Merawat Iman, Menjaga Budaya: Bible Camp Kei Besar Bentuk Generasi Muda Katolik Berkarakter dan Melek Djgital

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Merawat Iman, Menjaga Budaya: Bible Camp Kei Besar Bentuk Generasi Muda Katolik Berkarakter dan Melek Djgital

"Merawat Iman, Menjaga Budaya: Bible Camp Kei Besar Bentuk Generasi Muda Katolik Berkarakter dan Melek Djgital

Langgur KEI BESAR (Bombay), Kabarsulselindonesia.web.id  — Gereja Katolik di Kevikepan Kei Besar, Keuskupan Amboina, terus mendorong penguatan iman dan karakter generasi muda melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Bible Camp, sebuah perkemahan rohani yang dirancang khusus bagi Orang Muda Katolik (OMK) dan Remaja Katolik. Kegiatan lintas paroki ini dijadwalkan berlangsung pada 11–14 September 2026 di Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Bombay, Kei Besar.

Bible Camp tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan membaca dan memahami Kitab Suci secara teoritis. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang menjadi ruang bagi kaum muda untuk memperdalam iman melalui aktivitas interaktif, dinamika kelompok, refleksi, sekaligus mengenali jati diri mereka dalam kehidupan Gereja, budaya dan lingkungan sosial.9/9/26

Sebagai tuan rumah, Pastor Paroki HKY Bombay, RP Anselmus Amo MSC, menjelaskan bahwa terdapat empat tema pokok yang menjadi landasan pembinaan selama empat hari pelaksanaan Bible Camp.

Keempat tema tersebut meliputi spiritualitas kaum muda dan pertumbuhan iman, pembentukan karakter dengan menempatkan Yesus sebagai Pemimpin dan Gembala, penguatan pemahaman terhadap budaya Kei, serta pembinaan teknis dan prinsip-prinsip etis dalam penggunaan media sosial.

 “Empat pokok pembinaan yang dasarnya pada Kitab Suci, selain itu ajaran Gereja atau tradisi suci, ini menyatu dalam satu kegiatan pada empat pokok tema. Itu sebenarnya empat tema yang digodok dan dibina selama empat hari di sini,” ujar Pastor Amo.»

Menurutnya, keempat tema tersebut diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam membentuk pribadi kaum muda Katolik yang memiliki fondasi iman sekaligus mampu memahami identitas budaya mereka.

Secara teknis, kata Pastor Amo, materi pembinaan akan dikemas melalui berbagai sesi dan dinamika kelompok. Para peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi diajak terlibat aktif untuk menemukan dan memahami keberadaan dirinya.

 “Metodenya akan dibagi dalam sesi-sesi dan dinamika kelompok yang melibatkan mereka untuk menyadari keberadaan diri mereka, menyatu dengan alam dan tanah Kei Besar serta budayanya dan tradisi-tradisi yang masih tetap dijaga dan terus dipelihara,” jelasnya.»

Iman, Budaya dan Tantangan Dunia Digital

Menurut Pastor Amo, salah satu hal penting yang ingin dibangun melalui Bible Camp adalah kesadaran kaum muda bahwa perkembangan zaman tidak harus membuat mereka kehilangan akar identitas.

Kaum muda diharapkan mampu berdiri di tengah perubahan dengan tetap menjadikan kekayaan iman, budaya Kei dan tradisi Gereja sebagai pijakan dalam menentukan arah hidup.

 “Output dari Bible Camp, sebagai orang muda mereka harus berani untuk berpikir ke depan, artinya berpijak pada saat ini dengan dasar-dasar kekayaan yang ada di Gereja maupun budaya. Dan menghadapi dunia digital ini mereka mau seperti apa,” ujarnya.»

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan kaum muda tidak cukup hanya berbicara mengenai kehidupan rohani. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial, mereka juga membutuhkan pemahaman mengenai tanggung jawab, etika serta kemampuan menentukan sikap secara bijaksana.

Karena itu, kolaborasi antara iman, budaya dan kecakapan menghadapi dunia digital menjadi bagian penting dari pembinaan dalam Bible Camp.

Diarahkan Berpikir untuk Masa Depan

Pastor Amo menegaskan, proses pembinaan selama Bible Camp pada akhirnya diharapkan mampu mendorong peserta melakukan refleksi terhadap masa depan mereka.

Kaum muda diajak tidak hanya bertanya mengenai siapa dirinya saat ini, tetapi juga mengenai pribadi seperti apa yang ingin mereka bentuk dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

 “Jadi setelah menggali semua potensi, maka akan muncul pertanyaan dalam diri saya, bersikap seperti apa, putusan saya sebagai orang muda nantinya bagaimana, lima, sepuluh tahun ke depan nantinya saya seperti apa,” tutur Pastor Amo.»

Dengan demikian, Bible Camp diharapkan menjadi momentum bagi kaum muda Katolik di Kei Besar untuk membangun keberanian bermimpi, mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap masa depan mereka.

Di sisi lain, kegiatan lintas paroki ini juga diharapkan semakin mempererat persaudaraan di antara Orang Muda Katolik dan Remaja Katolik dari berbagai wilayah di Kevikepan Kei Besar.

Melalui perjumpaan, pembinaan dan aktivitas bersama, para peserta dapat membangun jejaring persaudaraan sekaligus memperkuat semangat kebersamaan sebagai bagian dari Gereja dan masyarakat Kei.

Kegiatan Bible Camp tersebut direncanakan akan dibuka oleh Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra.

Bible Camp Kei Besar pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan perkemahan rohani selama empat hari, tetapi menjadi ruang pembentukan generasi muda yang mampu berakar pada iman, kokoh dalam identitas budaya Kei, berkarakter dan bijak menghadapi tantangan dunia digital.

Penulis: Tarsy Temorubun

Editor Bruce Elang