132 Tahun Misi Katolik di Papua: Fakfak Merawat Persaudaraan Melampaui Iman
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pagi baru saja merekah di Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Jumat, 22 Mei 2026. Dari Rumah Kapitan yang berdiri menghadap laut, aroma kopi panas bercampur desir angin pesisir menyambut para tamu yang datang dari berbagai penjuru Tanah Papua.
Di tempat itulah sejarah lama kembali dihidupkan.
Umat Islam Kampung Sekru menerima rombongan perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua melalui prosesi adat yang khidmat. Para imam, suster, tokoh adat, tokoh agama, hingga ribuan umat larut dalam suasana yang bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan peneguhan ingatan kolektif tentang persaudaraan yang telah tumbuh lebih dari seabad di Fakfak.
Hadir dalam kegiatan itu Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong Pastor Izaak Bame, Pr., para imam dari lima keuskupan di Regio Papua, tokoh masyarakat, serta keluarga besar umat Islam dan Katolik dari berbagai kampung di Fakfak.
Rumah Kapitan di Sekru bukan lokasi biasa. Tempat itu dipercaya menjadi titik awal Pastor Cornelis Johannes Le Cocq d’Armandville, S.J., menapakkan perjalanan misi Katolik di Tanah Papua pada 1894. Menariknya, pastor asal Belanda tersebut pertama kali diterima oleh keluarga Muslim setempat.
Dari rumah sederhana di pesisir itu pula, sejarah mencatat pembaptisan pertama terhadap 73 anak Papua berlangsung.
Karena itu, prosesi adat dan minum kopi bersama pada Jumat pagi terasa seperti pengulangan pesan lama: bahwa perjumpaan pertama di tanah ini lahir bukan dari penolakan, melainkan penerimaan.
Di Fakfak, agama tidak ditempatkan sebagai batas yang memisahkan. Ia hidup berdampingan dalam filosofi tua masyarakat yang dikenal dengan ungkapan “Satu Tungku Tiga Batu” simbol persaudaraan antarpemeluk agama yang menopang kehidupan bersama.
Nuansa itu terlihat jelas sepanjang rangkaian napak tilas sejarah misi Katolik.
Usai prosesi adat, para remaja masjid dan tokoh Muslim Kampung Sekru mengantar Mgr. Bernardus bersama rombongan melalui jalur laut menuju lokasi yang diyakini sebagai titik pertama Pastor Le Cocq d’Armandville menginjakkan kaki di Papua.
Di pesisir kampung, umat Katolik telah menunggu.
Doa-doa dilantunkan. Rosario diserahkan kepada masyarakat Kampung Torea yang dipercaya memiliki hubungan sejarah dengan 73 orang pertama yang dibaptis. Laut tenang pagi itu menjadi saksi bagaimana sejarah, iman, dan penghormatan tumbuh dalam ruang yang sama.
Tak lama kemudian, arak-arakan Rally Rosario Arca Bunda Maria bergerak dari Sekru menuju Raduria.
Ribuan umat memadati jalan. Namun yang membuat peristiwa itu terasa berbeda bukan semata banyaknya peserta, melainkan siapa saja yang berjalan bersama di dalamnya.
Anak-anak Muslim, remaja masjid, ibu-ibu berjilbab, hingga para tetua adat tampak berdampingan dengan umat Katolik mengikuti perarakan doa.
Di Fakfak, penghormatan terhadap Bunda Maria ternyata melampaui batas keyakinan.
“Beliau dihormati karena kesucian dan mukjizatnya,” ujar Saida, warga Kampung Sekru, merujuk pada Sayyidah Maryam dalam tradisi Islam.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna besar tentang bagaimana masyarakat Fakfak memandang perbedaan: bukan ancaman, melainkan jembatan kemanusiaan.
Perjalanan napak tilas berlanjut ke Kampung Raduria, salah satu titik penting dalam sejarah misi Katolik Papua. Di kampung itu, Arca Bunda Maria disinggahkan di rumah tua yang diyakini pernah menjadi tempat tinggal Pastor Le Cocq d’Armandville.
Doa kembali dipanjatkan. Prosesi adat kembali digelar.
Dari Raduria, rombongan bergerak menuju Pulau Bonyom melalui jalur laut. Ribuan umat mengikuti perjalanan itu dengan penuh khidmat.
Pulau kecil tersebut kini menyimpan jejak penting sejarah Gereja Katolik di Papua. Di sana masih terdapat sumur tua yang dipercaya dibuat pada masa Pastor Le Cocq d’Armandville. Pemerintah dan masyarakat setempat tengah menyiapkannya sebagai kawasan wisata religi dan rohani.
Puncak prosesi berlangsung ketika Arca Bunda Maria ditempatkan di Goa Maria yang baru dibangun di Pulau Bonyom.
Ribuan umat memadati kawasan itu. Doa bergema di antara debur ombak dan perbukitan karang yang mengelilingi pulau.
Namun di balik seluruh rangkaian seremoni keagamaan tersebut, Fakfak sebenarnya sedang menunjukkan sesuatu yang lebih besar kepada Indonesia: bahwa toleransi tidak lahir dari slogan, melainkan diwariskan dalam praktik hidup sehari-hari.
Di tanah ini, sejarah panjang Islam dan Katolik tidak tumbuh dalam persaingan, melainkan dalam hubungan saling menjaga.
Dan selama “Satu Tungku Tiga Batu” tetap menyala, Fakfak tampaknya akan terus menjadi salah satu wajah paling teduh tentang Indonesia.
Writter : Rilis | Editor : Den

























Komentar via Facebook