingkungan sekolah, bibit tersebut tidak berhenti sebagai tanaman penghijauan. Ia disiapkan menjadi media pembelajaran hidup bagi siswa untuk mengenal karakter tanaman pala, teknik perbanyakan, pemeliharaan, hingga tantangan yang dihadapi tanaman perkebunan di tengah perubahan kondisi iklim.
Kepala SMA Don Bosco Fakfak, Maria Yuliana, mengatakan penanaman pala di lingkungan sekolah merupakan bentuk pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan di ruang kelas dengan kenyataan di lapangan. Menurut dia, siswa perlu mengenal potensi daerahnya bukan sekadar melalui buku, tetapi dengan menyentuh, merawat, dan menyaksikan sendiri bagaimana sebuah tanaman tumbuh.
“Pala bukan hanya pohon yang kita tanam, tetapi bagian dari kehidupan dan identitas Fakfak. Melalui penanaman ini, kami ingin anak-anak belajar mencintai lingkungan, mengenal potensi daerahnya, dan memahami bahwa merawat tanaman membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Koordinator Tim Bimtek Usia Milenial Sekolah, Syaiful Alkatiri, yang mewakili Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, melihat momentum tersebut sebagai bagian dari investasi pengetahuan generasi muda. Terlebih, tanaman pala kini menghadapi tantangan musim kemarau panjang dan tekanan iklim yang menuntut pola pemeliharaan lebih serius.
Menurut Syaiful, kemarau dan fenomena El Niño memberikan pelajaran penting bahwa menanam hanyalah tahap awal. Tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan tanaman tetap hidup dan tumbuh. Karena itu, sepuluh bibit tersebut perlu dirawat, disiram, dilindungi, dan dipantau secara berkala agar siswa memahami bahwa keberhasilan perkebunan dibangun melalui proses panjang.
“Kalau hari ini kita menanam 10 pohon, jangan hanya menghitung jumlah pohonnya. Hitung berapa banyak pengetahuan, kepedulian, dan semangat yang tumbuh dari 10 pohon tersebut. Dari sekolah inilah kita berharap lahir generasi yang mampu menjaga marwah Pala Tomandin Fakfak,” kata Syaiful.
Pesan yang hendak dibangun Dinas Perkebunan bukan sekadar menjadikan pelajar sebagai penerus kebun pala. Generasi muda juga perlu dipersiapkan untuk memahami teknologi perbanyakan, inovasi budidaya, produktivitas, perubahan iklim, serta pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan. Dengan cara itu, pala tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus memiliki tempat dalam masa depan ekonomi Fakfak.
Di tengah kemarau, sepuluh pohon itu menjadi semacam laboratorium kecil tentang ketangguhan. Bibit boleh berukuran kecil, tetapi tanggung jawab yang ditanam bersamanya jauh lebih besar: merawat kehidupan hari ini agar manfaatnya dapat dipanen generasi berikutnya. Menanam Pala Tomandin di sekolah pada akhirnya bukan hanya menanam pohon, melainkan menanam pengetahuan, ketekunan, dan harapan bagi masa depan Pala Tomandin Fakfak.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook