Bebaskan Perempuan Papua dari Kekerasan: Menyelamatkan Martabat, Menjaga Masa Depan Bangsa

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 27 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Bebaskan Perempuan Papua dari Kekerasan: Menyelamatkan Martabat, Menjaga Masa Depan Bangsa

Bebaskan Perempuan Papua dari Kekerasan: Menyelamatkan Martabat, Menjaga Masa Depan Bangsa

Oleh: Emil E. Wakei (Dewan Rakyat)

TIMIKA, Papua Tengah Kabarsulselindonesia.web.id – Kekerasan terhadap perempuan Papua bukan sekadar persoalan rumah tangga atau kasus kriminal semata. Persoalan ini telah menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan generasi, ketahanan keluarga, serta masa depan masyarakat Papua. Ketika perempuan kehilangan rasa aman, sesungguhnya yang ikut terancam adalah masa depan sebuah bangsa.

Dalam pandangan Emil E. Wakei, perempuan Papua memiliki peran yang tidak tergantikan sebagai sumber kehidupan, penjaga nilai-nilai budaya, sekaligus fondasi utama lahirnya generasi penerus.28/07/2026

"Perempuan Papua bukan hanya melahirkan anak, tetapi juga melahirkan identitas, karakter, dan masa depan. Dari tangan seorang mama Papua, bahasa daerah diajarkan, nilai adat diwariskan, dan kasih sayang ditanamkan kepada generasi berikutnya," ujarnya.

Menurutnya, perempuan merupakan pilar utama yang menjaga keseimbangan kehidupan keluarga maupun masyarakat. Ketika perempuan hidup dengan aman, sehat, dan bermartabat, maka pembangunan manusia Papua memiliki fondasi yang kokoh.

Kekerasan Harus Menjadi Musuh Bersama

Emil menilai berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius. Kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis, hingga diskriminasi dalam kehidupan sosial sama-sama meninggalkan dampak panjang bagi korban dan keluarganya.

"Kekerasan tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga menghancurkan rasa percaya diri, merusak masa depan anak-anak, dan meninggalkan trauma yang dapat berlangsung bertahun-tahun. Karena itu, tidak boleh ada ruang bagi kekerasan terhadap perempuan di Papua," tegasnya.

Ia menambahkan, perempuan yang hidup dalam ketakutan akan lebih sulit mengembangkan potensi diri maupun memberikan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.

Perempuan Papua Harus Dilindungi dan Diberdayakan

Selain perlindungan hukum, Emil menilai perempuan Papua juga harus memperoleh akses yang setara terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan ekonomi, dan ruang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat.

Menurutnya, perempuan yang sehat, terdidik, dan mandiri akan melahirkan generasi yang lebih kuat, cerdas, serta mampu menjaga jati diri Papua di tengah perkembangan zaman.

"Perempuan Papua harus diberikan ruang untuk berkembang, bukan dibatasi oleh kekerasan, diskriminasi, maupun rasa takut," katanya.

Laki-laki Papua Diajak Menjadi Pelindung, Bukan Pelaku Kekerasan

Emil juga mengajak kaum laki-laki Papua mengambil peran sebagai pelindung dan mitra sejajar bagi perempuan.

Menurutnya, menghormati perempuan bukan sekadar kewajiban moral, tetapi juga investasi bagi masa depan Papua.

"Kejantanan tidak diukur dari kemampuan menguasai perempuan, melainkan dari keberanian melindungi, menghormati, dan memperlakukan perempuan dengan penuh martabat," ujarnya.

Tanggung Jawab Bersama

Ia menegaskan bahwa upaya menghapus kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah, lembaga adat, tokoh agama, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, media massa, dan seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.

Menurutnya, penegakan hukum harus berjalan adil, korban harus memperoleh perlindungan dan pendampingan, sementara masyarakat harus menghentikan budaya menyalahkan korban.

Merawat Perempuan, Menjaga Papua

Di akhir pernyataannya, Emil mengajak seluruh masyarakat Papua menjadikan penghormatan terhadap perempuan sebagai gerakan bersama.

"Papua yang kuat dimulai dari keluarga yang kuat. Keluarga yang kuat lahir dari perempuan yang dihormati, dilindungi, dan diberi kesempatan untuk berkembang. Membebaskan perempuan dari kekerasan berarti menjaga masa depan Papua tetap hidup," pungkasnya.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bergandengan tangan membangun Papua yang damai, adil, dan bermartabat, di mana setiap perempuan dapat hidup tanpa rasa takut serta memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi bagi kemajuan daerah dan generasi penerus.

Penulis: Emil E. Wakei (Dewan Rakyat)

Editor: Bruce Elang