11 Solar Dryer Pala Dibedah, Pemerintah Kejar Mutu Pala Fakfak
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pala bagi masyarakat Fakfak bukan sekadar hasil kebun. Komoditas ini menopang ekonomi sekaligus menjadi bagian dari warisan yang terus dipertahankan. Namun mutu pala tidak hanya ditentukan di kebun. Proses setelah panen ikut menentukan harga.
Persoalan itu mendorong Pemerintah Kabupaten Fakfak menghidupkan kembali fasilitas Solar Dryer atau pengering pala yang kondisinya mulai menurun.
Sebanyak 11 unit kontainer Solar Dryer bantuan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada 2023 tersebar di Kampung Kuagas, Unipokpok, Mamur, Werabuan, Pirma, Sakartemen, Ubadari, Kramongmongga, Kiat, Wartutin, dan Wurkendik.
Kontainer berukuran 20 feet itu dilengkapi rak pengering dan sarana pendukung untuk membantu petani mengeringkan pala tanpa sepenuhnya bergantung pada penjemuran terbuka. Tujuannya sederhana: mengurangi paparan debu, kotoran dan cuaca, sekaligus menjaga kualitas biji dan fuli pala.
Masalah muncul ketika sebagian fasilitas mulai rusak.
Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan memilih memperbaikinya secara bertahap. Bukan sekadar mempercantik bangunan, melainkan memastikan aset bantuan tersebut kembali berfungsi.
Pada 2026, satu unit Solar Dryer di Kampung Wartutin diperbaiki melalui kerja sama dengan EcoNusa. Empat unit lainnya di Kramongmongga, Ubadari, Sakartemen dan Kiat diperbaiki menggunakan dukungan Dana Otonomi Khusus 2026.
Sebelumnya, satu unit di Kampung Wurkendik juga telah diperbaiki dengan nilai pekerjaan Rp35 juta per unit.
Pekerjaan meliputi penggantian atap kanopi, penambahan rangka aluminium, perbaikan atau penggantian rak pengering serta pembenahan sarana pendukung.
Masih ada lima unit yang menunggu giliran: Kuagas, Unipokpok, Mamur, Werabuan dan Pirma. Pemerintah memproyeksikan perbaikannya melalui anggaran 2027.
Namun persoalan terbesar bukan pada berapa banyak kontainer yang diperbaiki. Pertanyaannya: setelah diperbaiki, apakah fasilitas itu benar-benar digunakan?
Pemerintah menyatakan kesiapan kelompok penerima dan komitmen pemanfaatan menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas. Sebab, fasilitas yang menghabiskan anggaran negara akan kehilangan makna jika kembali menjadi bangunan yang terkunci, rusak, atau tak digunakan.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T mengatakan fasilitas yang diperbaiki tidak boleh berhenti pada tampilan fisik. Solar Dryer harus hidup, digunakan dan menghasilkan manfaat bagi petani.
Momentum perbaikan juga bertepatan dengan persiapan masyarakat memasuki musim panen pala barat. Fasilitas yang telah selesai diperbaiki diharapkan segera digunakan untuk memperbaiki penanganan pascapanen.
Di titik ini, Solar Dryer bukan sekadar kontainer. Ia menjadi ujian kecil bagi kebijakan pemerintah: apakah bantuan berhenti ketika barang diserahkan, atau terus dikawal sampai benar-benar meningkatkan mutu dan nilai jual pala petani.
Sebab, uang publik tidak cukup hanya menghasilkan bangunan yang berdiri. Yang ditunggu masyarakat adalah fasilitas yang bekerja.
Dari Fakfak, menjaga mutu pala berarti menjaga nilai ekonomi masyarakat.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook