Ekspedisi Patriot Unpad Hadir di Tomage, dari Layanan Kesehatan hingga Inovasi Olahan Sagu

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 24 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ekspedisi Patriot Unpad Hadir di Tomage, dari Layanan Kesehatan hingga Inovasi Olahan Sagu

TEP Unpad mendampingi masyarakat Bomberay–Tomage melalui penguatan akses kesehatan, pencegahan penyakit sejak dini, dan pengembangan produk pangan lokal berbasis sagu.

 

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pembangunan masyarakat tidak cukup berhenti pada penyediaan infrastruktur. Akses terhadap layanan kesehatan dan kemampuan mengembangkan potensi ekonomi lokal juga menentukan kualitas hidup warga. Di kawasan Bomberay–Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad) berupaya mengambil bagian dalam dua kebutuhan tersebut.

Keterlibatan tim itu terlihat dalam bakti sosial Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Fakfak di Puskesmas Tomage, Sabtu, 24 Oktober 2026. Bupati Fakfak Samaun Dahlan membuka kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-76 IDI tersebut.

Bakti sosial ini menargetkan 500 peserta dengan dukungan tujuh dokter spesialis dan 20 dokter umum. Perwakilan Ketua Tim Ekspedisi Patriot Unpad, Prof. Dr. Arlette Suzy Puspa Pertiwi, turut hadir di tengah agenda pendampingan masyarakat di kawasan Bomberay–Tomage.

Kegiatan tersebut mempertemukan pelayanan medis dengan upaya memperluas akses kesehatan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pelayanan. Bagi warga Tomage, kehadiran dokter spesialis menjadi kesempatan untuk memperoleh pemeriksaan yang tidak selalu mudah dijangkau dalam keseharian.

Ketua panitia, dr. Ikchan Malik Napitupulu, mengatakan Tomage dipilih karena jaraknya relatif jauh dari rumah sakit, sementara sarana pelayanan kesehatan di wilayah tersebut masih terbatas.

Layanan gratis yang disediakan mencakup pemeriksaan kehamilan menggunakan ultrasonografi (USG), pemeriksaan ginekologi dan abdomen, tes inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) untuk skrining kanker leher rahim, serta pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Panitia juga menyiapkan pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, malaria, HIV, sifilis, hepatitis B, dan skrining penyakit jantung koroner. Anak-anak turut menjadi sasaran melalui skrining stunting bagi usia di bawah dua tahun dan pelayanan sirkumsisi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, dr. Maulana Patiran, M.Kes., mengatakan kegiatan bersama IDI tersebut merupakan pelaksanaan ke-15 program Dokter Spesialis Turun Kampung. Ia menegaskan bahwa masyarakat di pegunungan, pesisir, maupun pedalaman memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses pemeriksaan dokter spesialis.

Bupati Samaun Dahlan meminta masyarakat memanfaatkan layanan tersebut, termasuk fasilitas rujukan apabila pemeriksaan menunjukkan perlunya penanganan lanjutan.

“Kalau Bapak-Ibu nanti dirujuk ke rumah sakit, itu tidak ada bayar satu rupiah pun. Semuanya gratis,” kata Samaun.

Ia juga meminta IDI menyampaikan rencana kegiatan untuk tahun berikutnya agar dapat dipertimbangkan dalam penyusunan anggaran daerah. Pemerintah Kabupaten Fakfak, menurut dia, berencana melanjutkan pelayanan pengobatan gratis secara bergiliran di distrik lain.

Kepada Tim Ekspedisi Patriot Unpad, Samaun menyampaikan apresiasi atas keterlibatan tim dalam pendampingan masyarakat. Ia menilai pelayanan kesehatan spesialis perlu menjangkau kampung dan distrik, bukan hanya terpusat di rumah sakit.

