Alumi ALL 1992 Bergerak! Yayasan Persada Moro Tiga Delapan Benahi Sanitasi Sekolah.

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 13 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Alumi ALL 1992 Bergerak! Yayasan Persada Moro Tiga Delapan Benahi Sanitasi Sekolah.

**Gerakan Toilet Sekolah Bersih Menjangkau Sejumlah Daerah, Alumni AAL Angkatan 1992 Dorong Budaya Hidup Sehat dan Tanggung Jawab Bersama**

Jakarta Kabarsulselindonesia.web.id  — Kepedulian terhadap masa depan anak bangsa tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan gedung sekolah, penyediaan buku pelajaran, atau peningkatan kualitas tenaga pendidik. Ada kebutuhan mendasar yang tidak boleh diabaikan, yakni tersedianya fasilitas sanitasi yang bersih, sehat, aman, dan layak digunakan oleh para siswa.

Berangkat dari kepedulian tersebut, Yayasan Persada Moro Tiga Delapan menggagas dan melaksanakan **Gerakan Toilet Sekolah Bersih**, sebuah inisiatif sosial yang berfokus pada pembangunan dan renovasi toilet di sejumlah taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) di berbagai daerah di Indonesia.

Yayasan yang dibentuk oleh alumni Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-38 tahun 1992 ini berupaya menghadirkan perubahan nyata di lingkungan pendidikan dasar. Program tersebut tidak hanya menyasar perbaikan bangunan dan fasilitas sanitasi, tetapi juga mendorong pembentukan karakter anak melalui kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak usia dini.

Pesan yang hendak ditegaskan sederhana, tetapi mendasar: **pendidikan yang berkualitas harus ditopang oleh lingkungan sekolah yang sehat, manusiawi, dan bermartabat.

Toilet sekolah bukan fasilitas pelengkap yang keberadaannya dapat diabaikan. Bagi anak-anak yang menghabiskan sebagian waktunya di sekolah, sanitasi yang layak merupakan bagian penting dari kenyamanan, kesehatan, keselamatan, dan kualitas proses belajar.

Karena itu, gerakan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan pendidikan harus memperhatikan kebutuhan siswa secara menyeluruh, termasuk kebutuhan dasar yang sering kali luput dari perhatian.

Menjangkau Sekolah di Berbagai Daerah, Kepedulian Diperluas

Gerakan Toilet Sekolah Bersih diawali melalui renovasi toilet di SDN 02 Sukajadi, Cisayong, Tasikmalaya, dan SDN Karanganyar, Kadipaten, Majalengka.

Program tersebut kemudian berlanjut ke SD Hangtuah 3 Rawa Bambu, Jakarta Selatan; SD Hangtuah 4 Cipulir, Jakarta Selatan; SD Hangtuah 8 Kodamar, Jakarta Utara; SD Hangtuah Titipapan, Medan; SD Hangtuah Belawan; SD Hangtuah Makassar; TK Hangtuah 2 Surabaya; serta TK Hangtuah Pontianak.

Selain sekolah-sekolah tersebut, yayasan juga tengah menjalankan proses renovasi fasilitas toilet di sejumlah sekolah lain di wilayah Jakarta, Tasikmalaya, Salatiga, dan Kupang.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan upaya memperluas jangkauan kepedulian sosial di sektor pendidikan dasar. Sejumlah kepala sekolah, guru, siswa, dan masyarakat setempat turut menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan.

Namun, keberhasilan gerakan ini tidak semestinya hanya diukur dari jumlah toilet yang selesai dibangun atau direnovasi. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah fasilitas tersebut benar-benar berfungsi, terpelihara, memenuhi kebutuhan siswa, dan terus digunakan secara sehat dalam jangka panjang.

Di sinilah diperlukan komitmen bersama antara yayasan, pengelola sekolah, tenaga pendidik, orang tua, pemerintah, dan masyarakat.

Laksdya TNI Ahmad Wibisono: Kebiasaan Hidup Bersih Harus Dibangun Sejak Dini

Ketua Pembina Yayasan Persada Moro Tiga Delapan, Laksamana Madya TNI Ahmad Wibisono, S.E., CHRMP., yang saat ini menjabat Inspektur Jenderal TNI Angkatan Laut (Irjenal), menyampaikan bahwa Gerakan Toilet Sekolah Bersih merupakan wujud kepedulian dan karya bakti yayasan terhadap pendidikan anak bangsa.

Menurutnya, pembentukan kebiasaan hidup bersih dan sehat perlu dimulai sejak anak-anak berada pada usia dini, ketika perilaku dan karakter mereka mulai terbentuk.

