Dari NIB hingga Sertifikasi Halal, Tim 7 Ekspedisi Patriot Membuka Jalan UMKM Fakfak Naik Kelas
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Usaha kecil tidak selalu berhenti karena kekurangan produk. Tak jarang, persoalannya justru berada pada hal yang lebih mendasar: legalitas, standar produk, dan kemampuan menembus pasar.
Di titik itulah Tim 7 Ekspedisi Patriot hadir di Fakfak.
Pada 28 September 2026, tim tersebut mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memahami sekaligus menyiapkan sejumlah kebutuhan legalitas usaha dan produk, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), perizinan produk pangan hingga sertifikasi halal.
Kegiatan yang berlangsung di Aula SMKN 2 Fakfak itu diikuti 40 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM serta siswa-siswi sekolah tersebut.
Pendampingan itu tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan sosialisasi. Tim 7 mendorong agar pelaku usaha memahami legalitas sebagai bagian dari fondasi bisnis bukan sekadar dokumen administratif yang harus dipenuhi.
Bagi UMKM, NIB dan legalitas produk dapat menjadi pintu masuk menuju tata kelola usaha yang lebih tertib sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Sekretaris Distrik Tomage-Bomberay, John Soleman Lolopayung, mengatakan kebutuhan terhadap pendampingan masih cukup besar karena sebagian pelaku UMKM belum memahami tahapan pengurusan legalitas.
“Legalitas sangat penting bagi pelaku UMKM. Dengan memiliki NIB dan legalitas produk yang sesuai, usaha masyarakat menjadi lebih tertata dan memiliki dasar yang jelas. Ini juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produknya,” ujar John.
Menurut dia, keberadaan pendamping tidak hanya membantu masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga mendorong agar proses tersebut benar-benar dilanjutkan sampai tahap pengurusan.
“Kami mengapresiasi Tim 7 yang memberikan pendampingan secara langsung. Harapannya, masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi benar-benar dapat melanjutkan proses pengurusan legalitas usahanya. Kami berharap program seperti ini dapat terus berlanjut,” katanya.
Ketua Tim 7 Ekspedisi Patriot, Dr. Siti Nurhasanah, mengatakan penguatan UMKM tidak cukup dilakukan dengan memberikan pelatihan sesaat. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengembangkan potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan.
“Kami melihat banyak potensi usaha masyarakat yang sebenarnya sangat baik. Karena itu, kami tidak hanya memberikan workshop, tetapi juga melakukan pendampingan agar pelaku usaha memahami proses legalitas, mulai dari NIB, perizinan produk pangan, hingga halal,” ujar Siti.
Menurut dia, legalitas perlu berjalan beriringan dengan peningkatan mutu dan diversifikasi produk.
Di Fakfak, peluang itu terbuka dari bahan pangan lokal yang selama ini telah dekat dengan kehidupan masyarakat, antara lain sagu dan jagung.
“Kami juga melihat potensi sagu dan jagung yang sangat besar. Bahan baku tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan sehingga memiliki nilai tambah,” katanya.
Bagi Tim 7, pengembangan produk lokal tidak berhenti pada bagaimana bahan baku diolah menjadi pangan baru. Produk tersebut perlu memiliki kualitas yang baik, legalitas yang memadai, dan pada akhirnya mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Ketika produknya berkembang, kualitasnya diperbaiki, dan legalitasnya dilengkapi, peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas juga semakin terbuka,” ujar Siti.
Pendekatan itu kemudian dipertautkan dengan keberadaan Laboratorium Teaching Industry SMKN 2 Fakfak yang diresmikan dalam rangkaian kegiatan yang sama.
Laboratorium tersebut diarahkan bukan hanya sebagai fasilitas pembelajaran bagi siswa. Tim 7 menyiapkan sejumlah peralatan yang dapat digunakan untuk mendukung pengembangan dan diversifikasi produk.
Dengan begitu, sekolah berpeluang menjadi titik temu antara pendidikan vokasi, inovasi produk, dan kebutuhan pelaku UMKM.
Kepala SMKN 2 Fakfak, Muhammad Nashir, S.Pd., berharap fasilitas tersebut tidak berhenti menjadi infrastruktur sekolah.
“Kami berharap apa yang telah dimulai bersama Tim 7 dapat terus berlanjut. Laboratorium yang ada dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk siswa, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dengan pelaku UMKM dan masyarakat. Dengan demikian, manfaat program ini dapat terus dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Muhammad Nashir.
Kolaborasi itu juga mendapat dukungan dari Kapolsek Bomberay-Tomage, Iptu Dodik Junaidi, S.Sos., M.H.
“Kami sangat mendukung kegiatan yang memberikan dampak positif kepada masyarakat. Kami siap mendukung dari sisi keamanan dan ketertiban agar seluruh kegiatan dapat berjalan dengan aman dan kondusif,” kata Dodik.
Menurut dia, keberlanjutan program membutuhkan kerja bersama antara masyarakat, pemerintah, sekolah, panitia, dan aparat.
Rangkaian kegiatan Tim 7 Ekspedisi Patriot tersebut turut mendapat dukungan PT Rimbun Sawit Papua dan Lampu Kita.
Yang menarik dari program ini bukan semata jumlah peserta atau peralatan yang diserahkan. Nilainya justru terletak pada upaya menyambungkan beberapa mata rantai yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: legalitas usaha, mutu produk, pendidikan vokasi, pengolahan bahan pangan lokal, hingga akses pasar.
Dari NIB, pelaku usaha diperkenalkan pada pentingnya legalitas produk. Dari laboratorium sekolah, siswa dan masyarakat memperoleh ruang untuk belajar mengolah bahan lokal menjadi produk bernilai tambah.
Sementara sagu dan jagung menawarkan bahan baku yang dapat dikembangkan lebih jauh.
Di situlah agenda pendampingan UMKM menemukan maknanya: bukan sekadar membantu pelaku usaha mengurus dokumen, melainkan menyiapkan fondasi agar usaha masyarakat Fakfak dapat tumbuh dengan produk yang lebih siap, tata kelola yang lebih tertib, dan peluang pasar yang lebih terbuka.
Bagi Tim 7 Ekspedisi Patriot, keberhasilan program pada akhirnya tidak diukur dari berakhirnya acara di aula sekolah. Ukurannya adalah apa yang masih bergerak setelah tim meninggalkan Fakfak ketika sekolah terus menggunakan laboratoriumnya, pelaku UMKM melanjutkan legalitas produknya, dan bahan pangan lokal mulai menemukan bentuk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Editor : Den

























Komentar via Facebook