Festival Pesona Meti Kei 2026 Jadi Ujian Pembangunan Pariwisata Malra, Inay Maranressy: Jangan Hanya Meriah, Ekonomi Rakyat Harus Bertumbuh

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 19 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Festival Pesona Meti Kei 2026 Jadi Ujian Pembangunan Pariwisata Malra, Inay Maranressy: Jangan Hanya Meriah, Ekonomi Rakyat Harus Bertumbuh

MALUKU TENGGARA, Kabarsulselindonesia.web.id — Festival Pesona Meti Kei 2026 tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial dan hiburan tahunan. Lebih dari sekadar mempromosikan keindahan alam Kepulauan Kei, festival ini harus menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, memperkuat UMKM, menjaga kelestarian lingkungan, serta mempertahankan identitas budaya lokal.

Pandangan tersebut disampaikan Inay Kristina Maranressy, M. AB, dalam sebuah artikel opini yang menyoroti pentingnya pengelolaan pariwisata secara profesional, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Maluku Tenggara.

Menurutnya, Festival Pesona Meti Kei yang dijadwalkan berlangsung pada 19–24 Oktober 2026 merupakan momentum penting untuk memperkenalkan potensi pariwisata daerah kepada publik yang lebih luas. Namun, keberhasilan penyelenggaraan tidak semestinya hanya diukur dari kemeriahan acara atau banyaknya wisatawan yang datang.

Hal yang jauh lebih penting adalah seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat setempat.

“Festival harus meninggalkan manfaat nyata bagi masyarakat. Jangan sampai kegiatan berlangsung meriah, tetapi peluang ekonomi bagi warga lokal tidak berkembang secara berkelanjutan,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam artikelnya.

Ngurbloat dan Meti Kei, Modal Besar yang Membutuhkan Tata Kelola Serius

Pantai Ngurbloat merupakan salah satu aset pariwisata unggulan Kepulauan Kei dengan keindahan pasir putih, panorama laut, dan bentang pesisir yang memiliki daya tarik tersendiri.

Sementara itu, Meti Kei bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial, pengetahuan lokal, serta tradisi masyarakat pesisir.

Inay menilai, kekayaan alam dan budaya tersebut merupakan modal strategis pembangunan daerah. Namun, potensi besar tidak akan otomatis menghasilkan kesejahteraan apabila tidak didukung perencanaan, infrastruktur, tata kelola destinasi, dan keterlibatan masyarakat.

Karena itu, pendekatan pembangunan pariwisata perlu bergeser dari sekadar promosi destinasi menuju pengelolaan yang terukur dan berkelanjutan.

Kebersihan pantai, pengelolaan sampah, keamanan pengunjung, fasilitas sanitasi, aksesibilitas, serta kualitas pelayanan harus menjadi bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata.

Dengan demikian, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya menciptakan keramaian, tetapi juga memberikan pengalaman wisata yang berkualitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

UMKM Harus Menjadi Bagian Utama dari Perputaran Ekonomi

Salah satu sorotan utama dalam artikel tersebut adalah pentingnya memastikan pelaku UMKM memperoleh manfaat langsung dari penyelenggaraan festival.

Kegiatan pariwisata berpotensi membuka peluang usaha di berbagai sektor, mulai dari kuliner khas Kei, produk olahan perikanan, kerajinan tangan, penginapan, transportasi, hingga ekonomi kreatif.

Namun, keterlibatan UMKM tidak boleh terbatas pada penyediaan lapak selama kegiatan berlangsung.

Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan perlu mendorong peningkatan kualitas produk, pengemasan, pemasaran digital, penguatan merek, dan perluasan jaringan pasar agar usaha masyarakat dapat berkembang setelah festival berakhir.

Dengan strategi tersebut, Festival Pesona Meti Kei dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM lokal untuk meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pemasaran.

Prinsipnya, masyarakat setempat harus menjadi pelaku utama dalam rantai ekonomi pariwisata, bukan sekadar penonton dari kegiatan yang berlangsung di daerahnya sendiri.

