SI-LARVUL NGABAL: KEI TAK BOLEH LAGI MENUNGGU KONFLIK PECAH, DETEKSI DINI, HUKUM DAN ADAT HARUS BERGERAK BERSAMA

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 02 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

SI-LARVUL NGABAL: KEI TAK BOLEH LAGI MENUNGGU KONFLIK PECAH, DETEKSI DINI, HUKUM DAN ADAT HARUS BERGERAK BERSAMA

SI-LARVUL NGABAL: KEI TAK BOLEH LAGI MENUNGGU KONFLIK PECAH, DETEKSI DINI, HUKUM DAN ADAT HARUS BERGERAK BERSAMA

Proyek Perubahan AKBP Frans Duma Dorong Sistem Pencegahan Konflik Berbasis Larvul Ngabal di Maluku Tenggara

LANGGUR, MALUKU TENGGARA — KabarSulselIndonesia.web.id — Pencegahan konflik sosial di Kabupaten Maluku Tenggara tidak boleh lagi hanya bergerak setelah persoalan membesar. Deteksi dini harus bekerja sebelum kerawanan berubah menjadi benturan, sementara hukum positif dan kekuatan adat harus ditempatkan dalam satu sistem yang saling memperkuat.2/10/26

Gagasan tersebut menjadi roh utama SI-LARVUL NGABAL, inovasi yang dikembangkan melalui Proyek Perubahan AKBP Frans Duma, S.P. dari Direktorat Intelijen Keamanan Polda Maluku dengan tema “Strategi Pencegahan dan Penyelesaian Konflik Sosial Berbasis Kearifan Lokal Larvul Ngabal di Kabupaten Maluku Tenggara.”

Model ini tidak sekadar menempatkan Larvul Ngabal sebagai identitas budaya, tetapi mendorong nilai-nilai adat tersebut masuk ke dalam mekanisme pencegahan, dialog, mediasi, rekonsiliasi hingga pemulihan hubungan sosial.

Pesannya tegas: konflik harus dicegah sebelum meledak, bukan baru ditangani setelah korban dan kerugian muncul.

Implementasi awal SI-LARVUL NGABAL dipusatkan di Kecamatan Kei Kecil dan Kecamatan Kei Kecil Timur sebagai wilayah percontohan. Tujuannya membangun sistem yang mampu membaca potensi kerawanan secara lebih cepat, terukur dan sesuai dengan karakter sosial masyarakat Kei.

Dari Reaktif Menjadi Preventif

Penguatan program dilakukan melalui kegiatan lapangan, Focus Group Discussion (FGD) dan validasi di Langgur, Kamis (2/10/2026).

Forum tersebut melibatkan unsur Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, Polri, Forkopimda, pemerintah kecamatan dan ohoi, pemangku adat, tokoh agama, tokoh pemuda, masyarakat, akademisi, media serta pemangku kepentingan lainnya.

Yang dibangun bukan sekadar forum diskusi. SI-LARVUL NGABAL menyiapkan sejumlah instrumen untuk membuat pencegahan konflik lebih sistematis, antara lain basis data dan peta konflik, Early Warning System (EWS), SOP/protokol SI-LARVUL NGABAL, verifikasi informasi, pemetaan tingkat risiko dan pola respons berjenjang berdasarkan eskalasi konflik.

Dengan sistem tersebut, setiap informasi mengenai potensi gangguan sosial diharapkan dapat dideteksi, diverifikasi, dipetakan dan direspons sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.

Larvul Ngabal Jangan Berhenti sebagai Simbol

Di titik inilah SI-LARVUL NGABAL memiliki tantangan sekaligus pembeda.

Kearifan lokal tidak ditempatkan sebatas simbol budaya atau slogan. Nilai Larvul Ngabal diarahkan untuk menjadi bagian dari proses dialog, mediasi, rekonsiliasi dan pemulihan hubungan sosial.

Namun, pendekatan adat tetap memiliki batas. Apabila terjadi tindak pidana, mekanisme hukum positif dan penegakan hukum tetap harus berjalan.

Pendekatan seperti ini memiliki relevansi kuat di Kei. RRI sebelumnya mencatat pandangan Frans Duma bahwa adat memiliki fungsi sebagai pengikat dan pagar sosial masyarakat, sementara penyelesaian sejumlah konflik di Maluku Tenggara juga pernah melibatkan musyawarah bersama tokoh adat dan masyarakat.

Frans Duma: Jangan Hanya Menunggu Konflik Terjadi

AKBP Frans Duma menekankan bahwa sistem pencegahan konflik tidak dapat hanya mengandalkan tindakan setelah konflik terjadi.

Informasi lapangan, deteksi dini, pemerintah, aparat keamanan, pemangku adat, tokoh agama dan masyarakat harus terhubung dalam satu mekanisme respons yang terkoordinasi.

Pemangku adat, tokoh agama, pemerintah kecamatan dan pemerintah ohoi memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menjadi mata dan telinga pertama untuk membaca perubahan situasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban.

Jangan Berhenti di Pilot Project

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara disebut memberikan dukungan terhadap implementasi SI-LARVUL NGABAL. Dukungan tersebut menjadi faktor penting agar inovasi tidak berhenti sebagai proyek perubahan, melainkan berkembang menjadi sistem yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

Tahap awal diarahkan pada pembentukan dan penguatan tim, validasi data, FGD, penyusunan SOP, pelaksanaan pilot project, monitoring, analisis dan evaluasi.

Selanjutnya dilakukan penyempurnaan sistem, peningkatan kapasitas pemangku kepentingan serta perluasan implementasi ke wilayah lain.

Target akhirnya jauh lebih besar: SI-LARVUL NGABAL diharapkan dapat dilembagakan sebagai sistem pencegahan dan penyelesaian konflik sosial di Kabupaten Maluku Tenggara.

Ujian Sesungguhnya Ada di Lapangan

Gagasan SI-LARVUL NGABAL pada akhirnya akan diuji bukan dari banyaknya rapat atau dokumen yang dihasilkan, tetapi dari kemampuannya mencegah konflik sebelum membesar.

Keberhasilan sistem akan sangat bergantung pada kualitas data, kecepatan informasi, koordinasi antarlembaga, keterlibatan masyarakat, konsistensi pemangku adat serta ketegasan penegakan hukum ketika terjadi pelanggaran.

Karena itu, deteksi dini tanpa respons cepat tidak akan cukup. Hukum tanpa komunikasi sosial juga berisiko kehilangan ruang dialog. Demikian pula adat tidak boleh hanya dijadikan simbol tanpa diterjemahkan menjadi mekanisme nyata.

SI-LARVUL NGABAL mencoba mempertemukan ketiganya: deteksi dini, hukum positif dan kekuatan kearifan adat.

Model ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas keamanan sekaligus menjaga harmoni sosial masyarakat Kei. Implementasinya tetap harus diuji melalui monitoring dan evaluasi untuk mengukur efektivitas sistem, kecepatan respons serta kemampuannya mencegah eskalasi konflik.

Editor: Bruce Elang