“Anak-anak kita sejak usia dini harus didekatkan dengan pola hidup yang bersih dan sehat. Mereka harus terbiasa dengan lingkungan yang bersih sebagai modal dalam kehidupan ke depan. Ini juga merupakan bagian dari edukasi. Harapan kita, kelak anak-anak akan terbiasa hidup sehat dan bersih, kemudian menerapkannya di rumah hingga lingkungan yang lebih luas saat mereka bertambah dewasa,” ujar Ahmad Wibisono.

Perhatian terhadap fasilitas sanitasi sekolah, menurut pesan yang terkandung dalam gerakan tersebut, tidak berhenti pada pembangunan fisik. Perubahan perilaku juga menjadi bagian penting agar anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab pribadi sekaligus tanggung jawab bersama.

Ahmad Wibisono juga menegaskan bahwa perhatian terhadap pendidikan dasar merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata alumni AAL tahun 1992 kepada bangsa dan negara.

“Yayasan Persada Moro Tiga Delapan merasa peduli untuk berbuat sesuatu kepada bangsa melalui perhatian pada sekolah dasar. Semoga apa yang kami lakukan ini bermanfaat,” ungkapnya.

Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui langkah konkret yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para siswa di lingkungan pendidikan dasar.

Bukan Hanya Bangunan, tetapi Standar Kesehatan dan Keselamatan Anak

Pembangunan toilet sekolah yang baik tidak cukup hanya memperhatikan tampilan fisik bangunan. Ketersediaan air, kebersihan lantai dan saluran pembuangan, ventilasi, keamanan penggunaan, privasi, serta kemudahan akses juga harus menjadi perhatian.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 22 Tahun 2023 tentang Standar Sarana dan Prasarana pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Dalam Pasal 20, peraturan tersebut mengatur fungsi toilet sebagai fasilitas sanitasi untuk buang air besar dan kecil serta mencuci tangan dan muka. Toilet satuan pendidikan juga harus sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan jumlah warga sekolah, berfungsi dengan baik dan bersih, mudah dijangkau serta aman, dan memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas.

Sementara itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan menjadi salah satu rujukan dalam penyelenggaraan kesehatan lingkungan, termasuk pada tempat dan fasilitas umum seperti fasilitas pendidikan.

Dengan demikian, gerakan renovasi toilet sekolah memiliki relevansi langsung dengan upaya membangun lingkungan pendidikan yang sehat. Pelaksanaan di setiap sekolah tetap perlu memperhatikan standar teknis, persyaratan kesehatan, kondisi bangunan, dan kebutuhan nyata para siswa.

**Toilet yang tampak baru belum tentu menjamin lingkungan yang sehat apabila air tidak tersedia, saluran pembuangan bermasalah, atau kebersihannya tidak dijaga.** Karena itu, pembangunan fisik harus diikuti pemeliharaan dan edukasi yang berkelanjutan.

Mengubah Toilet Menjadi Ruang Pembelajaran Karakter

Gerakan Toilet Sekolah Bersih juga membawa pesan pendidikan yang lebih luas. Anak-anak perlu dibiasakan mencuci tangan dengan benar, menggunakan toilet sesuai fungsinya, menghemat air, menjaga kebersihan setelah digunakan, serta melaporkan kerusakan fasilitas kepada guru atau petugas sekolah.

Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari pembentukan disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sekolah pun perlu membangun mekanisme pemeliharaan yang jelas. Guru, pengelola sekolah, petugas kebersihan, dan siswa dapat mengambil peran sesuai usia dan tanggung jawab masing-masing, tanpa mengabaikan kewajiban pengelola untuk menyediakan fasilitas yang aman dan layak.

Dalam pelaksanaannya, perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anak perempuan, siswa usia dini, dan peserta didik penyandang disabilitas agar fasilitas sanitasi dapat digunakan secara aman, nyaman, dan bermartabat.

Dengan pendekatan tersebut, gerakan ini diharapkan tidak berakhir ketika proses renovasi selesai atau seremoni penyerahan fasilitas dilaksanakan.

Tagline **“Toilet Bersih, Sekolah Sehat, Anak Indonesia Cerdas”** perlu diterjemahkan menjadi praktik sehari-hari melalui fasilitas yang berfungsi, kebiasaan hidup bersih, serta kepedulian seluruh warga sekolah.

Laksma TNI (Pur) Priyo Budi Leksono Buka Peluang Kolaborasi

Ketua Yayasan Persada Moro Tiga Delapan, Laksamana Pertama TNI (Purn.) Priyo Budi Leksono, S.E., M.M., menjelaskan bahwa Gerakan Toilet Sekolah Bersih dirancang sebagai kegiatan sosial berkelanjutan untuk membantu menghadirkan fasilitas sanitasi yang layak di sekolah-sekolah.

