Idul Adha di Maluku Tenggara: Khatib Sebut “Namrud Modern” Hidup di Era Kekuasaan dan Korupsi

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 27 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Idul Adha di Maluku Tenggara: Khatib Sebut “Namrud Modern” Hidup di Era Kekuasaan dan Korupsi

LANGGUR,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Khutbah Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Agung Raudhah, Langgur, Maluku Tenggara, menghadirkan pesan keras tentang krisis moral, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik korupsi yang dinilai masih menjadi ancaman serius bagi bangsa.

Dalam khutbah yang disampaikan Dr. H. Arifin Djinoen, M.Kes.I, jamaah diajak merenungkan kembali makna pengorbanan Nabi Ibrahim sebagai cermin kehidupan modern yang sarat godaan kekuasaan, harta, dan ego.

“Kita mungkin tidak lagi melihat Namrud dalam wujud seorang raja yang duduk di singgasana, tetapi Namrud-Namrud baru hadir dalam berbagai bentuk kehidupan,” tegas khatib di hadapan ribuan jamaah, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, penyalahgunaan jabatan, kerakusan terhadap kekayaan, hingga pudarnya kejujuran merupakan bentuk nyata dari “Namrud modern” yang kini hidup di tengah masyarakat.

“Ada kekuasaan yang disalahgunakan untuk menindas dan memperkaya diri. Ada jabatan yang diagungkan seolah menjadi ukuran kemuliaan manusia. Ada uang yang diperlakukan seperti Tuhan yang menentukan benar dan salah,” ujarnya.

Pernyataan itu langsung menyentil realitas sosial Indonesia yang masih dibayangi persoalan korupsi, kesenjangan ekonomi, dan melemahnya etika publik.

Arifin menilai, semangat Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk membangun kembali karakter bangsa yang berlandaskan kejujuran, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.

Menurut dia, banyak orang saat ini ingin memperoleh hasil besar tanpa kesiapan berkorban, sementara empati sosial perlahan memudar.

“Banyak orang ingin menikmati hasil, tetapi enggan menjalani proses pengorbanan. Individualisme semakin kuat, sementara rasa empati semakin menipis,” katanya.

Dalam khutbahnya, ia juga mengingatkan bahwa ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan upaya menyembelih sifat buruk dalam diri manusia.

“Yang harus dikorbankan bukan hanya hewan, tetapi juga kesombongan, ego, kerakusan, dan hawa nafsu yang merusak kehidupan,” tegasnya.

Khatib menekankan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak semata diukur dari pembangunan fisik atau kekayaan sumber daya alam, tetapi dari kualitas moral masyarakatnya.

“Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kemajuan materi, tetapi oleh akhlak, amanah, kejujuran, dan ketakwaan,” ujarnya.

Khutbah tersebut juga memuat doa khusus untuk Maluku Tenggara agar dijauhkan dari konflik, perpecahan, dan persoalan sosial yang merusak persaudaraan masyarakat.

Pesan bernada kritik sosial itu mendapat perhatian besar dari jamaah karena dianggap relevan dengan kondisi bangsa saat ini, ketika isu integritas pejabat, kesenjangan sosial, dan krisis kepercayaan publik masih menjadi sorotan.

(Elang)