Petrus Emanuel Temorubun Dorong Investasi Hotel Bintang Lima di Malra: Pariwisata Harus Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Rakyat
Maluku Tenggara. Kabarsulselindonesia.web.id — — Pembangunan industri pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara membutuhkan strategi yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga memperkuat kualitas akomodasi, kenyamanan, keamanan, konektivitas, dan pelayanan bagi wisatawan. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah mendorong investasi hotel bintang lima di lokasi wisata yang strategis untuk menciptakan efek berganda (*multiplier effect*) bagi perekonomian masyarakat.19/10/26
Gagasan tersebut disampaikan Petrus Emanuel Temorubun, S.Ip, yang menilai bahwa Kepulauan Kei memiliki modal alam dan budaya yang kuat untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berdaya saing. Namun, menurutnya, potensi tersebut perlu ditopang oleh infrastruktur dan fasilitas yang mampu memenuhi kebutuhan berbagai segmen wisatawan, termasuk wisatawan dengan daya beli tinggi.
Menurut Temorubun, wisatawan tidak hanya mencari keindahan alam ketika berkunjung ke suatu daerah. Mereka juga mempertimbangkan kenyamanan penginapan, keamanan, kualitas pelayanan, kemudahan transportasi, dan pengalaman selama berada di destinasi tersebut.
Karena itu, ia mendorong agar investasi akomodasi berkualitas tinggi menjadi salah satu pilihan strategis dalam perencanaan pembangunan pariwisata Maluku Tenggara.
Hotel Bintang Lima Dinilai Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal
Temorubun berpandangan bahwa kehadiran hotel bintang lima di kawasan wisata yang strategis berpotensi menciptakan hubungan ekonomi dengan berbagai sektor usaha masyarakat.
Kebutuhan hotel terhadap bahan pangan, hasil perikanan, daging, sayuran, buah-buahan, jasa transportasi, tenaga kerja, dan berbagai kebutuhan operasional dapat membuka peluang bagi pemasok serta pelaku usaha lokal.
Dampaknya juga berpotensi menjangkau pengemudi angkutan umum, penyedia rental mobil dan sepeda motor, pengemudi ojek, pemandu wisata, pedagang kuliner, hingga pelaku usaha kerajinan dan ekonomi kreatif.
“Pariwisata bukan sekadar piknik, melainkan industri yang dapat menggerakkan banyak sektor ekonomi,” demikian inti pandangan Temorubun dalam gagasannya mengenai pengembangan pariwisata Maluku Tenggara.
Meski demikian, efek berganda tersebut tidak terjadi secara otomatis. Manfaat ekonomi akan lebih besar apabila hotel membangun kemitraan dengan UMKM, memprioritaskan pemasok lokal yang memenuhi standar mutu, merekrut dan melatih tenaga kerja setempat, serta membuka kesempatan usaha secara adil.
Dengan pendekatan itu, investasi pariwisata tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi pengelola hotel, tetapi juga dapat memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Labuan Bajo Menjadi Referensi, Malra Perlu Menyesuaikan Strategi
Temorubun turut menyinggung Labuan Bajo sebagai salah satu referensi pengembangan destinasi wisata yang dapat dipelajari Maluku Tenggara.
Menurut gagasannya, pengembangan akomodasi berkualitas perlu berjalan beriringan dengan promosi destinasi, paket perjalanan wisata, layanan transportasi, dan kesiapan masyarakat dalam menyambut pengunjung.
Namun, pengalaman daerah lain tidak dapat diterapkan begitu saja tanpa memperhitungkan karakteristik Kepulauan Kei.
Maluku Tenggara dan Kota Tual perlu memiliki strategi yang sesuai dengan kondisi geografis kepulauan, akses penerbangan dan pelayaran, ketersediaan air bersih, listrik, jaringan komunikasi, pengelolaan sampah, serta kemampuan pasokan pangan lokal.
Karena itu, pembangunan hotel bintang lima perlu didahului kajian kelayakan investasi yang mencakup potensi pasar, proyeksi tingkat hunian, kebutuhan modal, biaya operasional, dampak terhadap lingkungan, serta kesiapan infrastruktur pendukung.
Pembangunan akomodasi premium akan lebih efektif apabila menjadi bagian dari ekosistem destinasi yang terintegrasi, bukan berdiri sendiri tanpa dukungan layanan wisata yang memadai.
Promosi Penting, tetapi Kesiapan Destinasi Tidak Boleh Diabaikan
Salah satu pesan penting Temorubun adalah bahwa promosi harus berjalan seiring dengan kesiapan lapangan.
Promosi yang kuat dapat menarik perhatian wisatawan, tetapi kualitas pengalaman selama berkunjung akan memengaruhi reputasi destinasi dan kemungkinan wisatawan merekomendasikannya kepada orang lain.
