Piala Dunia Bole Memanas,Tetapi Tual dan Malra Harus Tetap Damai

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 08 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Piala Dunia Bole Memanas,Tetapi Tual dan Malra Harus Tetap Damai

Piala Dunia Bole Memanas,Tetapi Tual dan Malra Harus Tetap Damai

Malra Kabarsulselindonesia.web.id – Euforia Piala Dunia 2026 semakin memuncak. Ribuan masyarakat diperkirakan akan turun ke jalan mengikuti Pawai Damai Piala Dunia yang akan digelar dalam waktu dekat. Namun di balik semarak dukungan terhadap tim favorit masing-masing, muncul satu pesan tegas yang terus digaungkan oleh tokoh pemuda, organisasi kepemudaan, dan komunitas suporter: jangan jadikan sepak bola sebagai pemicu perpecahan.

Himbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap pertandingan-pertandingan krusial Piala Dunia yang sering kali memicu adu argumentasi antarpendukung tim nasional.

Para tokoh pemuda menilai bahwa fanatisme yang berlebihan berpotensi mengganggu ketertiban jika tidak dikendalikan dengan baik. Karena itu, seluruh suporter diingatkan untuk tetap mengedepankan sportivitas, etika, dan rasa saling menghormati.

"Argentina, Brasil, Belanda, Portugal atau negara lainnya boleh bertarung habis-habisan di lapangan. Tetapi masyarakat Kei tidak boleh ikut bertarung karena perbedaan dukungan. Jangan korbankan persaudaraan hanya demi pertandingan yang berlangsung 90 menit," tegas salah satu tokoh pemuda.

Masyarakat dan seluruh komunitas suporter juga diminta menjaga ketertiban selama pawai berlangsung, mematuhi aturan lalu lintas, serta menghindari tindakan yang dapat memicu gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Perdebatan yang berujung pada provokasi, penghinaan terhadap kelompok suporter lain, maupun tindakan yang mengarah pada konflik diminta untuk dihentikan sejak awal. Pasalnya, semangat utama dari pawai tersebut adalah menunjukkan bahwa masyarakat Maluku Tenggara dan Kota Tual mampu merayakan pesta sepak bola dunia secara dewasa dan bermartabat.

Menurut sejumlah tokoh masyarakat, dunia boleh melihat rivalitas Argentina melawan Brasil atau Belanda melawan Portugal. Namun masyarakat Kei harus menunjukkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rivalitas, yakni kekuatan persaudaraan yang telah diwariskan oleh para leluhur.

"Piala Dunia akan berakhir. Juara akan berganti. Tetapi hubungan persaudaraan, kekeluargaan dan persatuan masyarakat harus tetap terjaga. Itu yang jauh lebih penting daripada kemenangan tim mana pun."

Karena itu, seluruh peserta pawai diajak menjadikan kegiatan tersebut sebagai panggung persatuan, bukan arena adu gengsi antarpendukung. Masyarakat juga diminta aktif menyebarkan pesan damai dan menolak segala bentuk provokasi, baik di lapangan maupun di media sosial.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun kuat: berbeda warna jersey bukan alasan untuk bermusuhan. Berbeda dukungan bukan alasan untuk saling menjatuhkan.

Di atas semua atribut dan fanatisme sepak bola, masyarakat Kei memiliki satu identitas yang tidak bisa dipisahkan: hidup sebagai saudara dalam rumah bersama.

Piala Dunia boleh memanas, tetapi Tual dan Maluku Tenggara harus tetap damai.

Editor : Bruce Elang