Yanuarius Tuturop Gaungkan Sasi Kerakera: Pala Bukan Sekadar Buah, tetapi Martabat Negeri
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Bunyi pesan adat dari Kampung Sipatnanam kali ini membawa makna yang jauh melampaui dimulainya musim pemetikan pala.
Di balik pembukaan Sasi Kerakera, terselip sebuah seruan untuk kembali menjaga apa yang selama ini menjadi sumber kehidupan, warisan leluhur, sekaligus identitas masyarakat Fakfak: pala.
Kepala Kampung Sipatnanam, Yanuarius Tuturop, tak ingin Sasi Kerakera hanya dipahami sebagai penanda bahwa masyarakat sudah boleh masuk kebun dan memetik pala. Baginya, prosesi adat tersebut harus menjadi ruang untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga mutu, merawat pohon, menghormati adat, dan mempertahankan harga diri negeri.
“Pesan saya kepada kita semua, mari sama-sama menjaga apa yang telah dititipkan kepada kita. Ini bukan hanya soal pala, tetapi menyangkut harga diri dan martabat negeri ini. Kita harus menjaga tradisi dan prosesi adat yang telah diwariskan kepada kita,” tegas Yanuarius.
Pesan itu terdengar sederhana. Namun, di tengah perubahan zaman dan semakin terbukanya pasar, maknanya menjadi semakin penting.
Pala bukan sekadar komoditas.
Bagi masyarakat Fakfak, pala adalah bagian dari perjalanan hidup. Pohonnya tumbuh bersama generasi. Buahnya membiayai kebutuhan keluarga. Kebunnya diwariskan dari orang tua kepada anak-anak. Bahkan, dalam perjalanan panjang masyarakat, pala telah menjelma menjadi salah satu penanda identitas negeri.
Karena itu, Yanuarius mengingatkan bahwa menjaga pala berarti menjaga lebih dari sekadar hasil panen.
Menjaga pala berarti menjaga jati diri.
Ia menegaskan, persoalan mutu dan kualitas pala tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat, terutama para pemilik kebun dan anak-anak negeri, memiliki tanggung jawab yang sama besar untuk memastikan warisan tersebut tidak kehilangan nilai.
“Kalau kita menghargai pala, berarti kita menghargai jati diri dan budaya kita. Karena itu, kebiasaan-kebiasaan baik dalam merawat dan menjaga pohon pala harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Jangan Hanya Kejar Panen
Di tengah kebutuhan ekonomi yang semakin besar, godaan untuk memetik pala sebelum benar-benar matang selalu ada.
Di sinilah Sasi Kerakera kembali menemukan relevansinya.
Adat sesungguhnya telah lebih dahulu mengajarkan masyarakat tentang kesabaran. Ada waktu ketika pala harus dibiarkan tumbuh. Ada masa ketika kebun harus dijaga. Dan ada saat ketika buah benar-benar layak dipetik.
Bagi Yanuarius, prinsip itu tidak boleh hilang hanya karena masyarakat ingin mengejar hasil dalam waktu singkat.
Pala yang dipanen harus benar-benar tua dan matang. Penanganannya pun harus dilakukan dengan baik agar mutu tetap terjaga.
Sebab, harga yang baik tidak akan bertahan tanpa kualitas yang baik.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah kualitas pala yang baik. Kalau kita menjaga mutu pala, maka kita juga menjaga nilai dan harga dari hasil yang kita miliki,” katanya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan dengan terbukanya peluang pasar bagi masyarakat.
Dalam momentum pembukaan Sasi Kerakera, masyarakat juga mendapat kabar baik mengenai adanya pembeli lokal yang siap menyerap pala tua sesuai standar dengan harga sekitar Rp600 ribu per 1.000 biji.
Bagi Yanuarius, peluang itu harus menjadi dorongan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas, bukan justru menjadi alasan untuk mengabaikan standar.
Persaingan antar-pembeli, menurut dia, seharusnya membuka ruang bagi petani dan pemilik kebun untuk mendapatkan harga yang lebih layak.
Namun, semua itu harus dimulai dari kebun.
Dari pohon yang dirawat.
Dari buah yang dibiarkan matang.
Dan dari kesadaran bahwa kualitas adalah jalan untuk menjaga nilai pala Fakfak.
Adat Jangan Tinggal Cerita
Yanuarius melihat Sasi Kerakera sebagai bukti bahwa masyarakat adat sejak dahulu telah memiliki cara sendiri dalam mengatur hubungan dengan alam.
Sebelum istilah keberlanjutan ramai dibicarakan, masyarakat telah mengenal aturan kapan hasil alam boleh diambil dan kapan harus dibiarkan.
Sebelum kualitas menjadi tuntutan pasar, adat telah mengajarkan tentang kesabaran dalam menunggu hasil yang benar-benar siap dipanen.
