SKANDAL JEMBATAN WAA–BANTI RP11,8 MILIAR KEMBALI MEMANAS, KLAIM PEMBERI RP700 JUTA MUNCUL, PUBLIK DESAK APARAT BUKA SEMUA FAKTA
SKANDAL JEMBATAN WAA–BANTI RP11,8 MILIAR KEMBALI MEMANAS, KLAIM PEMBERI RP700 JUTA MUNCUL, PUBLIK DESAK APARAT BUKA SEMUA FAKTA
MIMIKA, Kabarsulselindonesia.web.id – Kasus dugaan penyimpangan proyek Jembatan Waa–Banti senilai Rp11,8 miliar kembali memanas. Setelah berbulan-bulan nyaris tanpa kabar perkembangan yang jelas, kini muncul klaim baru yang berpotensi membuka babak lanjutan dalam polemik yang menyita perhatian publik tersebut.
Kata Bodi bahwa dirinya sangat mengetahui proses penanganan perkara menyebut terdapat dugaan aliran dana hingga ratusan juta rupiah yang diduga terkait dengan pihak-pihak tertentu. Bahkan disebutkan bahwa pemberian terakhir yang diklaim terjadi mencapai Rp700 juta,itu selain tranferan dan semua bukti ada di pihak ketiga,05/06/2026
Klaim tersebut hingga saat ini belum dapat diverifikasi secara independen dan belum mendapat tanggapan resmi dari pihak yang disebutkan. Namun kemunculan informasi itu langsung memicu pertanyaan baru di tengah masyarakat: mengapa kasus yang sempat menjadi perhatian publik kini justru terlihat berjalan di tempat?
“Kalau memang tidak ada masalah, buka secara terang perkembangan kasusnya. Kalau ada pihak yang mengaku memiliki bukti, silakan diuji secara hukum,” kata salah satu tokoh masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus tersebut.
Sorotan publik kini tidak hanya tertuju pada proyek yang diduga bermasalah, tetapi juga pada transparansi proses penegakan hukumnya. Masyarakat menilai sikap diam aparat justru membuka ruang spekulasi yang semakin liar.
Lebih jauh, Bodi mengklaim pihak ketiga yang disebut mengetahui alur kasus siap membeberkan dokumen, bukti transfer, dan informasi lain apabila proses hukum kembali bergerak atau jika diminta oleh aparat yang berwenang. Pernyataan itu membuat tekanan publik terhadap aparat penegak hukum semakin besar.
Proyek Jembatan Waa–Banti sendiri menjadi perhatian karena nilai anggarannya yang mencapai Rp11,8 miliar. Publik mempertanyakan pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut, terutama terkait progres pekerjaan dan hasil yang diterima masyarakat.
Desakan kini mengarah kepada Kapolda Papua Tengah dan Mabes Polri agar memastikan penanganan perkara berjalan secara profesional, transparan, dan bebas dari intervensi pihak mana pun.
Masyarakat menilai, jika benar terdapat bukti-bukti yang selama ini belum terungkap, maka seluruh pihak yang terkait harus diperiksa tanpa pandang bulu. Sebaliknya, jika tudingan yang beredar tidak memiliki dasar hukum yang kuat, aparat juga perlu menjelaskannya secara terbuka agar tidak menjadi bola liar yang terus menggerus kepercayaan publik.
Kasus Jembatan Waa–Banti kini tidak lagi dipandang sekadar persoalan proyek fisik. Bagi sebagian masyarakat, perkara ini telah menjadi ujian terhadap komitmen penegakan hukum, transparansi, dan keberanian aparat dalam mengusut dugaan penyimpangan yang menyangkut uang rakyat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Polres Mimika belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus maupun klaim yang beredar di tengah masyarakat.
Editor: Bruce ElangVersi

























Komentar via Facebook