Hari Ditsakmas ke-8, Bupati Thaher Tegaskan Perempuan Kei Adalah Penjaga Martabat Adat dan Negeri

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 07 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Hari Ditsakmas ke-8, Bupati Thaher Tegaskan Perempuan Kei Adalah Penjaga Martabat Adat dan Negeri

Hari Ditsakmas ke-8, Bupati Thaher Tegaskan Perempuan Kei Adalah Penjaga Martabat Adat dan Negeri

Langgur Kabarsulselindonesia.web.id  – Peringatan Hari Nen Dit Sakmas ke-8 Tahun 2026 di Kabupaten Maluku Tenggara tidak sekadar menjadi agenda mengenang sejarah perempuan Kei. Momentum tersebut kembali ditegaskan sebagai pengingat pentingnya menjaga nilai adat, martabat perempuan, persaudaraan, serta jati diri masyarakat Kei di tengah perkembangan zaman.

Pesan itu disampaikan Bupati Maluku Tenggara dalam sambutannya pada seremonial dan ziarah peringatan Hari Nen Dit Sakmas ke-8 yang berlangsung di Langgur, Senin (7/9/2026).

Menurut Bupati, Ditsakmas memiliki posisi penting dalam sejarah masyarakat Kei karena sosok perempuan tersebut hadir bersama para pembesar Kei atau Hila’ai dalam proses penetapan hukum adat Larvul Ngabal.

Karena itu, Ditsakmas, menurutnya, tidak boleh hanya ditempatkan sebagai bagian dari cerita masa lalu. Sosok tersebut harus dipahami sebagai simbol bahwa perempuan memiliki tempat, kehormatan dan peran penting dalam kehidupan adat serta perjalanan sejarah masyarakat Kei.

Bupati menegaskan, Larvul Ngabal bukan sekadar seperangkat aturan adat, melainkan fondasi kehidupan bersama masyarakat Kei yang mengajarkan penghormatan terhadap sesama, perlindungan terhadap kehidupan, kehormatan keluarga, persaudaraan, perdamaian dan tanggung jawab terhadap negeri.

Ia pun mengingatkan generasi muda agar tidak hanya mengenal nama Ditsakmas, tetapi memahami makna sejarah dan nilai adat yang terkandung di dalamnya.

“Kalau generasi muda kita tidak lagi memahami adatnya, maka kita bukan hanya kehilangan pengetahuan tentang masa lalu, tetapi perlahan-lahan dapat kehilangan jati diri sebagai orang Kei,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.

Perempuan Kei dan Martabat Adat

Dalam sambutannya, Bupati memberikan penekanan khusus terhadap kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat Kei.

Ia menegaskan bahwa perempuan Kei bukan sekadar bagian dari masyarakat adat, tetapi merupakan bagian dari kehormatan masyarakat adat itu sendiri.

Karena itu, tidak boleh ada tindakan yang merendahkan martabat perempuan, kekerasan terhadap perempuan maupun penghinaan terhadap kehormatan perempuan.

Menurutnya, penghormatan terhadap perempuan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari apabila masyarakat benar-benar ingin menjunjung tinggi nilai Larvul Ngabal.

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa adat tidak cukup hanya dibicarakan dalam berbagai seremoni, tetapi harus hadir dalam sikap dan perilaku masyarakat.

“Jangan kita bicara tentang adat kalau kita masih merendahkan perempuan,” menjadi salah satu penekanan kuat dalam sambutan Bupati.

Ditsakmas sebagai Gerakan Moral

Lebih jauh, Bupati mengajak seluruh masyarakat Maluku Tenggara menjadikan peringatan Hari Ditsakmas sebagai sebuah gerakan moral, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.

Gerakan tersebut diarahkan untuk memperkuat keluarga, melindungi perempuan dan anak, menghormati sesama manusia, memperkuat semangat Ain Ni Ain, serta menjaga persatuan masyarakat Kei.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, lanjutnya, berkomitmen mendukung pelestarian adat dan budaya Kei sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah.

Pembangunan, menurut Bupati, tidak boleh hanya diukur dari keberadaan jalan, gedung maupun infrastruktur. Pembangunan juga harus mampu mewariskan nilai, martabat, adat dan kehormatan negeri kepada generasi berikutnya.

Maju Tanpa Kehilangan Jati Diri

Bupati menegaskan, Maluku Tenggara harus mampu bergerak maju secara ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat pemerintahan dan terbuka terhadap kemajuan zaman.

Namun, kemajuan tersebut harus tetap berdiri kokoh di atas akar adat dan budaya Kei.

“Dari Larvul Ngabal kita belajar tentang aturan. Dari Ain Ni Ain kita belajar tentang persaudaraan. Dari Ditsakmas kita belajar tentang penghormatan terhadap perempuan,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.

Peringatan Hari Ditsakmas ke-8 akhirnya diletakkan bukan hanya sebagai penghormatan terhadap sejarah, tetapi sebagai ajakan untuk menjadikan nilai-nilai leluhur sebagai kekuatan moral dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat Kei saat ini.

Bupati pun mengajak masyarakat untuk menghormati perempuan, menegakkan nilai Larvul Ngabal, memperkuat Ain Ni Ain dan bersama-sama menjaga martabat serta kehormatan negeri Kei.

Ain Ni Ain. Larvul Ngabal tetap menjadi kekuatan moral masyarakat Kei. Setara Sejahterakan Negeri.Kalau untuk gaya TribunNusantara, saya juga bisa buatkan versi yang lebih tajam, punya lead yang menggigit, dan judul lebih kuat untuk menarik pembaca media online.

Editor Bruce Elang