Asap Karhutla Menekan Fakfak, Dinkes Bagikan 14 Ribu Masker dan Ingatkan Ancaman Gangguan Pernapasan
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bomberay dan Tomage mulai menekan kesehatan masyarakat Kabupaten Fakfak. Dampak karhutla yang semula dirasakan kuat di sekitar wilayah sumber kebakaran, dalam beberapa hari terakhir terbawa angin hingga ke kawasan Kota Fakfak. Asap terasa semakin pekat dan menyengat, membuat kualitas udara warga ikut terdampak.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah mitigasi untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap masyarakat.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan telah melakukan pembagian masker kepada warga di wilayah Bomberay dan Tomage melalui Puskesmas Bomberay dan Puskesmas Tomage. Langkah tersebut dilakukan mengingat kedua wilayah itu merupakan kawasan yang terdampak langsung karhutla.
Namun, ketika efek asap dalam beberapa hari terakhir semakin meluas hingga ke Kota Fakfak, langkah perlindungan diperluas. Sebanyak 14.000 masker kembali disebarkan kepada masyarakat, terutama warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan.
Pembagian masker dilakukan di kawasan Lampu Merah Thumburuni, Fakfak, dengan melibatkan Kepala Dinas Kesehatan Fakfak, dr. Maulana K. Patiran, bersama dokter spesialis, dokter puskesmas dan tim medis.
Masker dibagikan langsung kepada pengguna jalan, baik pengendara sepeda motor maupun masyarakat yang menggunakan kendaraan roda empat. Kehadiran tim medis di tengah aktivitas warga tersebut menjadi bagian dari respons cepat Dinas Kesehatan menghadapi dampak kesehatan akibat memburuknya kondisi udara.
Bagi Dinas Kesehatan, pembagian masker bukan sekadar kegiatan membagikan alat pelindung pernapasan. Langkah itu merupakan bagian dari mitigasi untuk mengurangi paparan asap, sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kabut asap sebagai gangguan biasa.
Dr. Maulana mengatakan paparan asap karhutla perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan. Kelompok tertentu memiliki kerentanan lebih tinggi, terutama penderita asma, anak-anak dan warga lanjut usia.
“Efek kabut asap ini berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan. Orang yang memiliki penyakit bawaan seperti asma tentu lebih berisiko. Anak-anak dan warga usia lanjut juga perlu mendapat perhatian khusus,” kata Maulana kepada media ini.
Menurut Maulana, kewaspadaan masyarakat tidak cukup hanya dengan menggunakan masker. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan juga perlu dikurangi.
Ia mengimbau masyarakat yang tidak memiliki kepentingan mendesak agar mengurangi aktivitas di ruang terbuka. Sementara warga yang harus bepergian di tengah kondisi udara berasap diminta menggunakan masker sebagai salah satu bentuk perlindungan.
Asap dan Kekeringan, Dua Tekanan Kesehatan
Persoalan kesehatan di Fakfak kini tidak hanya berkaitan dengan paparan asap. Kondisi kekeringan yang berlangsung bersamaan turut menjadi perhatian Dinas Kesehatan karena berkaitan dengan ketersediaan dan kualitas air bagi masyarakat.
Maulana menyebut terdapat pasien yang datang ke rumah sakit maupun puskesmas dengan sejumlah keluhan penyakit, antara lain pneumonia dan diare. Kondisi tersebut, terutama pada anak-anak dan kelompok lanjut usia, membutuhkan perhatian lebih serius.
“Selain gangguan pernapasan, kekeringan juga menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap ketersediaan air dan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat. Ini dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diare,” ujarnya.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan. Ketika asap bergerak mengikuti arah angin dan kekeringan membatasi ketersediaan air, dampaknya dapat menjalar langsung ke ruang kesehatan masyarakat.
Karena itu, Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kabut asap sebagai gangguan biasa.
Penggunaan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, memastikan konsumsi air yang aman serta segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan pernapasan menjadi langkah yang ditekankan kepada masyarakat.
Bagi penderita asma dan penyakit pernapasan lainnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Demikian pula bagi anak-anak dan lansia yang secara umum lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.
“Kalau tidak ada aktivitas yang terlalu penting, sebaiknya masyarakat tidak perlu keluar rumah. Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakan masker,” kata Maulana.
14 Ribu Masker di Tengah Udara yang Tak Lagi Biasa
Pembagian 14.000 masker di kawasan Thumburuni memperlihatkan bahwa dampak karhutla telah berkembang menjadi persoalan yang membutuhkan respons kesehatan secara langsung.
Respons itu tidak dimulai ketika asap tiba di pusat kota. Dinas Kesehatan sebelumnya telah mengerahkan Puskesmas Tomage dan Puskesmas Bomberay untuk memberikan perlindungan kepada warga di wilayah yang menjadi lokasi terdampak karhutla. Ketika asap kemudian meluas dan dirasakan semakin pekat hingga Kota Fakfak, langkah mitigasi diperluas kepada masyarakat perkotaan.
Di tengah lalu lintas warga yang terus bergerak, tim medis membagikan masker satu per satu kepada pengendara dan masyarakat. Pesannya sederhana: perlindungan kesehatan perlu dilakukan sebelum paparan asap berkembang menjadi gangguan kesehatan.
Bagi Dinas Kesehatan, pencegahan menjadi penting karena dampak paparan asap tidak selalu langsung terasa. Terlebih ketika karhutla berlangsung dalam waktu panjang dan kondisi kering masih menyelimuti sejumlah wilayah.
Asap yang terlihat sebagai kabut di udara pada akhirnya dapat berubah menjadi persoalan kesehatan yang lebih serius ketika paparan berlangsung terus-menerus.
Karena itu, di tengah penanganan karhutla di Bomberay dan Tomage, perlindungan kesehatan warga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Api memang harus dipadamkan, tetapi masyarakat yang berada di bawah kepungan asap juga harus mendapatkan perlindungan.
Dinas Kesehatan Fakfak memilih bergerak dari titik paling dekat dengan masyarakat: mulai dari wilayah terdampak langsung di Bomberay dan Tomage melalui puskesmas, hingga kawasan perkotaan ketika asap mulai menekan ruang hidup warga.
Sebanyak 14.000 masker dibagikan. Namun pesan yang dibawa jauh lebih besar: ketika asap belum sepenuhnya pergi, menjaga kesehatan warga tidak bisa menunggu sampai penyakit datang.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook