Pemuda Muslim Mimika Desak Pemerintah Tambah Kuota Haji:

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 05 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pemuda Muslim Mimika Desak Pemerintah Tambah Kuota Haji:

Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Antrean Puluhan Tahun Dinilai Tak Masuk Akal.Aspirasi keras datang dari kalangan pemuda Muslim di Kabupaten Mimika. Mereka mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Agama Republik Indonesia, untuk segera memperjuangkan penambahan kuota haji yang dinilai sudah tidak sebanding dengan lonjakan jumlah pendaftar.

Desakan ini bukan tanpa alasan. Di Mimika, waktu tunggu keberangkatan haji bisa mencapai puluhan tahun—sebuah kondisi yang oleh para pemuda disebut sebagai “krisis akses ibadah” yang tak kunjung diselesaikan.

“Ibadah haji itu soal kemampuan, bukan soal siapa yang sanggup menunggu paling lama,” ujar salah satu perwakilan pemuda Muslim Mimika.

Antrean Panjang, Harapan Terkatung

Tingginya minat masyarakat untuk menunaikan rukun Islam kelima tidak diimbangi dengan ketersediaan kuota. Akibatnya, banyak calon jamaah harus menghadapi ketidakpastian, bahkan berisiko batal berangkat karena faktor usia dan kesehatan.

Situasi ini memunculkan kritik bahwa sistem distribusi kuota haji saat ini belum sepenuhnya mencerminkan prinsip keadilan, terutama bagi wilayah Indonesia timur yang kerap merasa tertinggal dalam akses layanan keagamaan.

Bukan Sekadar Kuota, Tapi Soal Keadilan

Pemuda Muslim Mimika menegaskan bahwa tuntutan ini bukan sekadar permintaan administratif, melainkan soal pemerataan hak beribadah.           

Mereka menilai negara harus hadir memastikan bahwa setiap warga memiliki peluang yang sama untuk menunaikan haji, tanpa terhambat oleh panjangnya antrean yang tidak rasional.

Sorotan juga diarahkan pada perlunya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk tidak sekadar menjadi penonton.                

Koordinasi aktif dengan pemerintah pusat dianggap krusial agar kepentingan masyarakat Mimika benar-benar diperjuangkan dalam penentuan kuota nasional.

Ujian Respons Pemerintah

Kini, bola berada di tangan pemerintah.                  

Apakah aspirasi dari daerah seperti Mimika akan benar-benar didengar, atau kembali tenggelam dalam wacana tahunan tanpa realisasi?

Bagi para pemuda Muslim di Mimika, jawabannya akan menjadi penentu: apakah negara hadir sebagai fasilitator ibadah, atau justru membiarkan umatnya menunggu tanpa kepastian.

(Elang)