Lampaui Nasional, Ekonomi Maluku Triwulan II-2026 Tumbuh Kuat 5,31 Persen
AMBON,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku pada triwulan II-2026 menorehkan capaian membanggakan dengan tumbuh sebesar 5,31 persen (yoy). Angka pertumbuhan ini secara meyakinkan berhasil melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat di angka 5,05 persen.
Hal tersebut dibeberkan oleh Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Rahmat Pratama, dalam kegiatan Sarasehan Wartawan dan Diseminasi Kebijakan Bank Indonesia yang digelar di Sky Bar Swiss-Belhotel Ambon, Selasa (29/9/2026).
Diseminasi berkala setiap tiga bulan ini menjadi wadah krusial BI untuk menyampaikan Laporan Perkembangan Perekonomian Provinsi Maluku terkini kepada publik melalui media massa.
-Industri Pengolahan Bergerak, Sektor Riil Tetap Tangguh
Rahmat menjelaskan bahwa dari sisi lapangan usaha, struktur penopang ekonomi Maluku relatif stabil. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih bertengger sebagai penyumbang tertinggi. Disusul oleh sektor administrasi pemerintahan, perdagangan besar dan eceran, serta industri pengolahan.
"Pertumbuhan industri pengolahan menjadi salah satu yang tertinggi di antara sektor utama. Ini menjadi bukti konkret bahwa roda perekonomian sektor riil di Maluku bergerak dengan baik," ujar Rahmat.
Menariknya, performa impresif ini terjadi di tengah adanya kebijakan penghematan dan pemotongan transfer anggaran dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. BI Maluku mencatat, dampak pemotongan tersebut berhasil terkompensasi oleh besarnya aliran dana proyek strategis nasional dari pusat yang masuk ke wilayah Maluku pada triwulan kemarin, sehingga investasi tetap terjaga.
Beberapa proyek nasional yang menjadi motor penggerak utama investasi di antaranya adalah kelanjutan pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP), pengerjaan fasilitas musik, serta pengembangan sejumlah infrastruktur pelabuhan.
-Sektor Perikanan Pulih, Sektor Pariwisata Tertekan Harga BBM
Dari sektor pertanian dan perikanan, BI Maluku melihat adanya sinyal positif pemulihan Nilai Tukar Petani (NTP) yang sebelumnya sempat berada di bawah angka 100. Pemulihan ini didorong oleh membaiknya harga komoditas global, seperti ikan cakalang, serta volume produksi perikanan yang relatif stabil.
Sektor perdagangan, transportasi, dan pergudangan juga menunjukkan tren perbaikan. Hal ini tecermin dari meningkatnya penyaluran kredit perdagangan, lonjakan aktivitas bongkar muat peti kemas, serta pertumbuhan konsumsi listrik.
Meski demikian, BI Maluku memberikan catatan kritis pada sektor pariwisata dan perhotelan yang terindikasi melemah. Data BI menangkap adanya penurunan tingkat hunian hotel berbintang serta rata-rata lama menginap wisatawan.
"Pemicu utamanya adalah tingginya harga minyak bumi global. Lonjakan ini mengerek biaya transportasi udara dan laut, sehingga masyarakat cenderung menahan diri untuk berwisata dan memilih menyimpan uang mereka," ungkap Rahmat secara tajam.
-Proyeksi Akhir Tahun dan Rencana Besar "Maluku Manggurebe 2026"
Melihat tren yang ada, BI Maluku optimistis perekonomian Maluku sepanjang tahun penuh 2026 akan tetap tumbuh positif di kisaran 5,45 persen hingga 5,85 persen.
Faktor pendorong optimisme ini meliputi kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), tingginya harga komoditas perikanan, optimalisasi belanja pemerintah di akhir tahun, serta masifnya program pengembangan UMKM secara kolaboratif.
Namun, Rahmat mengingatkan pemda dan pelaku usaha untuk tetap mewaspadai sejumlah risiko eksternal. Di antaranya ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi nilai tukar, hambatan distribusi logistik akibat harga BBM, serta potensi peningkatan biaya produksi.
Sebagai penutup sarasehan, BI Maluku juga mengonfirmasi kesiapan gelaran Maluku Manggurebe (MM) 2026 yang menjadi salah satu flagship event ekonomi dan UMKM terbesar di Maluku. Setelah melalui proses kurasi ketat sejak awal bulan lalu, konsep matang MM 2026 siap disuguhkan kepada masyarakat, khususnya di Kota Ambon, sebagai ajang tunggu yang diharapkan mampu memberikan dampak domino bagi perekonomian daerah.
(M.N)

























Komentar via Facebook