Generasi Muda Jangan Hanya Menjadi Penonton

Inay juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kemampuan anak muda dalam fotografi, videografi, desain grafis, pembuatan konten, dan pemasaran melalui media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperluas promosi destinasi Kepulauan Kei.

Generasi muda perlu diberikan ruang untuk berperan sebagai kreator konten, pemandu wisata, pelaku seni, pengembang produk kreatif, serta penggerak pemasaran digital.

Jika didukung pelatihan dan pendampingan yang tepat, keterlibatan tersebut dapat membuka peluang kerja baru sekaligus memperkuat promosi pariwisata Maluku Tenggara.

Dengan begitu, festival bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, melainkan juga sarana pengembangan kapasitas dan kreativitas masyarakat.

Pemerintah Perlu Mengukur Dampak, Bukan Hanya Kemegahan Acara

Penyelenggaraan Festival Pesona Meti Kei patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi pariwisata Maluku Tenggara. Meski demikian, evaluasi objektif tetap diperlukan agar setiap pelaksanaan festival memberikan pembelajaran dan manfaat yang semakin besar.

Pemerintah daerah perlu memperhatikan sejumlah indikator, seperti jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal, tingkat belanja wisatawan, keterlibatan UMKM, peluang kerja yang tercipta, kepuasan pengunjung, serta kondisi lingkungan setelah kegiatan selesai.

Transparansi informasi dan evaluasi berbasis data juga penting untuk mengetahui sejauh mana kegiatan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.

Dengan adanya evaluasi yang terukur, penyelenggaraan festival berikutnya dapat dirancang lebih efektif, tepat sasaran, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Festival Harus Meninggalkan Warisan Pembangunan

Inay berpandangan, keberhasilan Festival Pesona Meti Kei tidak boleh berakhir ketika seluruh rangkaian acara selesai.

Festival yang berorientasi pada pembangunan harus meninggalkan warisan berupa meningkatnya kapasitas UMKM, berkembangnya usaha kreatif, membaiknya pengelolaan destinasi, terbukanya jaringan pemasaran, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian budaya dan lingkungan.

Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat adat, komunitas pariwisata, dan generasi muda.

Masyarakat juga harus dilibatkan dalam proses perencanaan dan pengelolaan destinasi sehingga pembangunan pariwisata benar-benar mencerminkan kebutuhan serta kepentingan warga setempat.

Dari Kei untuk Indonesia, Manfaatnya Harus Kembali kepada Masyarakat

Festival Pesona Meti Kei 2026 merupakan kesempatan strategis untuk memperkuat identitas pariwisata Maluku Tenggara sekaligus membangun fondasi ekonomi lokal yang lebih tangguh.

Pantai Ngurbloat menyediakan modal alam, Meti Kei menghadirkan kekuatan budaya, masyarakat menjadi penggerak utama, sementara pemerintah berperan memastikan kebijakan dan tata kelola berjalan secara efektif.

Tantangan terbesarnya adalah menyatukan seluruh potensi tersebut dalam ekosistem pariwisata yang mampu memberikan manfaat secara adil dan berkelanjutan.

Karena itu, masyarakat diajak menyukseskan Festival Pesona Meti Kei dengan menjaga kebersihan, menghormati budaya, mendukung produk lokal, memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan, dan mempromosikan destinasi secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan festival bukan hanya seberapa ramai pengunjung yang datang atau seberapa meriah acara diselenggarakan.

Ukuran sesungguhnya adalah seberapa besar festival mampu mengubah kekayaan alam dan budaya menjadi peluang kerja, pertumbuhan UMKM, pelestarian identitas, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Meti Kei bukan sekadar fenomena alam dan agenda pariwisata. Meti Kei adalah aset budaya, peluang ekonomi, dan investasi masa depan Maluku Tenggara.

*Dari Ngurbloat untuk Indonesia. Dari Kei untuk dunia.*

Penulis: Inay Kristina Maranressy, M. AB

*Editor: Bruce Elang*