Yohanis Wantik: Jangan Biarkan Digitalisasi Jadikan Anak Cucu Amungme dan Kamoro Penonton di Negri Sendiri

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 11 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Yohanis Wantik: Jangan Biarkan Digitalisasi Jadikan Anak Cucu Amungme dan Kamoro Penonton di Negri Sendiri

Yohanis Wantik: Jangan Biarkan Digitalisasi Jadikan Anak Cucu Amungme dan Kamoro Penonton di Negri Sendiri

TIMIKA Kabarsulselindonesia.web.id – Ambisi pembangunan dan transformasi digital di Kabupaten Mimika mulai menuai sorotan. Sejumlah kalangan mengingatkan bahwa modernisasi yang tidak berpijak pada adat, budaya, dan hak-hak masyarakat asli Papua berpotensi melahirkan bentuk baru penjajahan, yakni kolonialisme digital.

Pemuda Mimika, Yohanis Wantik, menilai kemajuan teknologi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan eksistensi masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat sekaligus pewaris sah masa depan Mimika.11/06/2026

Menurutnya, pembangunan yang hanya mengejar investasi, infrastruktur, dan digitalisasi tanpa menyiapkan sumber daya manusia Orang Asli Papua justru berisiko menciptakan ketimpangan baru yang lebih halus, tetapi dampaknya dapat berlangsung lintas generasi.

"Kolonialisme zaman dahulu merampas tanah dan sumber daya. Kolonialisme digital bisa merampas kesempatan, pengetahuan, dan masa depan. Jangan sampai anak cucu Amungme dan Kamoro hanya menjadi penonton di tanah leluhurnya sendiri," tegas Yohanis.

Ia mempertanyakan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Mimika di tengah gencarnya wacana transformasi digital. Menurutnya, publik berhak mengetahui sejauh mana keberpihakan pemerintah terhadap masa depan generasi muda Orang Asli Papua.

"Siapa yang menjamin anak-anak Amungme dan Kamoro akan menjadi pelaku utama dalam era digital? Siapa yang menjamin mereka memperoleh pendidikan yang berkualitas, menguasai teknologi, dan mendapat akses pekerjaan yang layak? Jangan sampai kemajuan hanya dinikmati oleh mereka yang datang, sementara pemilik negeri ini kembali berada di pinggir sejarah," ujarnya.

Yohanis menegaskan bahwa pembangunan yang mengabaikan adat dan budaya lokal pada akhirnya hanya akan melahirkan keterasingan di atas tanah sendiri. Karena itu, menurutnya, pemerintah daerah harus memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan berpihak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Orang Asli Papua serta menghormati nilai-nilai budaya masyarakat Amungme dan Kamoro.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan yang sesungguhnya bukan sekadar menghadirkan teknologi dan investasi, melainkan memastikan masyarakat adat memiliki kapasitas dan kesempatan yang sama untuk menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek.

"Jangan membawa Mimika menuju kolonialisme gaya baru dengan wajah digital. Sebab sejarah telah mengajarkan, ketika pembangunan tidak dibangun di atas keadilan, maka yang lahir bukan kesejahteraan, melainkan kesenjangan," katanya.

Menurut Yohanis, penghormatan terhadap adat dan budaya bukanlah hambatan bagi kemajuan. Sebaliknya, nilai-nilai lokal merupakan fondasi penting agar pembangunan memiliki arah, identitas, dan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat asli.  "Kemajuan tidak boleh menghapus identitas. Digitalisasi tidak boleh menjadi jalan sunyi menuju penjajahan gaya baru. Jika hari ini kita gagal mempersiapkan anak cucu Amungme dan Kamoro sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi, maka suatu saat mereka hanya akan menjadi tamu di atas tanah warisan leluhurnya sendiri," pungkas Yohanis Wantik.

Editor : Bruce Elang