Buncis 150 Kilogram Sekali Petik! Kebun Petani Fakfak Buktikan Sayur Lokal Mampu Kuasai Pasar

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 27 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Buncis 150 Kilogram Sekali Petik! Kebun Petani Fakfak Buktikan Sayur Lokal Mampu Kuasai Pasar

Produksi sudah terbukti. Pasar tersedia. Kini persoalan air menjadi tantangan agar potensi petani lokal Fakfak bisa naik kelas. Tahun ini, Dinas Pertanian membina 38 kelompok tani OAP.
 

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Jangan buru-buru mengira semua sayuran di Fakfak harus didatangkan dari luar daerah. Di balik kebun-kebun sederhana milik petani lokal, tersimpan potensi produksi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Salah satunya adalah kebun milik Sudarno.

Dari lahan yang dikelolanya, buncis dan kacang panjang dipanen secara rutin. Produksinya pun tidak kecil. Dalam kondisi terbaik, buncis yang dipanen Sudarno pernah mencapai 150 kilogram sekali petik.

“Kalau semua lahan saya buka dan air cukup, satu kali petik bisa sampai 100 kilo. Dulu pernah sampai 150 kilo,” kata Sudarno.

Petani yang telah menggeluti usaha pertanian sejak 2011 itu memasarkan hasil kebunnya ke Pasar Thumburuni dan sejumlah pembeli lokal. Buncis bahkan dapat dipanen hingga tiga kali dalam enam hari. Kacang panjang dipasarkan dalam bentuk ikatan dengan hasil sekitar 20 hingga 50 ikat setiap panen.

Angka tersebut menjadi bukti bahwa petani lokal bukan sekadar pelengkap pasar.

Mereka mampu berproduksi. Mereka memiliki pasar. Dan mereka punya peluang untuk berkembang.

Air Masih Jadi "Musuh" Utama

Namun, produktivitas tinggi itu belum bisa dinikmati setiap saat. Ada satu persoalan yang terus menghantui Sudarno: ketersediaan air.

Saat musim panas, ia terpaksa membeli air untuk menyelamatkan tanaman. Dalam sebulan terakhir, pembelian air sudah dilakukan tujuh kali. Sekali membeli, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp150 ribu.

Jika dihitung, pengeluaran untuk air saja telah menembus Rp1 juta.

“Kalau air tidak kekurangan, saya tidak akan begini. Sekarang saya beli air. Kemampuan saya terbatas,” ujarnya.

Padahal, ketika air tersedia, lahan yang belum tergarap bisa dibuka dan produksi berpeluang meningkat.

Masalah ini sekaligus memperlihatkan bahwa peningkatan produksi pertanian tidak cukup hanya dengan bantuan bibit, pupuk atau alat. Air adalah fondasi.

Tanpa pengairan yang memadai, potensi lahan akan tetap menjadi potensi.

38 Kelompok Tani OAP Dibina

Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Pertanian kini berupaya memperkuat petani dari sisi lain.

Kepala Bidang Hortikultura dan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Fakfak, Tahap Bahmit, mengatakan tahun ini terdapat 38 kelompok tani di delapan distrik yang mendapatkan pembinaan.

Menariknya, seluruh kelompok tersebut merupakan kelompok tani Orang Asli Papua (OAP).

“Memang kami harus mulai memberikan perhatian dan fokus kepada OAP,” kata Tahap.

Pembinaan dilakukan melalui pemberian stimulan berupa sarana produksi pertanian, peralatan serta kebutuhan pendukung lainnya.

Sebelum bantuan diberikan, Dinas Pertanian bersama penyuluh melakukan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) untuk memastikan kelompok penerima sesuai dengan kondisi di lapangan.

Penyuluh kemudian menjadi ujung tombak pendampingan. Mereka mendampingi petani mulai dari penanaman, perawatan tanaman hingga panen.

Satu Hektare, Beragam Sayuran

Potensi serupa terlihat pada Kelompok Tani Sumber Rezeki di Sebrang Suban Woretma.

Kelompok beranggotakan lima orang itu mengelola lahan sekitar satu hektare. Sawi, kangkung, bayam, mentimun, jagung, buncis dan kacang panjang tumbuh di lahan tersebut.

Hasilnya dipasarkan ke Pasar Thumburuni. Bahkan, sudah ada penadah yang siap membeli hasil produksi petani.

Artinya, persoalan utama bukan lagi sekadar mencari pasar.

Pasarnya sudah ada. Produksinya juga sudah berjalan.

Yang perlu dilakukan adalah memperbesar kapasitas produksi.

Untuk komoditas tertentu seperti cabai dan kentang, kebutuhan Fakfak masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi petani lokal. Namun untuk sayur-mayur, produksi petani setempat telah mengambil peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Jangan Biarkan Petani Berjalan Sendiri

Dinas Pertanian menyadari tantangan tersebut. Selain bantuan sarana produksi, penguatan pendampingan menjadi bagian penting dalam pembinaan.

Tahap mengatakan jumlah penyuluh masih terbatas dibandingkan luas wilayah dan jumlah kampung di Fakfak yang mencapai 142 kampung.

Karena itu, pendampingan dilakukan melalui penyuluh yang berada di wilayah masing-masing kelompok tani.

Langkah tersebut penting. Sebab, pertanian bukan hanya soal menanam lalu memanen. Ada persoalan air, teknik budidaya, perawatan, produktivitas hingga pemasaran yang harus dijawab secara bersama-sama.

Kisah Sudarno memberi pelajaran sederhana tetapi kuat.

Lahan tidak harus luas untuk menghasilkan.

Dengan pengelolaan yang baik, satu kebun mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan kilogram sayuran.

Kini pekerjaan rumahnya adalah bagaimana membuat keberhasilan itu tidak berhenti sebagai cerita dari satu kebun.

Jika akses air diperkuat, pendampingan diperluas, lahan produktif ditambah dan pasar terus dijaga, bukan tidak mungkin lebih banyak petani Fakfak mampu melakukan hal yang sama.

Sebab, masa depan pangan Fakfak tidak selalu harus datang dari kapal atau kendaraan pengangkut dari luar daerah.

Bisa jadi, jawabannya justru sedang tumbuh di kebun-kebun petani Fakfak sendiri.
 

Writter & Editor : Den