Kemarau Panjang, Warga RT 19 Fakfak Utara Bernapas Lega: Kesbangpol Salurkan 4.400 Liter Air Bersih
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah kemarau panjang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan, air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan rumah tangga bagi warga Kabupaten Fakfak. Ia menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari.
Bagi warga RT 19, Kelurahan Fakfak Utara, Jalan Sekru Tengku Umar, Distrik Fakfak, persoalan itu terasa nyata. Ketika sumber air semakin sulit diperoleh, sebagian warga harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar di rumah.
Kondisi tersebut sedikit teringankan ketika Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Fakfak mendistribusikan 4.400 liter air bersih langsung kepada masyarakat.
Distribusi air tersebut merupakan bagian dari Gerakan Penanggulangan Krisis Air Bersih Kabupaten Fakfak yang dicanangkan Bupati Fakfak Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP selama sepekan . Gerakan ini menjadi langkah cepat pemerintah daerah untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan dan kesulitan memperoleh air bersih selama musim kemarau berkepanjangan.
Di lapangan, Sekretaris Kesbangpol Kabupaten Fakfak Mohamad Patiran menjadi eksekutor OPD dalam pendistribusian air kepada warga.
Bagi masyarakat yang menerima, air yang datang bukan sekadar bantuan. Ada pengeluaran rumah tangga yang dapat ditekan, ada kebutuhan keluarga yang bisa dipenuhi, dan ada rasa lega setelah berhari-hari memikirkan dari mana air untuk keperluan rumah tangga diperoleh.
La Udin, salah seorang warga RT 19 yang menerima distribusi air, menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada pemerintah daerah.
Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Bupati Fakfak Samaun Dahlan yang menurutnya telah melihat langsung kesulitan masyarakat akibat krisis air bersih.
“Kami bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Bupati Samaun yang sudah melihat kondisi masyarakat Fakfak yang saat ini mengalami krisis air. Kami juga berterima kasih kepada Kesbangpol yang sudah membantu menyalurkan air kepada warga di sini,” ujar La Udin.
Menurutnya, persoalan air selama kemarau tidak hanya menyangkut ketersediaan, tetapi juga kemampuan ekonomi keluarga.
Harga air tangki yang berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sekali pengiriman menjadi beban tersendiri, terutama bagi keluarga dengan jumlah anggota yang cukup banyak.
Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan air dapat berubah menjadi pengeluaran rutin yang sulit dihindari.
La Udin bahkan mengungkapkan bahwa selama satu bulan terakhir, dirinya bersama sejumlah tetangga harus patungan membeli air. Total biaya yang dikeluarkan disebutnya telah mencapai sekitar Rp1,6 juta.
“Kalau air harus terus dibeli, tentu sangat berat. Dalam satu bulan terakhir kami bersama tetangga sudah patungan membeli air dan hampir mencapai Rp1,6 juta. Karena itu, bantuan air seperti ini sangat membantu kami, terutama warga yang kondisi ekonominya terbatas,” katanya.
Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana kemarau yang berkepanjangan tidak hanya mengeringkan sumber air, tetapi juga perlahan menguras pengeluaran rumah tangga.
Karena itu, distribusi 4.400 liter air ke RT 19 menjadi bantuan yang langsung menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat.
Gerakan penanggulangan krisis air bersih yang digerakkan Pemerintah Kabupaten Fakfak pun menunjukkan bahwa respons terhadap kemarau tidak berhenti pada kebijakan di atas kertas. Pemerintah mengerahkan perangkat daerah untuk turun langsung membawa air ke tengah masyarakat yang membutuhkan.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah kondisi kemarau yang belum sepenuhnya berakhir. Sebab, bagi warga yang setiap hari harus memikirkan kebutuhan air, bantuan satu tangki sekalipun memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar jumlah liter yang didistribusikan.
Di RT 19 Fakfak Utara, 4.400 liter air hari itu setidaknya memberi ruang bagi warga untuk bernapas sedikit lebih lega.
Bukan karena kemarau telah berakhir, melainkan karena untuk sementara, beban mencari air bersih di rumah mereka menjadi lebih ringan.
Dan bagi masyarakat yang selama berbulan-bulan harus membeli air dengan biaya yang tidak sedikit, perhatian pemerintah yang hadir sampai ke depan rumah menjadi bentuk kepedulian yang paling mudah mereka rasakan.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook