Brigade Pala Tomandin Diperkuat, Fakfak Tak Ingin Warisan Pala Tumbang oleh Hama

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 11 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Brigade Pala Tomandin Diperkuat, Fakfak Tak Ingin Warisan Pala Tumbang oleh Hama

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pala Tomandin bukan sekadar tanaman yang tumbuh di kebun-kebun Fakfak. Di balik buah dan bijinya, terdapat jejak ekonomi, sejarah, kebudayaan, hingga identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, ketika tanaman pala menghadapi ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT), yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen, tetapi juga keberlanjutan salah satu identitas penting Fakfak.

Kesadaran itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan memperkuat Brigade OPT Pala Tomandin. Penguatan dilakukan melalui bimbingan, peningkatan kapasitas dan pembinaan anggota Brigade OPT selama satu hari, Jumat (11/9/2026), di Ruang Tomandin Dinas Perkebunan Fakfak.

Langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi Keputusan Bupati Fakfak Nomor 500.8-120 Tahun 2024 tentang pala sebagai produk unggulan daerah dan Keputusan Bupati Fakfak Nomor 500.8-121 Tahun 2024 tentang Tim Pengendalian Komoditas Produk Unggulan Daerah Kabupaten Fakfak.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, mengatakan Brigade OPT tidak boleh dipandang sekadar sebagai sebuah tim. Brigade, kata dia, merupakan bagian dari sistem perlindungan tanaman yang menempatkan masyarakat sebagai kekuatan penting dalam mendeteksi dan mencegah ancaman terhadap tanaman pala.

“Brigade Pala Tomandin bukan hanya sebuah tim, tetapi merupakan bagian dari gerakan bersama untuk menjaga tanaman pala Tomandin Fakfak, sama dengan menjaga keberlanjutan kearifan lokal dalam budidaya tanaman pala yang dianggap sebagai jati diri dan budaya Fakfak,” kata Widhi.

Menurut dia, kemampuan anggota harus terus diperkuat. Bukan hanya untuk mengenali gejala serangan OPT, tetapi juga melakukan pengamatan, mencatat temuan, menyampaikan laporan secara cepat dan memastikan setiap langkah pengendalian dilakukan berdasarkan rekomendasi teknis.

Bagi Widhi, kecepatan membaca gejala menjadi salah satu kunci perlindungan tanaman. Serangan yang diketahui sejak awal akan memberi ruang lebih besar untuk dilakukan pencegahan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

Karena itu, keberadaan Brigade OPT diarahkan untuk memperluas jangkauan pengamatan hingga ke lapangan. Brigade diharapkan mampu menjadi penghubung awal antara kondisi kebun, petani dan petugas teknis Dinas Perkebunan.

“Pala Tomandin memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya dan sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Fakfak. Karena itu, menjaga tanaman pala bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan perlindungan pala tidak mungkin dibebankan kepada pemerintah semata. Petani, kelompok pekebun, tokoh masyarakat, pemuda, pemerhati perkebunan, unsur adat dan berbagai elemen masyarakat perlu berada dalam satu gerakan yang sama.

Brigade OPT sendiri dibentuk dengan prinsip sukarela, nonstruktural dan tidak berorientasi pada imbalan. Keikutsertaan anggotanya bertumpu pada kepedulian terhadap keberlanjutan tanaman perkebunan, kesadaran menjaga pala sebagai komoditas unggulan daerah, tanggung jawab sosial dan partisipasi masyarakat.

Namun, semangat pengabdian itu tetap memiliki batas yang jelas. Dalam menjalankan tugas, Brigade harus mengedepankan keselamatan manusia, tanaman dan lingkungan. Penggunaan pestisida maupun bahan pengendali OPT yang berisiko tidak boleh dilakukan secara sembarangan, melainkan harus berdasarkan arahan atau rekomendasi petugas teknis yang berwenang.

Sementara itu, Plt. Kepala Bidang Perlindungan Tanaman Dinas Perkebunan Fakfak, George Waruma, S.St, menempatkan kemampuan deteksi dini sebagai fondasi utama Brigade OPT.

“Kita tidak boleh menunggu serangan OPT menjadi besar baru kemudian bertindak. Kuncinya adalah pengamatan dan deteksi dini,” kata George.

Menurut dia, anggota Brigade harus mampu membaca perubahan kondisi tanaman, mengenali gejala serangan, mencatat temuan dan segera membangun komunikasi dengan petugas lapangan serta penyuluh.

“Brigade pala harus menjadi mata dan telinga di lapangan. Tetapi Brigade bukan berarti bekerja sendiri. Setiap temuan harus dikoordinasikan dengan petugas teknis, penyuluh dan Dinas Perkebunan. Dengan koordinasi yang baik, kita bisa bergerak lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Pembinaan juga diarahkan pada penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Artinya, perlindungan tanaman tidak semata-mata diterjemahkan sebagai tindakan membasmi hama, tetapi dimulai dari pencegahan, pemeliharaan kesehatan tanaman, pengamatan rutin dan penggunaan metode pengendalian yang aman bagi manusia maupun lingkungan.

Dinas Perkebunan juga mendorong peningkatan kemampuan anggota dalam pemeliharaan sarana dan prasarana pengendalian OPT serta membangun pola komunikasi yang lebih kuat antara Brigade, kelompok tani, petani pala, penyuluh dan petugas teknis.

Ke depan, pembinaan tidak berhenti pada kegiatan di ruang pelatihan. Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan akan melakukan pendampingan, koordinasi, monitoring dan evaluasi secara berkala sesuai kebutuhan serta dinamika yang ditemukan di lapangan.

Brigade juga didorong membangun jejaring sukarela dengan kampung, kelompok tani pekebun pala, tokoh masyarakat, pemuda dan pemerhati perkebunan. Dengan pola tersebut, perlindungan tanaman diharapkan tidak lagi bersifat menunggu persoalan muncul, melainkan bergerak lebih awal melalui pengamatan dan pencegahan.

Bagi Fakfak, menjaga pala berarti menjaga sesuatu yang jauh lebih besar daripada komoditas. Ia menyangkut kesinambungan pengetahuan lokal, sumber penghidupan masyarakat dan identitas daerah yang telah melekat dalam perjalanan sejarah Fakfak.

Penguatan Brigade OPT karena itu menjadi bagian dari ikhtiar menjaga Pala Tomandin tetap lestari, sehat dan produktif. Di tengah agenda pembangunan Fakfak Membara yang tetap lestari, Pala Tomandin ditempatkan bukan sekadar sebagai komoditas unggulan, tetapi sebagai warisan yang harus dipastikan tetap memiliki masa depan.

Dan di garis depan masa depan itu, Brigade Pala Tomandin diharapkan hadir sebagai mata yang mengamati, telinga yang mendengar, dan tangan masyarakat yang bergerak lebih cepat sebelum ancaman terhadap pala menjadi kerugian yang lebih besar.

 

Writter & Editor : Den