Demi Mahi Tuni, Petani Fakfak Angkut Air Setiap Hari di Tengah Kemarau
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Ketika kemarau mengeringkan tanah dan El Niño menambah tekanan pada perkebunan, Kelompok Siribon memilih tidak menyerah. Deki Mirauga bersama Mama Eva Hegemur mengangkut air dengan jeriken setiap hari demi mempertahankan Tembakau Negeri atau Mahi Tuni di lahan seluas setengah hektare. Setelah sekitar empat bulan perawatan, tanaman kearifan lokal Fakfak itu akhirnya dipanen.
Air yang semestinya tersedia di kebun harus dipikul dari luar. Bagi kelompok ini, setiap jeriken menjadi bagian dari perjuangan menyelamatkan tanaman sekaligus mempertahankan sumber penghidupan keluarga. Perawatan dilakukan rutin karena tanpa pasokan air, tembakau terancam mengering sebelum menghasilkan.
“Kalau tidak dirawat, tanaman bisa kering dan mati. Kami tetap berusaha karena tembakau ini salah satu sumber penghidupan dan bagian dari kearifan lokal yang harus dipertahankan,” kata Deki.
Panen tersebut memperlihatkan ketekunan petani lokal menghadapi tekanan cuaca. Namun, perjuangan mengangkut air setiap hari juga menunjukkan tantangan yang tak bisa terus-menerus dibebankan kepada petani: bagaimana memastikan komoditas lokal tetap bertahan ketika sumber daya untuk merawatnya terbatas?
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., yang hadir dan ikut memanen, mengapresiasi kerja keras Kelompok Siribon. Menurut dia, ketekunan Deki, Mama Eva, dan anggota kelompok membuktikan pentingnya perawatan intensif untuk mempertahankan tanaman di tengah kemarau.
Di luar persoalan budidaya, Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan tengah mendorong penyusunan Peraturan Bupati tentang perlindungan produk kearifan lokal. Salah satu yang menjadi perhatian ialah Mahi Tuni, termasuk keberlanjutan penjualan eceran oleh mama-mama Fakfak, khususnya Orang Asli Papua, yang menggantungkan sebagian aktivitas ekonomi keluarga pada perdagangan tembakau tersebut.
Rancangan aturan itu diharapkan dapat melindungi pelaku usaha lokal sekaligus menjaga keberadaan produk tradisional. Namun, gagasan perlindungan akan lebih bermakna jika diikuti langkah nyata: memperkuat akses air bagi petani, menjaga keberlanjutan produksi, dan memastikan mama-mama penjual memperoleh ruang usaha yang layak.
Panen setengah hektare Kelompok Siribon bukan sekadar kabar tentang tanaman yang berhasil dipetik. Di baliknya ada tenaga yang terkuras, air yang dipikul, dan tradisi yang dipertahankan. Mahi Tuni tetap tumbuh di tengah kemarau. Tantangan berikutnya ialah memastikan perjuangan petani itu tidak berhenti sebagai kisah ketangguhan, melainkan menjadi dasar bagi perlindungan nyata terhadap warisan dan ekonomi lokal Fakfak.
Writter & Editor: Den




























Komentar via Facebook