Valent Kei Ragukan Integritas Rafael Taorekeyau Pimpin KNPI Mimika: "Jangan Serahkan Perahu Besar kepada Pemimpin yang Tidak Konsisten"

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 03 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Valent Kei Ragukan Integritas Rafael Taorekeyau Pimpin KNPI Mimika:

Valent Kei Ragukan Integritas Rafael Taorekeyau Pimpin KNPI Mimika: "Jangan Serahkan Perahu Besar kepada Pemimpin yang Tidak Konsisten"

Timika, Kabarsulselindonesia.web.id – Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD II KNPI Kabupaten Mimika kembali memanas. Kali ini, kritik keras datang dari Konsultan Hukum sekaligus Advokat Valentinus Ulahayanan, S.H., M.H., yang akrab disapa Valent Kei, terhadap salah satu kandidat Ketua KNPI Mimika, Rafael Taorekeyau (RT).03/07/2026

Dalam percakapan di grup VK88, Valent Kei secara terbuka mengaku tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Rafael Taorekeyau. Menurutnya, seorang calon pemimpin organisasi kepemudaan harus memiliki komitmen, konsistensi, prinsip, dan integritas yang tidak berubah karena kepentingan.

   "Saya tidak percaya lagi kepada Rafael. Sifatnya, lapar bicara lain, kenyang bicara lain. Pemimpin seperti itu tidak layak mengemudikan perahu besar bernama KNPI. Kalau kalian percaya pada tipe manusia seperti itu, suatu saat semuanya bisa masuk jurang," tegas Valent Kei.

Menurut Valent Kei dirinya justru termasuk orang yang pertama kali memberikan dukungan moral kepada Rafael ketika mulai dikenal di Mimika. Saat itu ia melihat Rafael sebagai sosok muda yang berani bersuara dan diharapkan mampu menjadi representasi masyarakat Kamoro.

   "Saya pikir tidak ada anak Kamoro yang sekeras dia menyuarakan aspirasi masyarakat. Saya berharap dia menjadi representasi orang Kamoro. Tapi harapan itu sekarang berubah menjadi kekecewaan," ujarnya.

Valent Kei juga mengungkapkan pengalamannya saat Pilkada Mimika 2024. Ia mengingat bagaimana Rafael, ketika berada dalam barisan pendukung Yohanes Rettob, menyampaikan bahwa Yohanes Rettob merupakan figur yang layak menjadi representasi masyarakat Kamoro.

Namun setelah Yohanes Rettob dilantik sebagai Bupati Mimika, menurut Valent, sikap Rafael berubah drastis.

Ia menilai perubahan sikap tersebut terjadi karena harapan pribadi Rafael kepada Bupati tidak terpenuhi, sehingga kemudian memilih menyampaikan kritik melalui berbagai video yang dipublikasikan ke ruang publik.

Bagi Valent, cara tersebut tidak mencerminkan etika seorang calon pemimpin.

  "Kalau memang ada persoalan, datang bertemu Bupati, bicara baik-baik. Kalau masukan tidak didengar, baru ambil langkah berikutnya. Bukan langsung membuat video yang akhirnya menjadi konsumsi publik," katanya.

Valent Kei menegaskan dirinya pernah berbeda pandangan dengan Yohanes Rettob ketika masih menjabat Wakil Bupati hingga Penjabat Bupati. Namun, menurutnya, setiap perbedaan selalu disampaikan secara langsung tanpa harus membuka konflik ke ruang publik.

   "Saya pernah menegur Pak Jon Rettob secara langsung ketika ada kebijakan yang menurut saya kurang tepat. Saya jelaskan secara rinci, bukan berteriak di media sosial. Itu etika dalam membangun hubungan dan menjaga marwah pemimpin maupun daerah," ujarnya.

Karena itu, Valent menilai sikap Rafael selama ini menunjukkan inkonsistensi yang menurutnya tidak layak dimiliki seorang calon Ketua KNPI.

Ia bahkan menyebut dinamika yang muncul sebelum Musda berlangsung menjadi cerminan awal kepemimpinan yang berpotensi memecah organisasi.

   "Baru menjadi calon saja sudah menimbulkan kegaduhan di tubuh KNPI Mimika. Bagaimana nanti kalau benar-benar memimpin organisasi sebesar ini? Pemuda adalah ujung tombak bangsa. Jangan sampai masa depan mereka dipertaruhkan oleh kepemimpinan yang tidak memiliki prinsip," tegas Valent.

Menutup pernyataannya, Valent Kei mengajak seluruh organisasi kepemudaan dan peserta Musda KNPI Mimika agar lebih kritis dalam menentukan pilihan.

  "Mari berefleksi dan tetap waspada. Pilihlah pemimpin yang menjaga marwah organisasi, konsisten terhadap prinsip, dan mampu mempersatukan pemuda, bukan sebaliknya."

 

Penulis: Gunawan F

Editor: Bruce Elang