Menurutnya, pelaksanaan program tidak terlepas dari berbagai tantangan sehingga dukungan dan kolaborasi dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan.

“Sebagai program berkelanjutan dalam menghadirkan fasilitas sanitasi yang layak di sekolah-sekolah, tentunya tidak terlepas dari kendala, sehingga gerakan sosial ini membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Karena itu, jika ada yang ingin bergabung memberikan dukungan, baik material bangunan, perlengkapan sanitasi, maupun bentuk bantuan lain yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, akan kami terima dan salurkan,” ungkap Priyo Budi.

Ia menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dan berbagai pihak diharapkan dapat memperluas jumlah sekolah penerima manfaat, mempercepat renovasi fasilitas yang membutuhkan perbaikan, serta mendukung pendidikan kebersihan bagi para siswa.

Keterbukaan terhadap kolaborasi menjadi penting agar program tidak hanya bergantung pada kemampuan satu lembaga. Dukungan dari sektor swasta, komunitas sosial, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat membantu menjangkau sekolah yang membutuhkan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan serta prioritas penerima manfaat.

Alumni AAL 1992 dan Makna Pengabdian kepada Masyarakat

Keterlibatan alumni AAL angkatan ke-38 tahun 1992 melalui Yayasan Persada Moro Tiga Delapan memberikan dimensi pengabdian sosial pada gerakan tersebut.

Meski demikian, pelaksanaan kegiatan yayasan perlu dipahami secara tepat sebagai inisiatif sosial yang dilakukan melalui lembaga yayasan. Hal ini berbeda dari pelaksanaan tugas kedinasan TNI Angkatan Laut.

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025, merupakan landasan hukum mengenai kedudukan, tugas, dan penyelenggaraan TNI. Adapun kegiatan Gerakan Toilet Sekolah Bersih dalam pemberitaan ini berfokus pada kontribusi sosial yayasan di bidang pendidikan dan kesehatan lingkungan.

Pembedaan tersebut penting agar peran para tokoh yang terlibat, kedudukan yayasan, dan dasar hukum kegiatan disampaikan secara akurat kepada masyarakat.

Pada saat yang sama, semangat kepedulian terhadap pendidikan dasar memperlihatkan bahwa kontribusi kepada bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kegiatan sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Deklarasi Gerakan Toilet Sekolah Bersih Dijadwalkan 17 Oktober 2026

Yayasan Persada Moro Tiga Delapan merencanakan Deklarasi Gerakan Toilet Sekolah Bersih pada Sabtu, 17 Oktober 2026, bertempat di SD Hangtuah 4 Cipulir, Jakarta Selatan.

Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung bersamaan dengan penyerahan penggunaan toilet bersih kepada sekolah-sekolah penerima manfaat.

Deklarasi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan gerakan kepada masyarakat secara lebih luas sekaligus mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam memperbaiki sanitasi sekolah.

Ke depan, keberlanjutan program perlu ditopang oleh pendataan kebutuhan sekolah, penentuan prioritas renovasi, pemeriksaan kelayakan fasilitas setelah pekerjaan selesai, serta mekanisme pemeliharaan yang dapat dijalankan oleh pihak sekolah.

Langkah-langkah tersebut penting agar manfaat kegiatan dapat dirasakan dalam jangka panjang, bukan hanya pada saat peresmian.

Penutup: Masa Depan Anak Bangsa Dimulai dari Lingkungan yang Layak

Membangun masa depan Indonesia tidak cukup hanya dengan memastikan anak-anak memperoleh pelajaran di ruang kelas. Mereka juga berhak tumbuh di lingkungan yang bersih, aman, sehat, dan mendukung perkembangan fisik maupun mental.

Gerakan Toilet Sekolah Bersih yang digagas Yayasan Persada Moro Tiga Delapan mengangkat persoalan mendasar tersebut melalui pembangunan dan renovasi fasilitas sanitasi di sekolah-sekolah.

Namun, pekerjaan tidak berhenti ketika toilet selesai diperbaiki. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tetap berfungsi, kebersihan terjaga, air tersedia, dan budaya hidup sehat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekolah.

Pada akhirnya, keberhasilan gerakan ini tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang berdiri, tetapi juga oleh perubahan kebiasaan yang tumbuh dan bertahan.

Satu toilet yang layak mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika fasilitas itu membantu menjaga kesehatan, melindungi martabat, dan membangun kebiasaan hidup bersih anak-anak, manfaatnya dapat melampaui dinding sekolah dan menjangkau generasi berikutnya.

Editor: Bruce Elang