Delapan Bulan, Pala Fakfak Tembus 1.157 Ton, Perdagangan Agustus Capai Rp8,7 Miliar

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Delapan Bulan, Pala Fakfak Tembus 1.157 Ton, Perdagangan Agustus Capai Rp8,7 Miliar

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pala masih menjadi salah satu urat nadi ekonomi masyarakat Kabupaten Fakfak. Hingga Agustus 2026, komoditas yang lekat dengan identitas daerah itu telah mencatat produksi lebih dari 1.157 ton. Pada bulan yang sama, nilai transaksi perdagangan pala mencapai Rp8,73 miliar.

Data Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak mencatat produksi pala sepanjang Agustus 2026 mencapai 131.850 kilogram. Komposisinya terdiri atas 106.250 kilogram pala kulit, 12.490 kilogram pala ketok, dan 13.110 kilogram fuli.

Perdagangan komoditas tersebut menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp8.732.650.000. Dari aktivitas itu, pemerintah daerah mencatat realisasi retribusi sebesar Rp49.356.500. Pengiriman antarpulau juga mencapai 1.476 koli komoditas pala.

Jika dihitung sejak Januari hingga Agustus 2026, total produksi pala Fakfak telah mencapai 1.157.583 kilogram atau sekitar 1.157,58 ton.

Angka itu bukan sekadar statistik produksi. Di belakangnya terdapat rangkaian aktivitas ekonomi yang panjang: dari kebun petani, proses pengumpulan, transaksi dengan pedagang, pengolahan dan pengeringan, hingga pengiriman komoditas ke luar daerah.

Bagi Fakfak, pergerakan pala menjadi penting karena komoditas tersebut tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi petani, tetapi juga menghidupkan mata rantai perdagangan di tingkat lokal.

Namun, peningkatan produksi menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan iklim dan cuaca yang semakin sulit diprediksi dapat memengaruhi siklus tanaman pala, mulai dari pembungaan, pembentukan buah hingga waktu panen.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., meminta petani menyesuaikan pola budidaya dengan kondisi cuaca dan tanaman di lapangan, terutama ketika memasuki musim kemarau.

“Perubahan iklim dan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi tentu berpengaruh terhadap tanaman pala, termasuk waktu pembungaan, pembentukan buah hingga waktu panen. Karena itu, petani perlu menyesuaikan kegiatan budidaya dan waktu panen dengan kondisi tanaman serta cuaca di lapangan,” kata Widhi.

Menurut dia, peningkatan produksi tidak boleh berhenti pada persoalan kuantitas. Mutu menjadi bagian penting yang menentukan daya saing pala Fakfak di pasar.

Pala yang dipanen pada tingkat kematangan yang tepat, kata dia, harus diikuti dengan penanganan, proses pengeringan dan penyimpanan yang baik. Kesalahan pada tahapan tersebut dapat menurunkan kualitas sekaligus nilai ekonomi komoditas.

“Kita tidak hanya mengejar jumlah produksi, tetapi juga harus menjaga mutu dan kualitas. Pala Fakfak memiliki identitas dan nilai tersendiri, sehingga penanganan mulai dari kebun sampai proses perdagangan harus dilakukan dengan baik,” ujarnya.

Widhi menilai mutu yang konsisten akan memperkuat kepercayaan pasar. Pada akhirnya, kualitas bukan hanya menentukan harga komoditas, tetapi juga ikut menentukan keberlanjutan perdagangan pala Fakfak.

“Mutu yang terjaga akan meningkatkan kepercayaan pasar dan pada akhirnya memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani,” katanya.

Ia memberikan apresiasi kepada para petani pekebun pala dan pelaku usaha yang tetap mempertahankan aktivitas produksi dan perdagangan di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah.

Menurut Widhi, pemerintah daerah akan terus mendorong agar pala tidak berhenti sebagai komoditas mentah yang keluar dari Fakfak. Penguatan produksi, mutu, tata kelola perdagangan dan penciptaan nilai tambah dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat ekonomi pala kembali lebih besar kepada masyarakat.

“Kami memberikan apresiasi kepada para petani pekebun pala dan pelaku usaha pala yang terus bekerja, mempertahankan kebun, menjaga produksi dan menggerakkan perdagangan pala Fakfak,” kata dia.

Pala, dengan demikian, bukan hanya soal berapa ton yang dipanen atau berapa rupiah yang tercatat dalam transaksi. Di Fakfak, setiap kilogram pala membawa rantai ekonomi dari kebun hingga pasar. Tantangannya kini adalah memastikan rantai tersebut semakin panjang nilainya, tetapi semakin besar manfaatnya bagi petani.
 

Writter & Editor : Den