Dari Janji ke Penantian,Kata "Nanti" Jadi Sorotan di Tengah Rendahnya Penyerapan APBD Mimika
Dari Janji ke Penantian,Kata "Nanti" Jadi Sorotan di Tengah Rendahnya Penyerapan APBD Mimika
Timika Kabarsulselindonesia.web.id – Frasa "nanti kita lihat" belakangan ini menjadi bahan perbincangan dan sindiran di tengah masyarakat Kabupaten Mimika. Bagi sebagian warga, kalimat yang semula terdengar biasa itu kini justru dianggap sebagai simbol ketidakpastian dan penundaan berbagai janji maupun program pembangunan.13/06/2026
Pengamat sosial yang dikenal dengan inisial RP menyampaikan keprihatinannya terhadap pola komunikasi pemerintah yang dinilai terlalu sering menggunakan kata "nanti" dalam merespons berbagai persoalan.
"Belakangan ini kita sering mendengar kalimat seperti, 'nanti kita lihat', 'nanti kita pelajari dulu', dan berbagai ungkapan lain yang semuanya diawali dengan kata 'nanti'. Persoalannya, banyak dari kata 'nanti' itu yang tak kunjung terwujud," ujar RP.
Menurutnya, jargon pembangunan yang selama ini disampaikan, seperti pembangunan dimulai dari kampung menuju kota, juga dikhawatirkan akan bernasib sama jika hanya berhenti pada tataran wacana.
"Nanti pembangunan dimulai dari kampung ke kota. Nanti kesejahteraan masyarakat meningkat. Nanti infrastruktur dibangun. Sampai tahun 2029 pun masyarakat bisa saja masih menanti. Kalau soal periode kedua? Nanti kita lihat," sindirnya.
RP juga menyoroti realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika yang telah memasuki pertengahan tahun anggaran, namun tingkat penyerapannya disebut masih berada pada kisaran 12 persen.
"Memasuki bulan keenam tahun berjalan, penyerapan anggaran baru sekitar 12 persen. Kembali lagi kita mendengar kalimat, 'nanti kita lihat'. Nanti pada akhir tahun kita lihat berapa SILPA yang tersisa. Luar biasa sakti memang kata-kata itu," katanya
Ia mengaku menyesalkan kondisi tersebut dan berharap Pemerintah Kabupaten Mimika di bawah kepemimpinan Bupati Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong lebih mengedepankan langkah konkret dibandingkan sekadar pernyataan yang dinilai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Rakyat tidak membutuhkan terlalu banyak kata 'nanti'. Yang dibutuhkan adalah kepastian, tindakan, dan hasil yang dapat dirasakan masyarakat. Sebab terlalu banyak 'nanti' justru membuat warga hidup dalam ketidakpastian," tegasnya.
Sindiran tersebut mencerminkan harapan sebagian masyarakat agar pemerintah lebih fokus pada percepatan realisasi program dan penyerapan anggaran, sehingga janji pembangunan tidak hanya berhenti pada ucapan, melainkan benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook