Kemarau Mengancam Kebun Warga, Dinas Perkebunan Fakfak Salurkan Air untuk Selamatkan Pinang, Sirih, dan Mahi Tuni
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Kemarau tidak hanya mengeringkan tanah. Bagi masyarakat yang menggantungkan sebagian kebutuhan ekonomi dan tradisi pada tanaman pekarangan, kekurangan air juga mengancam keberlangsungan komoditas lokal yang tumbuh di sekitar rumah.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak mengambil bagian dalam upaya membantu masyarakat perkotaan memenuhi kebutuhan air sekaligus menjaga tanaman perkebunan skala rumah tangga, seperti pinang, sirih, dan tembakau negeri atau Mahi Tuni.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, mengatakan distribusi air tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat yang menghadapi tekanan akibat musim kemarau dan dampak El Niño.
Menurut dia, bantuan itu tidak semata-mata berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Ada kepentingan lain yang juga perlu diperhatikan: menjaga tanaman lokal agar tetap hidup dan produktif di tengah keterbatasan air.
“Selain untuk kebutuhan rumah tangga, kami juga berupaya mendorong masyarakat agar tetap menjaga tanaman perkebunan yang ada di sekitar permukiman, terutama tanaman yang memiliki nilai ekonomi dan menjadi bagian dari kearifan lokal Fakfak,” ujarnya.
Pinang, sirih, dan Mahi Tuni bukan sekadar tanaman yang menghiasi halaman rumah. Bagi masyarakat Fakfak, komoditas tersebut memiliki dimensi ekonomi, sosial, dan budaya. Tanaman-tanaman itu dapat menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga sekaligus menjaga keberadaan produk lokal yang telah lama hidup dalam keseharian masyarakat.
Karena itu, ancaman kekeringan terhadap tanaman pekarangan tidak semestinya dipandang sebagai persoalan pertanian semata. Ketika tanaman gagal tumbuh atau kehilangan produktivitas, masyarakat berpotensi kehilangan sebagian sumber pendapatan sekaligus menghadapi risiko berkurangnya ketersediaan komoditas lokal.
Di tengah kondisi tersebut, distribusi air menjadi salah satu langkah bantuan yang dapat dilakukan untuk meringankan beban warga. Namun, keberlanjutan tanaman tetap membutuhkan perawatan, pengelolaan air yang bijaksana, serta dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Dinas Perkebunan Fakfak membuka kesempatan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan air untuk menyampaikan permohonan bantuan. Setiap permohonan akan ditindaklanjuti dengan mempertimbangkan ketentuan yang berlaku, kondisi lapangan, serta kapasitas dan sumber daya yang tersedia.
Widhi menegaskan, bantuan air tersebut bersifat terbatas untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi darurat akibat kemarau. Program itu bukan pengganti layanan air bersih secara permanen. Masyarakat tetap diimbau menghemat penggunaan air dan mendahulukan kebutuhan yang paling mendesak.
Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa upaya menjaga perkebunan lokal tidak selalu dimulai dari lahan yang luas atau program berskala besar. Tanaman di pekarangan rumah pun memiliki arti ketika menjadi bagian dari penghidupan keluarga dan identitas lokal yang perlu dipertahankan.
Ke depan, tantangannya bukan hanya memastikan tanaman bertahan selama kemarau, melainkan juga menjaga agar komoditas tersebut tetap produktif dan memiliki nilai ekonomi. Ketersediaan air, pendampingan kepada masyarakat, dan akses pasar menjadi unsur penting agar potensi tanaman lokal tidak berhenti sebagai warisan tradisi, tetapi terus memberikan manfaat nyata.
Dinas Perkebunan Fakfak menyatakan akan terus mengambil bagian sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Di tengah tekanan iklim, upaya membantu warga mendapatkan air sekaligus menjaga tanaman lokal menjadi langkah untuk mempertahankan penghidupan masyarakat dan keberlanjutan komoditas perkebunan Fakfak bagi generasi mendatang.
Writter & Editor: Den




























Komentar via Facebook