Kenyamanan penginapan, keamanan, keramahan masyarakat, kualitas makanan, kebersihan lingkungan, kemudahan memperoleh transportasi, serta profesionalisme pemandu wisata menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.
Karena itu, pembangunan pariwisata Maluku Tenggara perlu dilakukan secara terpadu melalui kerja sama pemerintah daerah, investor, pengelola destinasi, pelaku perjalanan wisata, masyarakat, dan lembaga pendidikan.
Peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal juga perlu menjadi prioritas agar masyarakat tidak hanya memperoleh pekerjaan pada tingkat operasional, tetapi memiliki kesempatan mengembangkan karier dalam industri perhotelan dan pariwisata.
Dinas Pariwisata Diharapkan Menyiapkan Peta Jalan Industri Wisata
Temorubun menyampaikan keyakinannya bahwa Kepala Dinas Pariwisata Maluku Tenggara sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk mendorong kemajuan sektor pariwisata daerah.
Gagasan tersebut sekaligus menempatkan perencanaan jangka panjang sebagai kebutuhan penting dalam pengembangan industri pariwisata.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menyusun peta jalan yang menjelaskan prioritas destinasi, kebutuhan infrastruktur, strategi menarik investor, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan UMKM, serta target manfaat ekonomi yang hendak dicapai.
Pemerintah juga perlu membuka ruang komunikasi dengan calon investor dan masyarakat untuk mengidentifikasi lokasi yang layak dikembangkan, sekaligus memastikan bahwa kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan tetap terlindungi.
Apabila investasi hotel bintang lima dinilai layak, langkah berikutnya adalah menyiapkan iklim investasi yang transparan, kepastian perizinan, kesiapan infrastruktur, dan kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi ekonomi lokal.
## Landasan Hukum: Pariwisata Harus Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat
Pengembangan industri pariwisata tidak hanya berkaitan dengan peluang bisnis, tetapi juga memiliki dasar kebijakan dalam peraturan perundang-undangan Indonesia.
Pertama, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.** Pasal 3 menyebutkan fungsi kepariwisataan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan sekaligus meningkatkan pendapatan guna mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pasal 4 juga menegaskan tujuan kepariwisataan, antara lain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, mengatasi pengangguran, serta melestarikan alam dan lingkungan.
Kedua, Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025.** Peraturan ini memuat standar kegiatan usaha hotel bintang dalam penyelenggaraan
Perizinan berusaha berbasis risiko. Standar tersebut mencakup aspek sarana, sumber daya manusia, ketentuan produksi, dan sistem manajemen usaha. Hal ini penting untuk memastikan investasi perhotelan mengikuti ketentuan usaha yang berlaku.
Landasan tersebut menegaskan bahwa pengembangan pariwisata perlu memperhatikan kesejahteraan masyarakat, mutu pelayanan, kepatuhan terhadap perizinan, dan keberlanjutan lingkungan. Pembangunan hotel bintang lima tetap harus memenuhi persyaratan tata ruang, lingkungan, bangunan, dan perizinan sesuai ketentuan yang berlaku.
Investasi Harus Membawa Manfaat Nyata bagi Masyarakat Kei
Gagasan pembangunan hotel bintang lima di Maluku Tenggara pada akhirnya perlu ditempatkan dalam strategi yang lebih luas: membangun industri pariwisata yang kuat, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Keindahan alam Kepulauan Kei merupakan modal penting, tetapi keberhasilan industri pariwisata juga ditentukan oleh kualitas pelayanan, konektivitas, kesiapan sumber daya manusia, kepastian investasi, serta kemampuan daerah menghubungkan wisatawan dengan produk dan jasa lokal.
Karena itu, pembangunan hotel bintang lima dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan investasi strategis, sepanjang didukung kajian kelayakan yang memadai dan tidak mengabaikan kebutuhan pengembangan akomodasi pada segmen pasar lainnya.
Yang terpenting, pertumbuhan pariwisata harus membuka kesempatan bagi petani, nelayan, peternak, pengusaha transportasi, pelaku UMKM, pekerja lokal, dan generasi muda untuk mengambil bagian dalam rantai ekonomi.
Dengan kolaborasi pemerintah, investor, dan masyarakat, Maluku Tenggara berpeluang mengembangkan pariwisata yang tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman berkualitas dan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pariwisata Maluku Tenggara bukan semata-mata berapa banyak wisatawan yang datang atau berapa besar investasi yang masuk, melainkan seberapa jauh pertumbuhan industri tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Kei secara berkelanjutan.**
Penulis gagasan: Petrus Emanuel Temorubun, S.Ip
Editor Bruce Elang




























Komentar via Facebook