Bupati Samaun Buka Lomba Peringatan 666 Tahun Islam di Tanah Papua, Syiar, Persaudaraan, dan Spirit
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Malam peringatan 666 tahun masuknya agama Islam di Tanah Papua bukan sekadar seremoni pembukaan perlombaan. Di Kabupaten Fakfak, Rabu (15/7/2026), momentum sejarah itu tampil sebagai ruang untuk merawat ingatan kolektif sekaligus mempertegas identitas daerah yang sejak lama dikenal sebagai rumah bagi kerukunan dan keberagaman.
Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP, secara resmi membuka rangkaian lomba dalam peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua. Pembukaan berlangsung dalam suasana khidmat yang dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Penjabat Sekretaris Daerah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, organisasi perempuan, organisasi pemuda, serta masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Samaun menegaskan bahwa peringatan ini memiliki makna jauh lebih luas dibanding sekadar mengenang perjalanan dakwah Islam di Papua. Menurutnya, peristiwa bersejarah tersebut menjadi fondasi tumbuhnya nilai-nilai persatuan, toleransi, dan kehidupan harmonis yang hingga kini terus dijaga masyarakat Fakfak.
"Momentum ini bukan hanya tentang sejarah masuknya Islam, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai kebersamaan telah tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi. Fakfak telah menunjukkan kepada Indonesia bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun daerah," ujarnya.
Pernyataan itu selaras dengan filosofi "Satu Tungku Tiga Batu", kearifan lokal yang telah lama menjadi identitas masyarakat Fakfak. Filosofi tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat lintas agama yang saling menopang, saling menjaga, dan hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan.
Rangkaian peringatan tahun ini diawali dengan berbagai perlombaan bernuansa Islami, di antaranya lomba membaca Surah Yasin dan pembacaan Kitab Barzanji. Bupati berharap kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan semarak perayaan, tetapi juga memperkuat syiar Islam yang menebarkan kedamaian, keberkahan, dan nilai-nilai akhlak di tengah masyarakat.
Lebih dari itu, penyelenggaraan kegiatan juga memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk ikut merasakan manfaat ekonomi. Beragam kuliner lokal disajikan kepada masyarakat yang datang menyaksikan perlombaan, sehingga peringatan keagamaan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi rakyat.
Menurut Bupati Samaun, keberhasilan kegiatan bukan semata diukur dari siapa yang menjadi juara dalam setiap perlombaan, melainkan dari besarnya semangat masyarakat dalam memeriahkan syiar Islam serta mempererat tali persaudaraan.
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh panitia, tokoh agama, organisasi masyarakat, dan semua pihak yang telah bekerja keras menyukseskan agenda tersebut. Dedikasi mereka dinilai menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat mampu menghadirkan kegiatan yang bernilai sejarah, keagamaan, sekaligus sosial.
Kepada para peserta lomba, Bupati berpesan agar menjadikan kompetisi sebagai wahana belajar dan memperkuat ukhuwah. Sportivitas, kata dia, harus menjadi semangat utama, sehingga setiap peserta dapat menikmati proses sekaligus mempererat hubungan antarsesama.
Di penghujung sambutannya, Bupati Samaun mengajak seluruh masyarakat menjadikan peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua sebagai momentum memperkuat persatuan dalam keberagaman.
"Mari kita jadikan keberagaman sebagai kekuatan dan kebersamaan sebagai modal utama membangun Fakfak yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing," katanya.
Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Bupati Samaun Dahlan kemudian secara resmi membuka seluruh rangkaian lomba peringatan 666 tahun masuknya agama Islam di Tanah Papua.
Pembukaan itu menandai dimulainya serangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga menjadi panggung pelestarian sejarah, penguatan identitas budaya, pengembangan ekonomi masyarakat melalui UMKM, serta peneguhan Fakfak sebagai salah satu simbol toleransi dan harmoni kehidupan beragama di Indonesia.
Melalui peringatan ini, Fakfak kembali menegaskan posisinya sebagai daerah yang menjaga warisan sejarah Islam di Tanah Papua, sekaligus memperlihatkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan dengan budaya lokal, persaudaraan, dan semangat membangun masa depan bersama.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook