Solar Dryer Rp40 Juta Mengubah Cara Mama-Mama Fakfak Mengolah Pala Tomandin

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 25 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Solar Dryer Rp40 Juta Mengubah Cara Mama-Mama Fakfak Mengolah Pala Tomandin

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id| Hilirisasi Pala Tomandin mulai bergerak dari gagasan ke ruang produksi. Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan berkolaborasi dengan Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menyalurkan Solar Dryer Portable untuk memperkuat pengolahan produk turunan pala, terutama manisan pala yang diproduksi kelompok usaha masyarakat.

Bantuan yang bersumber dari APBD Provinsi Papua Barat Tahun Anggaran 2026 itu bernilai sekitar Rp40 juta per unit. Empat kelompok usaha menerima masing-masing satu unit, yakni Kelompok Tomandin Mandiri, Wapur Danaweria, Kembang Empat, dan Merapi Indah. Dua kelompok lain mendapat dukungan peralatan dari Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak. Seluruh bantuan diarahkan untuk memperbaiki mutu pascapanen sekaligus memperkuat mata rantai hilirisasi komoditas perkebunan.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T mengatakan hilirisasi Pala Tomandin tidak boleh berhenti pada penjualan biji pala sebagai bahan mentah. Menurut dia, Dinas Perkebunan saat ini membina enam pilot project UMKM, terdiri atas dua koperasi dan empat kelompok usaha rumahan, sebagai model awal pengembangan produk turunan pala.

“Petani pala tidak hanya menghasilkan biji pala sebagai bahan baku, tetapi juga harus mulai masuk pada pengolahan produk turunan yang memberikan nilai tambah dan membuka peluang pasar baru,” ujar Widhi saat mendampingi tim provinsi mengunjungi lokasi produksi manisan pala.

Transformasi Pengeringan Produk Turunan Pala Tomandin melalui Bantuan Solar Dryer Portable Yang memberikan nilai tambah manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM di Fakfak | Foto Istimewah KSI

Bagi Widhi, Solar Dryer Portable bukan sekadar bantuan peralatan. Teknologi tersebut diharapkan menjawab persoalan pengeringan yang selama ini masih berpotensi bergantung pada kondisi cuaca dan penjemuran terbuka. Proses pengeringan yang lebih terlindungi dapat membantu menjaga kebersihan, keamanan pangan, kualitas dan konsistensi produk sebelum dipasarkan.

Momentum itu menjadi semakin penting karena permintaan terhadap manisan pala mulai terbuka di luar Fakfak. Produk tersebut telah dilirik untuk digunakan sebagai topping atau bahan pelengkap kue sifon pala oleh salah satu bakery di Jakarta. Bagi kelompok usaha, permintaan semacam ini bukan sekadar peluang penjualan, tetapi juga ujian untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga standar mutu secara konsisten.

“Ketika pasar sudah mulai memberikan permintaan, pemerintah harus hadir membantu pelaku usaha menyiapkan kapasitas produksinya. Bantuan alat ini harus benar-benar menjawab kebutuhan pelaku UMKM, bukan berhenti pada penyerahan alat,” kata Widhi.

Dalam kerangka Program Strategis Pala Unggul Fakfak, pengembangan hilirisasi ditempatkan sebagai kelanjutan dari pembenahan sektor hulu mulai produktivitas tanaman, benih, kebun sumber dan peremajaan hingga penguatan pascapanen, pengolahan, pengemasan, standardisasi, kelembagaan usaha dan akses pasar. Dengan pola itu, pala diproyeksikan tidak hanya keluar dari Fakfak sebagai komoditas mentah, tetapi sebagai produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Sementara itu, Lisyanti Yapen, SP, dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, meninjau langsung proses produksi dan pemanfaatan Solar Dryer Portable. Ia melihat serta mencicipi manisan pala yang telah melalui proses pengeringan. Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa dukungan teknologi dapat langsung bertemu dengan kebutuhan produksi masyarakat. Bagi Fakfak, tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan pala, melainkan bagaimana membuat lebih banyak nilai tambah pala tetap tinggal, berputar dan tumbuh menjadi usaha di tanah Tomandin.

 

Writter & Editor : Den