Wabup Donatus Luncurkan Pala Tomandin Grafting, Menanam Masa Depan Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 02 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Wabup Donatus Luncurkan Pala Tomandin Grafting, Menanam Masa Depan Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kabupaten Fakfak tahun ini lebih dari sekadar seremoni. Di halaman sekolah yang biasanya diisi upacara, pemerintah daerah justru menanam sesuatu yang lebih konkret: masa depan.

Wakil Bupati Fakfak, Drs. Donatus Nimbitkendik, M.TP meluncurkan program penanaman Pala Tomandin Grafting berbasis pupuk hayati Tekno Papua. Peluncuran itu tak berlangsung di ruang rapat, melainkan di lingkungan sekolah melibatkan guru, pelajar, serta organisasi perangkat daerah. Di sinilah pendidikan dipertemukan langsung dengan tanah, dengan keringat, dan dengan harapan.

Langkah ini bukan kebetulan. Ia dirancang sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan sektor pertanian dua bidang yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri. Melalui pendekatan ini, sekolah tidak lagi hanya menjadi ruang teori, melainkan laboratorium kehidupan yang mengajarkan siswa memahami potensi lokal sekaligus peluang ekonomi di dalamnya.

“Hari ini kita tidak hanya memperingati Hari Pendidikan Nasional, tetapi juga menanam harapan,” ujar Nimbitkendik. Kalimat itu bukan retorika. Di baliknya, tersimpan arah kebijakan yang ingin mengubah cara pandang terhadap Pendidikan dari yang abstrak menjadi aplikatif, dari yang seremonial menjadi produktif.

Program ini bertumpu pada dua kekuatan: bibit unggul dan pendekatan ekologis. Pala hasil grafting dikenal lebih cepat berproduksi dengan kualitas yang lebih terjaga. Sementara pupuk hayati Tekno Papua menawarkan pendekatan ramah lingkungan memperbaiki struktur tanah tanpa ketergantungan berlebih pada bahan kimia. Kombinasi ini bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga tentang keberlanjutan.

Lebih jauh, keterlibatan sekolah menjadi kunci. Di tangan para guru dan siswa, penanaman pala berubah menjadi proses pendidikan karakter: tentang kesabaran, ketekunan, dan penghargaan terhadap alam. Di saat yang sama, siswa diperkenalkan pada logika kewirausahaan berbasis komoditas local bahwa pala bukan sekadar tanaman, melainkan identitas ekonomi Fakfak.

Pemerintah daerah tampaknya memahami satu hal penting: masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh lahan, tetapi oleh generasi yang mengelolanya. Karena itu, investasi terbesar bukan hanya pada bibit, melainkan pada pengetahuan dan kesadaran sejak dini.

Di tengah hamparan tanah Fakfak yang kaya pala, program ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan tanam-menanan. Ia adalah pernyataan sikap bahwa kejayaan pala tidak akan dibiarkan menjadi cerita masa lalu. Dari sekolah, dari tangan-tangan muda, Fakfak sedang menyusun babak baru: tentang generasi petani modern yang inovatif, berdaya saing, dan tetap berakar pada tanahnya sendiri.

 

Writter : Den | Editor : Den