Sasi Kerakera Dibuka, Pala Tua Sipatnanam Siap Dibeli Rp600 Ribu per Seribu

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 27 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Sasi Kerakera Dibuka, Pala Tua Sipatnanam Siap Dibeli Rp600 Ribu per Seribu

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pembukaan Sasi Kerakera di Kampung Sipatnanam menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menjaga mutu dan kualitas pala Fakfak. Bersamaan dengan dibukanya sasi, pembeli lokal menyatakan kesiapan menyerap pala tua dan matang dengan harga Rp600 ribu per seribu buah sesuai standar yang ditetapkan dalam Peraturan Bupati tentang tata niaga pala Fakfak.

Kepastian harga tersebut menjadi kabar penting bagi para petani dan pekebun pala. Pesannya jelas: pala yang dipanen setelah mencapai tingkat kematangan optimal memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.

Pengumpul sekaligus pembeli pala di Kampung Sipatnanam, Oto Haru Tuturop, mengatakan siap membeli pala masyarakat sesuai standar harga yang berlaku.

“Kami siap membeli pala tua dari masyarakat dengan harga Rp600 ribu per seribu sesuai standar Perbub. Yang penting, pala yang dibawa sudah tua, matang, dan kualitasnya baik,” kata Oto.

Ia meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pemasaran pala tua. Menurut dia, pembeli lokal tetap membutuhkan pala berkualitas dan siap memberikan harga sesuai standar.

“Jangan takut pala tua tidak ada yang membeli dengan harga tinggi. Kami sebagai pembeli lokal siap menampung. Kalau mutunya bagus dan sudah tua, kami siap membeli sesuai harga yang berlaku,” ujarnya.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T., menilai komitmen pembeli lokal untuk membeli pala tua sesuai standar Peraturan Bupati merupakan bagian penting dalam membangun rantai perdagangan yang menghargai kualitas.

Menurut Widhi, harga yang baik harus berjalan seiring dengan mutu produk yang baik. Petani dan pekebun perlu memberi waktu bagi buah pala untuk mencapai tingkat kematangan sebelum dipanen.

“Kalau petani dan pekebun menjaga pala hingga tua dan matang, kemudian pembeli memberikan harga sesuai standar, maka kita sedang membangun sistem perdagangan pala yang sehat,” kata Widhi.

Ia menegaskan, pengembangan pala Fakfak tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan jumlah produksi. Kualitas hasil panen juga harus menjadi perhatian utama karena berkaitan langsung dengan kepercayaan pasar terhadap komoditas unggulan tersebut.

Prosesi adat Pembukaan Sasi Kera-Kera di Kampung Sipatnanam | Foto Istimewah KSI

Pemanenan pala yang belum matang, menurut dia, dapat memengaruhi mutu produk. Dalam jangka panjang, praktik tersebut berpotensi merugikan posisi pala Fakfak di pasar.

Karena itu, Widhi menilai seluruh pihak dalam rantai perdagangan pala harus memiliki komitmen yang sama. Petani dan pekebun menjaga pala hingga matang, pengumpul memberikan penghargaan melalui harga yang layak, sedangkan pemerintah menjalankan fungsi pembinaan, pengawasan, dan penguatan regulasi.

Pembukaan Sasi Kerakera di Kampung Sipatnanam, kata dia, juga menunjukkan bahwa nilai adat dan kepentingan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Sasi berfungsi mengatur pemanfaatan sumber daya dan menjaga waktu panen, sementara standar harga memberikan kepastian ekonomi bagi masyarakat yang menghasilkan pala berkualitas.

Dengan demikian, pembukaan Sasi Kerakera bukan sekadar penanda dimulainya masa panen. Momentum itu juga menjadi pengingat bahwa masa depan pala Fakfak ditentukan oleh satu kesepahaman: pala yang berkualitas harus dipanen pada waktunya dan dihargai secara layak.
 

Writter & Editor : Den