Dari pemeriksaan gigi hingga pencegahan karies

Pendampingan kesehatan TEP Unpad tidak berhenti pada kehadiran dalam kegiatan bakti sosial. Tim Kelompok 19 yang diketuai Prof. Dr. Arlette Suzy Puspa Pertiwi juga menjadwalkan pelayanan kesehatan gigi bagi anak balita di Distrik Tomage pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Agenda tersebut direncanakan meliputi pemeriksaan gigi, edukasi kepada orang tua, dan aplikasi fluor topikal untuk membantu mencegah karies sejak dini.

Pendekatan ini menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dari pelayanan kesehatan. Pemeriksaan sejak usia dini, disertai edukasi kepada keluarga, diharapkan membantu orang tua memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi anak sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Kepala Puskesmas Tomage, Supi'I, A.Md.Kep., menilai kegiatan TEP Unpad di bidang kesehatan membantu masyarakat dan kader kesehatan di kampung-kampung dalam wilayah kerja puskesmas.

Ia berharap pendampingan tersebut dapat menjangkau warga di luar kawasan transmigrasi dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Harapan itu sekaligus menunjukkan pentingnya memperluas jangkauan program agar manfaatnya tidak terkonsentrasi pada kelompok masyarakat tertentu.

Mengolah sagu, memperkuat ekonomi lokal

Di luar sektor kesehatan, Ekspedisi Patriot Unpad juga mengembangkan potensi pangan lokal sebagai bagian dari pendampingan usaha masyarakat.

Tim Kelompok 13 yang dipimpin Prof. Dr. Atwar Bajari, M.Si., mengembangkan produk Sagu Goreng dan Mie Sagu dengan merek ASDERA. Nama tersebut merupakan singkatan dari nama enam anggota tim, yakni Atwar Bajari, Sarach Diba Hidayat, Denis Setia Prismayana, Miryam Elizabeth Rambe, Raja Bani Yudanegara Yudapraja, dan Adista Nurfadillah.

Pengembangan kedua produk itu menjadi salah satu upaya mengolah bahan pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Sagu tidak hanya dipandang sebagai bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat, tetapi juga sebagai sumber daya yang berpotensi dikembangkan melalui inovasi produk.

Namun, pengembangan usaha berbasis pangan lokal membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Mutu produk, konsistensi produksi, kemasan, pemasaran, dan akses terhadap konsumen menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar inovasi tidak berhenti pada tahap percontohan.

Di sinilah pendampingan menjadi penting: menghubungkan potensi yang dimiliki masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan peluang pengembangan usaha.

Kapolsek Bomberay, Iptu Aldin La Adi, menyampaikan penilaian positif terhadap kegiatan Ekspedisi Patriot bagi masyarakat setempat. Ia berharap pendampingan serupa dapat terus berlangsung, termasuk untuk mendukung pengembangan kelembagaan dan kegiatan ekonomi warga.

Menghubungkan kesehatan dan kemandirian masyarakat

Kegiatan di Bomberay–Tomage memperlihatkan dua jalur pendampingan yang saling melengkapi. Pelayanan kesehatan membantu mendekatkan pemeriksaan medis kepada masyarakat, sedangkan pengembangan olahan sagu membuka ruang bagi penguatan usaha berbasis potensi lokal.

Keduanya memiliki tantangan yang berbeda. Pelayanan kesehatan memerlukan kesinambungan pemeriksaan, sistem rujukan, dan edukasi masyarakat. Pengembangan usaha membutuhkan proses produksi yang terjaga, akses pasar, serta kemampuan pelaku usaha mempertahankan kualitas produk.

Karena itu, keberhasilan pendampingan tidak semata-mata diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana warga memperoleh manfaat yang berkelanjutan setelah kegiatan selesai.

Bagi Bomberay–Tomage, keterlibatan IDI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan Tim Ekspedisi Patriot Unpad membuka ruang kolaborasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan warga.

Pada akhirnya, kerja pendampingan akan menemukan maknanya ketika layanan kesehatan semakin mudah dijangkau, keluarga semakin memahami pencegahan penyakit, dan potensi pangan lokal berkembang menjadi peluang usaha yang memberi manfaat bagi masyarakat setempat.
 

Writter: Humas TEP | Editor: Den