Ketika Siswa Lebih Cepat Mengenal AI daripada Gurunya

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 11 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ketika Siswa Lebih Cepat Mengenal AI daripada Gurunya

Tual,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. 

Oleh: Gerry Ubra, S.Pd., CPSE, Guru SMA Negeri 1 Tual

Ada ironi yang sedang tumbuh diam-diam di ruang kelas kita: siswa sudah bertanya kepada kecerdasan buatan, sementara sebagian guru masih bertanya bagaimana cara menggunakannya.

Perubahan ini bukan cerita masa depan. AI (Artificial Intelligence) sudah berada di tangan peserta didik. Dengan telepon pintar dan koneksi internet, siswa dapat meminta penjelasan materi, mencari ide tulisan, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, menyusun kode, bahkan mendiskusikan soal pelajaran dengan chatbot dalam hitungan detik.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi serius: apakah guru kita sudah siap?

Jangan salah memahami persoalan ini. Guru tidak sedang berlomba dengan siswa untuk menjadi pengguna AI tercepat. Guru juga tidak harus menguasai seluruh aplikasi teknologi yang bermunculan hampir setiap hari. Namun, guru tidak boleh menjadi generasi yang tertinggal ketika peserta didiknya sedang memasuki dunia baru.

Sebab, jika guru tidak memahami AI, maka sekolah berpotensi kehilangan kendali pedagogis atas teknologi yang sudah digunakan siswa.

Guru Tidak Boleh Kalah Sebelum Bertanding

Selama bertahun-tahun, guru ditempatkan sebagai sumber utama pengetahuan. Siswa datang ke kelas untuk memperoleh informasi dari guru. Tetapi era digital telah mengubah pola tersebut.

Hari ini, informasi tidak lagi menunggu guru menjelaskannya di depan kelas. Siswa dapat memperolehnya melalui mesin pencari, video pembelajaran, media sosial, dan AI.

Di sinilah terjadi pergeseran besar dalam profesi guru.

Guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru harus memahami bagaimana informasi diperoleh, bagaimana teknologi bekerja, bagaimana AI menghasilkan jawaban, dan bagaimana siswa dapat menggunakannya secara bertanggung jawab.

Jika tidak, kita akan menghadapi situasi yang cukup mengkhawatirkan: siswa menggunakan AI, tetapi gurunya tidak mampu memeriksa apakah hasil AI tersebut benar atau salah.

Padahal, AI bukanlah sumber kebenaran mutlak.

AI dapat memberikan jawaban yang meyakinkan tetapi keliru. Ia dapat menghasilkan informasi yang tidak sesuai konteks, bias, bahkan menciptakan rujukan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, semakin canggih teknologi, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kemampuan berpikir kritis manusia.

Dan guru seharusnya berada di garis depan dalam kemampuan tersebut.

Jangan Melarang Apa yang Belum Dipahami

Respons sekolah terhadap AI tidak boleh berhenti pada larangan.

Melarang siswa menggunakan AI tanpa memberikan alternatif literasi digital hanya akan menciptakan kesenjangan antara kebijakan sekolah dan realitas kehidupan siswa.

Yang diperlukan adalah pendidikan tentang penggunaan AI yang cerdas dan etis.

Siswa harus diajarkan bahwa AI boleh menjadi alat bantu, tetapi bukan pengganti proses berpikir. Ketika AI memberikan jawaban, siswa harus mampu bertanya: Dari mana informasi ini berasal? Apakah benar? Apa buktinya? Apakah ada sumber lain yang mendukung? Apakah jawaban tersebut sesuai dengan konteks persoalan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran.

Guru pun perlu mengubah cara memberikan tugas. Jika tugas hanya meminta siswa mencari definisi atau membuat rangkuman, AI dapat menyelesaikannya dengan mudah. Tetapi jika tugas meminta siswa mengamati lingkungan, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, membandingkan hasil, mempertahankan argumentasi, dan merefleksikan prosesnya, maka AI justru dapat menjadi alat untuk memperkuat pembelajaran.

Dengan demikian, yang harus berubah bukan hanya teknologi, tetapi juga pedagogi.

Kompetensi Digital Guru Bukan Lagi Pilihan

Peningkatan kompetensi digital guru harus dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar program tambahan.

Pelatihan guru jangan berhenti pada kegiatan mengenalkan aplikasi. Guru perlu dilatih menggunakan teknologi berdasarkan kebutuhan pembelajaran nyata.

Guru Fisika, misalnya, dapat memanfaatkan AI untuk merancang pertanyaan penelitian tentang energi terbarukan yang ditemukan di lingkungan sekitar. Guru Informatika dapat mengintegrasikan AI dengan pembelajaran algoritma dan pemrograman. Guru Bahasa dapat menggunakan AI sebagai mitra diskusi dalam proses menulis, tetapi tetap menempatkan siswa sebagai penulis dan pemilik gagasan.

Artinya, guru tidak perlu menjadi programmer profesional. Yang dibutuhkan adalah literasi AI, literasi digital, kemampuan merancang pembelajaran, dan keberanian untuk terus belajar.

Persoalan menjadi lebih kompleks di daerah yang masih menghadapi keterbatasan internet, perangkat, dan infrastruktur teknologi. Jangan sampai transformasi pendidikan berbasis AI hanya dinikmati sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas lengkap.

Guru di daerah juga harus memperoleh akses pelatihan dan pendampingan yang memadai. Jangan membicarakan revolusi pendidikan digital tanpa membicarakan kesenjangan digital.

Sekolah Harus Menjadi Ruang Belajar Bersama

Ada satu paradigma yang perlu dibangun: dalam menghadapi AI, guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

Guru boleh berkata, “Mari kita cari tahu bersama.”

Kalimat sederhana tersebut justru dapat menjadi awal pembelajaran yang lebih relevan. Guru dan siswa dapat sama-sama mencoba teknologi, menguji jawaban AI, menemukan kesalahan, membandingkan sumber, dan mengambil kesimpulan berdasarkan bukti.

Di situlah pendidikan menemukan kembali maknanya.

Sebab sekolah bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling cepat mengetahui sesuatu. Sekolah adalah tempat manusia belajar bagaimana mengetahui sesuatu dengan benar.

AI mungkin dapat menghasilkan jawaban dalam beberapa detik. Tetapi AI tidak otomatis mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, empati, etika, disiplin, dan kebijaksanaan. Nilai-nilai itulah yang tetap membutuhkan sentuhan manusia.

Karena itu, persoalan sebenarnya bukan ketika siswa lebih cepat mengenal AI daripada gurunya.

Persoalannya adalah ketika guru memilih berhenti belajar.

Kita tidak boleh membiarkan guru menjadi penonton dalam revolusi teknologi yang sedang berlangsung di kelasnya sendiri.

Guru tidak harus lebih cepat daripada AI. Guru juga tidak harus lebih canggih daripada siswanya.

Tetapi guru harus lebih siap membimbing manusia yang hidup bersama teknologi tersebut.

Jika AI semakin cerdas, maka guru harus semakin bijaksana. Jika informasi semakin mudah diperoleh, maka guru harus semakin kuat mengajarkan cara memverifikasi. Dan jika teknologi semakin dekat dengan kehidupan siswa, maka pendidikan harus semakin dekat dengan realitas kehidupan mereka.

Masa depan pendidikan tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak sekolah memiliki teknologi, tetapi oleh seberapa siap gurunya mengubah teknologi menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Karena itu, jangan takut ketika siswa lebih cepat mengenal AI. Takutlah jika guru tidak lagi memiliki kemauan untuk belajar.

(Elang)