Karena itu, menurut Yanuarius, pengembangan pala Fakfak tidak boleh memisahkan ekonomi dari adat dan budaya.
“Adat dan budaya harus menjadi landasan dalam pengembangan pala. Kita harus menjaga apa yang sudah diwariskan kepada kita dan menjadikannya dasar untuk memperbaiki kehidupan masyarakat,” katanya.
Ia berharap tokoh adat, pemerintah kampung, keluarga pemilik kebun, hingga generasi muda dapat bersama-sama menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut.
Bahkan, Yanuarius memiliki gagasan agar ke depan ada kegiatan adat khusus yang memberikan penghormatan kepada pohon pala.
Bukan sekadar seremoni.
Tetapi sebuah ruang pendidikan budaya.
Anak-anak diajak mengenal kebun. Keluarga kembali merawat pohon. Masyarakat mengucap syukur atas hasil yang diberikan alam.
Dengan cara itu, generasi muda tidak hanya mengenal pala sebagai buah yang bisa dijual.
Mereka harus memahami bahwa di balik sebutir pala, terdapat sejarah panjang, kerja keras keluarga, kearifan leluhur, dan identitas negeri.
“Anak-anak harus tahu kenapa pala ini terus kita jaga. Karena pala itu menyangkut citra dan jati diri anak negeri serta budaya kita,” tutur Yanuarius.
Menjaga Pohon, Menjaga Masa Depan
Bagi Kepala Kampung Sipatnanam itu, pohon pala bukan sekadar tanaman yang berdiri di kebun.
Di bawah naungannya, ada kehidupan keluarga.
Ada biaya pendidikan anak.
Ada kebutuhan rumah tangga.
Ada harapan masa depan.
Karena itu, merawat pohon pala sejatinya adalah investasi untuk generasi berikutnya.
Yanuarius berharap kesadaran tersebut dapat tumbuh mulai dari rumah dan keluarga. Para orang tua tidak hanya mewariskan kebun kepada anak-anaknya, tetapi juga mewariskan cara menghargai dan merawat apa yang ada di dalamnya.
“Kalau kita bisa membuat satu acara khusus untuk pohon pala, memberikan penghormatan, merawatnya, mengucap syukur dan berdoa atas hasil yang diberikan, itu akan menjadi pengalaman yang baik bagi anak-anak kita,” ujarnya.
Gagasan itu menunjukkan bahwa perjuangan menjaga pala Fakfak tidak cukup hanya berbicara tentang produksi dan harga.
Ada pekerjaan yang lebih mendasar: menjaga hubungan masyarakat dengan pohon pala itu sendiri.
Ketika masyarakat mulai melihat pala hanya sebagai barang dagangan, maka ada risiko nilai-nilai yang selama ini menjaganya perlahan terkikis.
Tetapi ketika pala tetap dipandang sebagai warisan, maka masyarakat memiliki alasan yang lebih kuat untuk menjaga kualitasnya.
Sasi Kerakera, Alarm untuk Bangkit
Pembukaan Sasi Kerakera di Kampung Sipatnanam akhirnya menjadi lebih dari sekadar pembukaan musim petik.
Prosesi itu menjadi semacam alarm.
Alarm bahwa pala Fakfak harus terus dijaga.
Bukan hanya oleh pemerintah.
Bukan hanya oleh tokoh adat.
Tetapi oleh seluruh masyarakat yang hidup dan bertumbuh bersama warisan tersebut.
Yanuarius mengajak keluarga pemilik kebun untuk tidak hanya menghitung berapa banyak pala yang dapat dipanen. Mereka juga diminta memperhatikan bagaimana pala itu dipetik, apakah buahnya sudah cukup matang, bagaimana penanganannya, hingga bagaimana pohonnya tetap dirawat untuk masa depan.
Sebab, keberlanjutan pala Fakfak sangat bergantung pada kesadaran masyarakat sebagai pemilik sekaligus pewaris kekayaan tersebut.
“Pesan saya untuk kita semua, mari sama-sama menjaga apa yang sudah dititipkan kepada kita. Karena yang kita jaga ini bukan hanya hasil pala, tetapi harga diri, martabat dan jati diri negeri kita,” tegasnya.
Dari Kampung Sipatnanam, pesan itu pun mengalir lebih jauh.
Bahwa pala bukan sekadar buah.
Ia adalah warisan.
Ia adalah sumber kehidupan.
Ia adalah identitas.
Dan melalui Sasi Kerakera, masyarakat kembali diingatkan bahwa menjaga pala berarti menjaga adat, menjaga budaya, menjaga ekonomi keluarga, sekaligus menjaga masa depan.
Sebab, ketika pohon-pohon pala tetap dirawat dan buah terbaiknya dipanen dengan penuh kesadaran, yang dipertahankan sesungguhnya bukan hanya nilai jual di pasar.
Yang sedang dijaga adalah harga diri sebuah negeri.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook