"Masa Depan Ada di Tangan Sendiri" Kisah Inspiratif Wali Kota Bodewin Wattimena di SMP Negeri 4 Ambon

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 08 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

AMBON,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Suasana penuh semangat menyelimuti SMP Negeri 4 Kota Ambon, Kamis (8/10/2026). Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin Wattimena, M.Si., hadir sebagai pembicara inspiratif dalam kegiatan ekstrakurikuler 7 KAIH (Gema Belajar) dengan tema "Aku dan Prestasiku", khusus untuk siswa-siswi Kelas VII.

Dalam pembuka sambutannya, Wali Kota menegaskan komitmen Pemerintah Kota Ambon terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan — mulai dari pemenuhan sarana prasarana, penguatan kapasitas guru, hingga peran aktif komite sekolah.

"Pendidikan tidak hanya soal kecerdasan intelektual. Pembentukan karakter yang baik sama pentingnya. Kita ingin anak-anak Ambon tidak hanya cerdas di kepala, tapi juga kuat di hati," ujarnya.

Wali Kota membuka lembar masa kecilnya yang penuh perjuangan — lahir dan tumbuh besar di Kampung Siwang, Negeri Nusaniwe, dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang tukang, ibunya bekerja serabutan. Rumah tempat tinggalnya berdinding kulit bambu.

"Setiap pagi pukul 04.30 saya sudah berjalan kaki berobor menuju SD Kristen Seri. Bukan karena mau cepat sampai, tapi karena itu satu-satunya jalan saya untuk bisa bersekolah," kenangnya.

Di masa sekolah, ia pernah berjualan es dan kue ke perusahaan demi membeli kebutuhan sekolah. Bukan anak yang selalu juara kelas, namun semangatnya tak pernah padam. Saat naik ke kelas 6 SD, Kepala Sekolah, Bapak Oetuar, memberikan hadiah buku dan pena — sebuah momen sederhana yang menjadi titik balik dan fondasi hidupnya.

"Beliau tidak melihat saya sebagai anak pintar, tapi melihat semangat saya. Itulah yang membuat saya terus berjuang," kenang Wali Kota.

Setelah lulus SMA, ia berniat langsung bekerja, namun jalan Tuhan membawanya lolos seleksi STPDN — satu dari 35 orang yang diterima dari wilayahnya. Meniti karier sebagai ASN selama 31 tahun, dari bawah hingga menjabat Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, hingga akhirnya dipercaya memimpin Kota Ambon sebagai Wali Kota sejak Mei 2022.

Pesan-Pesan Emas untuk Generasi Muda

"Ingat — tidak ada orang tua yang ingin anaknya lebih buruk dari dirinya. Bahkan seorang ayah yang bekerja keras pun berharap anaknya bisa hidup lebih baik. Jangan pernah melawan orang tua. Keberhasilan dimulai dari rumah."

"Kecerdasan bisa diuji, tapi karakter dibentuk oleh proses kehidupan yang tangguh, doa orang tua, dan ketekunan menghadapi ujian."

Wali Kota mengingatkan anak-anak untuk bijak menghadapi tantangan zaman:

-Gunakan media sosial secara positif — jangan sampai menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat

-Jauhi narkoba, miras, dan pergaulan bebas — ini adalah musuh terbesar masa depan generasi muda Ambon

-Jangan merundung atau menghina teman — hargai sesama, karena karakter yang baik terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang lain

"Ada yang bermimpi jadi dokter, ternyata jadi perawat. Bermimpi jadi jenderal, ternyata jadi sersan. Tidak masalah! Bukan soal jabatan apa yang kita dapat, tetapi apakah kita bermanfaat dengan apa yang kita miliki."

"Tidak mungkin semua orang jadi Wali Kota. Tapi ada yang jadi guru, dokter, petani, pengusaha, ayah dan ibu yang baik. Semua itu membangun kota ini. Lakukan yang terbaik di tempatmu berada."

"Masa depan tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki orang tua hari ini. Penentu utamanya adalah dirimu sendiri. Orang tua, guru, dan pemerintah hanyalah pendukung. Mulailah berusaha dari sekarang."

"Kalian yang sekarang berusia 11–13 tahun, di tahun 2045 nanti kalian akan berusia 32 tahun. Kalianlah yang akan memimpin Ambon, Maluku, dan Indonesia. Bangun dirimu mulai hari ini."

Di akhir pertemuan, Wali Kota menutup dengan pesan yang menyentuh hati:

"Hidup itu seperti jalan di persimpangan — kamu yang memilih mau ke mana. Mau jadi baik atau sebaliknya? Pilihan ada di tanganmu. Jangan takut susah, karena dari kesulitan itulah karakter kita ditempa. Ambon Manise butuh kalian — bukan sebagai perusak, tapi sebagai harapan masa depan."

Suasana ditutup dengan tepuk tangan meriah dan semangat baru yang terpancar dari wajah setiap siswa SMP Negeri 4 Ambon — bahwa mimpi itu mungkin, asalkan ada usaha, doa, dan keteguhan hati.

(M.N)