"Jadilah Air, Bukan Minyak": Petuah Bram Rahakbauw Meneguhkan Nilai Adat di Musda Perdana Masyarakat Kei Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 20 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Musyawarah Daerah (Musda) I Kerukunan Masyarakat Kei (KMK) Kabupaten Fakfak mencatat sebuah peristiwa yang layak dikenang sebagai tonggak penting dalam perjalanan organisasi masyarakat Kei di Tanah Mbaham.

Di tengah situasi yang sempat memanas dan berpotensi memecah persaudaraan, dua kandidat yang bersaing memilih menempuh jalan musyawarah, mengakhiri dinamika dengan sebuah kesepakatan yang disaksikan para sesepuh adat.

Keputusan itu bukan sekadar mengakhiri persaingan dalam forum organisasi, melainkan menghadirkan pelajaran tentang bagaimana nilai-nilai adat mampu menjadi penuntun dalam merawat persatuan. Suasana yang semula dipenuhi ketegangan berubah menjadi ruang rekonsiliasi, ketika kedua kandidat sepakat mengedepankan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.

Salah satu sesepuh masyarakat Kei Kabupaten Fakfak, Bram Rahakbauw, menyebut peristiwa tersebut sebagai anugerah Tuhan sekaligus restu para leluhur yang patut disyukuri.

"Kita harus mengucapkan puji syukur kepada Tuhan. Apa yang terjadi hari ini bukan karena kekuatan manusia semata, tetapi karena kehendak Tuhan dan restu leluhur," ujar Bram saat menyampaikan fangnanan atau petuah adat usai tercapainya kesepakatan.

Menurut Bram, sejak pagi dirinya terus memikirkan dinamika yang terjadi dalam Musda. Ia mengaku bersyukur karena seluruh persoalan akhirnya dapat diselesaikan tanpa meninggalkan luka di tengah keluarga besar Kei.

Ia menegaskan, para sesepuh mengambil posisi sebagai "air" yang menyejukkan, bukan sebagai pihak yang memperkeruh keadaan.

"Kami berdiri sebagai orang tua. Tugas kami bukan memihak siapa pun, tetapi mendinginkan setiap persoalan yang muncul di tengah keluarga besar," katanya.

Dalam petuahnya, Bram mengingatkan bahwa peristiwa yang sempat terjadi sehari sebelumnya hanyalah ujian kecil bagi soliditas masyarakat Kei. Justru melalui ujian tersebut, menurut dia, terlihat kedewasaan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persaudaraan.

Ia bahkan membandingkan keberhasilan Musda di Fakfak dengan dinamika yang pernah terjadi di daerah lain. Menurut Bram, kegagalan sebuah musyawarah bukan hanya mencoreng nama organisasi, tetapi juga merusak martabat masyarakat Kei secara keseluruhan.

"Di Fakfak kita membuktikan bahwa dengan kebersamaan dan partisipasi seluruh keluarga besar serta para donatur, kita mampu menyelenggarakan Musda dengan baik. Ini harus dijaga sebagai kehormatan bersama," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bram juga mengingatkan pentingnya filosofi adat Kei yang menjunjung tinggi perdamaian. Ia menyinggung nilai-nilai Larvul Ngabal, hukum adat Kei yang menjadi pedoman hidup masyarakat.

Menurutnya, masyarakat sering berbicara mengenai keberanian dan kehormatan, tetapi lupa bahwa adat Kei juga mengajarkan keseimbangan, kebijaksanaan, dan perdamaian.

"Hari ini leluhur memperlihatkan kepada kita bahwa orang Kei adalah pencinta damai. Persatuan jauh lebih mulia daripada kemenangan yang diperoleh melalui perpecahan," katanya.

Pesan paling kuat disampaikan Bram kepada kedua kandidat yang sebelumnya bersaing. Ia meminta keduanya menjadi pemimpin yang meneladani sifat air.

"Kalau ada panas, jangan datang membawa minyak. Datanglah membawa air agar semua persoalan menjadi sejuk. Sebab api yang disiram minyak akan semakin besar, tetapi api yang disiram air akan padam," ujarnya.

Filosofi itu, kata Bram, harus menjadi pegangan setiap pemimpin Kei. Kepemimpinan bukan diukur dari kemampuan mengalahkan lawan, melainkan dari kecakapan merangkul seluruh keluarga besar.

Ia juga mengingatkan seluruh pendukung kedua kandidat agar menghentikan segala bentuk saling menyerang maupun menyebarkan perbedaan setelah keputusan bersama diambil.

"Mulai hari ini semuanya selesai. Tidak boleh lagi ada saling mengkritik yang memecah persaudaraan. Ini bukan sekadar acara organisasi, tetapi acara adat yang dimulai dan diakhiri dengan adat," tegasnya.

Tak hanya itu, Bram mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan perempuan dalam budaya Kei. Menurut dia, perempuan memiliki martabat yang tinggi dan harus dihormati tanpa memandang latar belakang keluarga maupun status sosial.

Di penghujung petuahnya, Bram mengajak seluruh masyarakat Kei menjadikan momentum Musda pertama sebagai awal baru membangun organisasi yang kuat dan bermartabat.

Ia mengibaratkan seorang pemimpin seperti memukul dengan kapas, bukan dengan rotan. Rotan memang menimbulkan rasa sakit sesaat, tetapi kapas mengajarkan kelembutan yang mampu menyentuh hati seseorang sepanjang hidupnya.

"Merusak itu sangat mudah, tetapi memperbaiki membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, pemimpin harus mampu merangkul, bukan melukai," katanya.

Musda I Kerukunan Masyarakat Kei Kabupaten Fakfak akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum memilih pemimpin. Peristiwa itu menjelma menjadi panggung pembuktian bahwa ketika adat, kebijaksanaan para tetua, dan kerendahan hati para kandidat bertemu, potensi konflik dapat berubah menjadi kekuatan yang mempererat persaudaraan.

Di tengah meningkatnya polarisasi dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, Musda perdana masyarakat Kei di Fakfak menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: persatuan selalu lebih berharga daripada kemenangan yang diperoleh melalui perpecahan.

 

Writter & Editor : Den