Dari Sebuah Janji ke Mendopma: 50 Hari Kemudian Josep Datang Membawa Ini
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Janji, bagi sebagian orang, mudah diucapkan dan lebih mudah lagi dilupakan. Namun di Kampung Mendopma, sebuah janji tentang kebutuhan sekolah akhirnya menemukan bentuknya.
Tepat 50 hari setelah menyampaikan komitmen, Josep Goenawan kembali ke SD YPPK Mendopma, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Jumat, 11 September 2026. Kali ini ia datang bukan sekadar berkunjung, melainkan membawa 20 set meja dan kursi yang sebelumnya ia janjikan kepada sekolah tersebut.
Komitmen itu disampaikan Josep ketika mengunjungi SD YPPK Mendopma pada 24 Juli 2026. Saat itu ia didampingi RP. Yohanes Kota, OSA, atau yang akrab disapa Pastor Yoko.
Kunjungan tersebut mempertemukan Josep secara langsung dengan kondisi sekolah dan kebutuhan fasilitas belajar para siswa. Dari sana muncul sebuah keputusan sederhana: membantu menyediakan meja dan kursi agar anak-anak dapat belajar dengan fasilitas yang lebih layak.
Lima puluh hari kemudian, keputusan itu menjadi kenyataan.
Josep datang langsung menyerahkan bantuan tersebut kepada pihak sekolah. Kepada guru, orang tua, dan para siswa yang menyambut kedatangannya, ia justru lebih dulu menyampaikan permohonan maaf karena bantuan itu tidak dapat diselesaikan secepat yang diharapkan.
“Mohon maaf agak lama karena tukang harus kerjakan lagi. Ini sudah selesai dan saya memberikan dan menyumbang kepada sekolah ini supaya dapat bermanfaat,” ujar Josep.
Nilai bantuan itu mungkin tidak dapat diukur hanya dari jumlah 20 set meja dan kursi. Di sebuah sekolah, benda-benda tersebut adalah bagian dari ruang belajar tempat anak-anak menulis, membaca, berdiskusi, dan menyusun cita-cita.
Josep mengatakan bantuan tersebut memang tidak banyak. Namun ia ingin menjadikannya sebagai bagian dari kepedulian terhadap pendidikan anak-anak Papua.
“Tidak banyak, tetapi ini bentuk kepedulian saya terhadap pendidikan untuk generasi emas Tanah Papua,” katanya.
Bagi pihak sekolah, bantuan itu bukan sekadar tambahan inventaris. Ia datang sebagai perhatian terhadap kebutuhan guru dan siswa yang menjalani proses pendidikan di wilayah yang tidak selalu mudah mendapatkan fasilitas seperti sekolah-sekolah di perkotaan.
Para guru menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut. Orang tua siswa pun menyampaikan terima kasih karena kepedulian itu dirasakan secara langsung oleh anak-anak mereka.
Usai serah terima, suasana kemudian berubah lebih cair. Guru, orang tua, pastor, dan Josep duduk bersama. Percakapan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, diselingi candaan dan cerita tentang pendidikan serta kehidupan masyarakat Fakfak.
Dalam percakapan itu, orang tua siswa menyebut perhatian Josep terhadap pendidikan bukan sesuatu yang baru. Mereka menilai dukungannya juga telah menyentuh sejumlah sekolah lain di Kabupaten Fakfak.
Mereka berharap kepedulian tersebut tidak berhenti pada satu sekolah. Sebab, bagi mereka, pendidikan adalah investasi yang manfaatnya tidak selesai ketika sebuah bantuan diserahkan.
Josep menerima apresiasi tersebut dengan mengatakan bahwa hubungannya dengan Fakfak bukan sekadar hubungan tempat tinggal atau tempat singgah.
Kedua orang tuanya lahir di Fakfak. Ia sendiri juga lahir di tanah ini. Karena itu, menurut Josep, latar belakang etnis bukan alasan untuk berjarak dengan tanah tempat ia dilahirkan.
“Saya punya orang tua lahir di Fakfak, saya juga lahir di Fakfak. Walaupun saya darah Tionghoa, tetapi saya merasa bagian dari kita semua, orang Fakfak,” ujarnya.
Ia kemudian menyampaikan sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana seseorang dapat memberikan kontribusi bagi tanah kelahirannya dan masyarakat yang hidup di dalamnya.
“Bagaimana kita punya kontribusi untuk tanah ini, untuk masyarakat di tanah ini, untuk semua di Fakfak,” kata Josep.
Di Mendopma, sebuah janji akhirnya tidak berhenti sebagai kalimat dalam sebuah kunjungan.
Ia melewati waktu 50 hari, proses pengerjaan, dan akhirnya tiba dalam bentuk yang bisa disentuh dan digunakan anak-anak sekolah.
Dua puluh set meja dan kursi itu mungkin sederhana. Tetapi bagi anak-anak SD YPPK Mendopma, ia adalah bagian dari ruang tempat masa depan sedang dikerjakan satu pelajaran, satu tulisan, dan satu cita-cita pada setiap hari sekolah.
Sebab, pada akhirnya, ukuran sebuah janji bukan pada seberapa indah ia diucapkan, melainkan seberapa nyata ia diwujudkan.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook