HAPAK HADIR SEBAGAI BENTENG PERLINDUNGAN DAN PENYAMBUNG LIDAH PENGUSAHA LOKAL AMUNGME-KAMORO
HAPAK HADIR SEBAGAI BENTENG PERLINDUNGAN DAN PENYAMBUNG LIDAH PENGUSAHA LOKAL AMUNGME-KAMORO
TIMIKA, PAPUA TENGAH Kabarsulselindonesia.web.id — Di tengah derasnya arus investasi dan proyek bernilai miliaran rupiah di Kabupaten Mimika, suara pengusaha asli Amungme dan Kamoro selama ini dinilai nyaris tenggelam.
Ketimpangan ekonomi yang terus melebar akhirnya melahirkan perlawanan baru lewat wadah perjuangan bernama Honai Pengusaha Amungme Kamoro (HAPAK).13/05/2026
Melalui Koordinator Humas, DIANU OMALENG, HAPAK secara tegas menyatakan diri sebagai benteng perlindungan sekaligus penyambung lidah bagi pengusaha lokal yang selama bertahun-tahun merasa dipinggirkan di tanah adatnya sendiri.
Kehadiran HAPAK bukan tanpa alasan. Organisasi ini lahir dari realita pahit yang dirasakan masyarakat adat Amungme dan Kamoro, ketika proyek-proyek besar, arus investasi, hingga perputaran ekonomi strategis lebih banyak dinikmati kelompok bermodal kuat dari luar daerah, sementara pengusaha lokal hanya menjadi penonton di atas tanah ulayat mereka sendiri.
Di tengah gencarnya pembangunan di Bumi Amungsa dan Mimika Wee, pelaku usaha asli Papua justru dinilai terus berhadapan dengan tembok birokrasi, keterbatasan akses modal, hingga praktik persaingan yang tidak seimbang.
“Selama ini pemilik negeri justru dipaksa berdiri di pinggir jalan melihat orang lain menikmati hasil dari tanah mereka sendiri. HAPAK hadir untuk menghentikan ketidakadilan itu,” tegas perwakilan HAPAK.
Menurut HAPAK, dominasi pemilik modal besar telah mempersempit ruang hidup pelaku usaha mikro dan menengah berbasis masyarakat adat. Situasi ini dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut harga diri dan hak masyarakat adat untuk ikut menentukan arah pembangunan di wilayahnya sendiri.
Karena itu, HAPAK menegaskan tidak akan tinggal diam terhadap praktik-praktik yang dinilai menutup peluang bagi pengusaha lokal.
Organisasi ini juga membawa misi besar untuk mematahkan stigma lama yang selama ini melekat terhadap pengusaha asli Papua — dianggap tidak mampu, tidak profesional, dan tidak siap bersaing dalam sektor industri maupun jasa.
“HAPAK ingin membuktikan bahwa anak-anak Amungme dan Kamoro mampu berdiri sejajar. Yang kami minta bukan belas kasihan, tetapi kesempatan yang adil,” ujar DIANU OMALENG.
Sebagai langkah konkret, HAPAK menyatakan siap melakukan pengawasan terhadap distribusi proyek pemerintah maupun pola kemitraan swasta agar kebijakan afirmasi benar-benar dirasakan pengusaha asli daerah, bukan hanya menjadi slogan politik di atas kertas.
Di tengah meningkatnya tuntutan keadilan ekonomi di Papua Tengah, kemunculan HAPAK menjadi sinyal bahwa masyarakat adat mulai membangun kekuatan sendiri untuk melawan marginalisasi ekonomi yang selama ini dianggap terus berlangsung secara sistematis.
(*****)

























Komentar via Facebook