TEP Unhas Turun ke Weri-Saharey, Menguatkan Petani dari Pembukuan hingga Kemandirian Usaha

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 20 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

TEP Unhas Turun ke Weri-Saharey, Menguatkan Petani dari Pembukuan hingga Kemandirian Usaha

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Kemandirian petani tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, hasil panen, atau harga jual komoditas. Kemampuan mengelola organisasi, mencatat arus keuangan, menghitung biaya produksi, dan mempertanggungjawabkan usaha juga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan ekonomi kelompok tani.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Tim 15 TEP Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan pendampingan kelompok tani di SD Inpres Weri, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Selasa, 20 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–16.00 WIT itu melibatkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak sebagai narasumber.

Sebanyak 20 peserta dari kelompok tani di Kampung Weri dan Kampung Saharey mengikuti kegiatan tersebut. Materi pendampingan diarahkan pada penguatan administrasi organisasi, pengelolaan aset, pencatatan produksi, serta pengembangan sistem usaha kolektif yang lebih tertata.

Pesan utamanya jelas: kelompok tani perlu membangun kebiasaan mengelola usaha secara terukur, bukan sekadar mengandalkan pengalaman bertani dan ingatan para pengurus.

Administrasi Bukan Beban, Melainkan Instrumen Pengelolaan Usaha

Dalam pemaparannya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak menekankan bahwa administrasi kelompok tani semestinya menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Pencatatan tidak boleh baru dilakukan ketika kelompok menghadapi pemeriksaan atau harus menyampaikan laporan kepada pemerintah.

Administrasi yang tertib membantu kelompok mengetahui kondisi organisasi, menelusuri penggunaan dana, mengawasi aset, serta mengevaluasi perkembangan usaha. Catatan yang jelas juga menjadi dasar untuk membangun kepercayaan antaranggota dan memastikan setiap kegiatan dapat dipertanggungjawabkan.

Ada enam fungsi utama administrasi yang ditekankan dalam pendampingan ini, yakni sebagai alat pengendalian usaha, dasar pengambilan keputusan, instrumen monitoring dan evaluasi, sarana membangun transparansi, dokumentasi sekaligus bukti legalitas, serta penunjang akses terhadap bantuan dan fasilitas.

Dengan pencatatan yang konsisten, kelompok tani memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menentukan kebutuhan produksi, menyusun rencana kegiatan, dan menilai apakah usaha yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat bagi anggotanya.

Sebab, tanpa catatan yang memadai, kelompok akan kesulitan mengetahui berapa besar biaya yang telah dikeluarkan, berapa hasil yang diperoleh, dan bagaimana pendapatan usaha dikelola.

Tiga Pilar Pembukuan Kelompok Tani

Pendampingan tidak berhenti pada penjelasan konseptual. Para peserta juga diperkenalkan dengan contoh pembukuan praktis yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan kelompok.

Pilar pertama adalah administrasi organisasi. Bagian ini mencakup buku daftar anggota dan pengurus, notulen rapat, daftar hadir, inventaris barang, arsip surat masuk dan keluar, dokumen kesepakatan, rencana kegiatan, serta buku tamu.

Pencatatan tersebut diperlukan agar pembagian tanggung jawab, keputusan bersama, dan kepemilikan aset kelompok memiliki dokumentasi yang jelas.

Pilar kedua ialah administrasi keuangan sederhana. Peserta dibekali pemahaman mengenai buku kas umum, pencatatan penerimaan dan pengeluaran, iuran anggota, bantuan yang diterima, pembelian sarana produksi, hasil penjualan, serta penyimpanan kuitansi dan bukti transaksi.

Melalui pencatatan ini, setiap pemasukan dan pengeluaran dapat ditelusuri. Transparansi keuangan pun tidak semata-mata bergantung pada penjelasan pengurus, tetapi didukung oleh bukti yang dapat diperiksa bersama.

Pilar ketiga adalah administrasi usaha tani. Kelompok diperkenalkan dengan pencatatan biaya benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan transportasi, termasuk hasil panen, penjualan, total biaya produksi, pendapatan, serta keuntungan usaha.

Aspek ini penting karena hasil penjualan yang besar tidak selalu berarti keuntungan yang tinggi. Tanpa menghitung seluruh biaya, petani berisiko keliru menilai kinerja usahanya dan kesulitan menentukan strategi produksi berikutnya.

Sepuluh Kelompok Tani Terlibat

Kegiatan tersebut diikuti kelompok-kelompok tani dari dua kampung. Dari Kampung Weri, peserta berasal dari Kelompok Tani Kaditru Padi, Kaditru Sayur Mayur, Anggrek, dan Pala.

Sementara dari Kampung Saharey, kegiatan melibatkan kelompok Sahana 2, Kirakamaya 1, Parikmimir, Gacor, Rangkum, dan Pancoran.

Keterlibatan kelompok dari kedua kampung ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas kelembagaan petani. Pengetahuan administrasi diharapkan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi diterapkan dalam kegiatan kelompok dan menjadi kebiasaan bersama.

Bagi kelompok tani, kemampuan menyusun catatan yang rapi juga dapat menjadi modal untuk memperjelas kebutuhan usaha, menyusun rencana pengembangan, dan menunjukkan kondisi kelompok berdasarkan data ketika menjalin komunikasi dengan pihak lain.

Dengan demikian, administrasi bukan sekadar urusan buku dan dokumen. Di dalamnya terdapat upaya membangun tata kelola kelompok yang lebih terbuka, terukur, dan dapat dipercaya.

Pendampingan Berlanjut ke Lapangan

Tim 15 TEP Unhas berkomitmen melanjutkan pendampingan kepada kelompok tani di Kampung Weri dan Kampung Saharey setelah kegiatan pelatihan.

Pendampingan lanjutan tersebut diarahkan pada penerapan pencatatan dan pembukuan usaha secara langsung di lapangan. Langkah ini penting agar materi yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan berkembang menjadi praktik yang konsisten dalam pengelolaan kelompok.

Keberhasilan pendampingan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh terselenggaranya pelatihan, tetapi juga oleh kemampuan kelompok menerapkan administrasi secara rutin, menjaga keterbukaan keuangan, dan menggunakan catatan usaha sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dari Weri dan Saharey, penguatan kapasitas petani dimulai dari hal mendasar: mengenali kondisi usaha melalui catatan yang benar. Sebab, kelompok tani yang mampu mengelola data, keuangan, dan organisasinya dengan baik memiliki landasan yang lebih kuat untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan dan memperjuangkan kesejahteraan anggotanya.

 

Writter & Editor: Den