SPAM TIMIKA DIDUGA HABISKAN LEBIH RP1 TRILIUN, RAKYAT MASIH ANTRE AIR! RP: "KALAU FREEPORT YANG BERESKAN, LALU UANG RAKYAT KE MANA?"

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 26 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

SPAM TIMIKA DIDUGA HABISKAN LEBIH RP1 TRILIUN, RAKYAT MASIH ANTRE AIR! RP:

SPAM TIMIKA DIDUGA HABISKAN LEBIH RP1 TRILIUN, RAKYAT MASIH ANTRE AIR! RP: "KALAU FREEPORT YANG BERESKAN, LALU UANG RAKYAT KE MANA?"

Timika Kabarsulselindonesia.web.id  – Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kabupaten Mimika kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah anggaran yang disebut telah membengkak hingga lebih dari Rp1 triliun, ribuan warga di Kota Timika dan sekitarnya masih bergelut dengan krisis air bersih.27/06/2026

Pengamat daerah yang akrab disapa RP menilai janji pasangan Bupati dan Wakil Bupati Mimika periode 2024–2029 untuk menghadirkan air bersih bagi masyarakat hingga 27 Juni 2026 belum juga menjadi kenyataan.

"Kalau janji kampanye hanya berhenti di panggung politik, masyarakat berhak mempertanyakan keseriusan pemerintah," tegas RP.

Menurut RP, secercah harapan kini justru datang dari PT Freeport Indonesia. Berdasarkan nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, perusahaan tersebut disebut siap mendukung sistem penyediaan dan distribusi air bersih dengan melibatkan tenaga ahli yang berpengalaman.

RP menyebut PT Freeport Indonesia telah lama memiliki fasilitas penampungan air berkapasitas besar di kawasan Checkpoint Kuala Kencana. Menurutnya, pemerintah daerah tinggal membangun jaringan pipa distribusi menuju permukiman warga.

Namun di balik harapan itu muncul pertanyaan yang dinilai jauh lebih besar.

"Kalau nanti Freeport yang akhirnya menyelesaikan proyek air bersih, lalu untuk apa anggaran yang disebut mencapai lebih dari Rp1 triliun itu dihabiskan? Siapa yang akan mempertanggungjawabkannya di hadapan rakyat?" kata RP.

Ia menilai kondisi tersebut layak menjadi perhatian serius aparat penegak hukum apabila ditemukan dugaan penyimpangan dalam penggunaan anggaran proyek.

RP juga mempertanyakan apakah sejak awal proyek SPAM ditangani oleh tenaga ahli yang benar-benar kompeten di bidang sistem distribusi air bawah tanah, atau justru terdapat kelemahan dalam perencanaan maupun pelaksanaannya.

Menurutnya, penjelasan terbuka dari dinas teknis sangat dibutuhkan agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai penyebab belum berfungsinya proyek tersebut.

RP mendesak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap proyek SPAM, termasuk evaluasi atas perencanaan, pelaksanaan, dan penggunaan anggaran, sehingga publik mendapatkan kejelasan mengenai kondisi proyek yang hingga kini belum sepenuhnya memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Jangan sampai rakyat terus membeli air, sementara anggaran yang sangat besar sudah digelontorkan. Kalau memang ada yang salah, harus dibuka terang-benderang. Rakyat berhak tahu," tegas RP.

Menutup keterangannya, RP menyampaikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia apabila benar-benar turut membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat Mimika.

"Bravo Freeport. Yang dibutuhkan rakyat hari ini bukan lagi janji, tetapi air yang benar-benar mengalir ke rumah mereka," pungkasnya.

Editor: Bruce Elang