Perluasan 50 Hektare Pala Tomandin di Fakfak: Dari Werba Raya dan Malakuli, Asa Besar Komoditas Warisan Negeri

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 15 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Perluasan 50 Hektare Pala Tomandin di Fakfak: Dari Werba Raya dan Malakuli, Asa Besar Komoditas Warisan Negeri

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tanah yang sejak berabad silam dikenal sebagai penghasil rempah berharga, Pemerintah Kabupaten Fakfak kembali menegaskan arah masa depannya: pala bukan sekadar tanaman warisan, melainkan poros ekonomi daerah yang harus dikelola secara modern, terencana, dan berkelanjutan.

Melalui program Perluasan Pala Unggul Daerah seluas 50 hektare, pemerintah memfokuskan pengembangan di Distrik Fakfak Barat dan Distrik Karas. Dua kampung menjadi episentrum gerakan ini: Werba Raya dan Malakuli. Di sanalah, semangat membangun kebun pala unggul bertemu dengan kesadaran kolektif petani untuk meningkatkan mutu dan daya saing komoditas kebanggaan mereka.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar menambah luas tanam, melainkan memperkuat fondasi kelembagaan petani dan kualitas produksi.

“Pala adalah identitas Fakfak. Kita ingin memastikan komoditas ini dikelola secara profesional, menggunakan bibit unggul, teknik budidaya yang tepat, serta penanganan pascapanen yang baik agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya dalam sosialisasi di Werba Raya.
 

Fokus Kelompok, Perkuat Kelembagaan

Pendekatan berbasis kelompok menjadi strategi utama. Di Kampung Werba Raya, pengembangan kebun dilakukan melalui Kelompok Hemengpeh dengan luas 20 hektare, melibatkan 20 Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL). Sementara di Kampung Malakuli, pengembangan seluas 30 hektare digerakkan oleh empat kelompok: Depurin, Nusa Bona, Tanistuping, dan Kasir.

Model ini dirancang untuk memperkuat kelembagaan, memudahkan pembinaan, serta memastikan pendampingan berjalan efektif. Pemerintah ingin memastikan setiap hektare yang ditanam bukan hanya bertambah secara kuantitas, tetapi juga meningkat secara kualitas.
 

Mutu dan Hilirisasi Jadi Kunci

Dalam sosialisasi tersebut, pemerintah menekankan bahwa masa depan pala Fakfak sangat bergantung pada kualitas. Petani didorong memahami teknik budidaya yang baik, mulai dari pemilihan bibit hingga proses pascapanen pengeringan, penyortiran biji dan fuli yang menentukan nilai jual di pasar.

Selama ini, pala Fakfak dikenal memiliki karakteristik khas dan mutu tinggi. Namun, tantangan pasar menuntut standar yang semakin ketat. Karena itu, peningkatan kualitas menjadi agenda utama.

Di saat yang sama, pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada hilirisasi. Pala tidak lagi dipandang hanya sebagai bahan mentah untuk dijual keluar daerah. Komoditas ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah, yang dapat memperkuat ekonomi lokal dan membuka peluang usaha baru.
 

Tata Niaga Adil dan Berkelanjutan

Selain produksi, tata niaga menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah menegaskan pentingnya hubungan kemitraan yang sehat antara petani dan pelaku usaha. Petani berhak memperoleh harga yang layak sesuai kualitas produk yang dihasilkan, sementara pasar menuntut standar mutu yang konsisten.

“Kita ingin membangun sistem yang saling menguntungkan. Jika kualitas dijaga, maka kepercayaan pasar terhadap pala Fakfak akan terus meningkat. Di situlah kesejahteraan petani bisa tumbuh secara berkelanjutan,” kata Widhi.
 

Membangun Masa Depan dari Akar Tradisi

Sejak lama, pala telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Fakfak. Ia bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga simbol sejarah dan kebanggaan daerah. Kini, melalui program perluasan pala Tomandin, warisan itu dirawat dengan pendekatan yang lebih modern dan strategis.

Dengan pengelolaan terencana, peningkatan mutu produksi, penguatan kelembagaan petani, serta sistem tata niaga yang adil, Pemerintah Kabupaten Fakfak menaruh harapan besar bahwa pala akan terus berkembang sebagai komoditas unggulan daerah.

Dari Werba Raya dan Malakuli, langkah itu dimulai. Lima puluh hektare mungkin tampak sebagai angka. Namun di baliknya, tersimpan tekad untuk memastikan bahwa pala Fakfak tetap harum di pasar, sekaligus menghadirkan kesejahteraan nyata bagi para petani yang merawatnya dari generasi ke generasi.

 

Writter & Editor : Den