Wali Kota Bodewin Wattimena Buka Lomba Jukulele 2026 — Tantang Pecahkan Rekor MURI Dan Dunia Tahun Depan, Kurikulum Musik Wajib Kembali dalam 1 Bulan
AMBON, Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, secara resmi membuka Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026 yang berlangsung di Pattimura Park, Senin (31/8/2026). Kegiatan yang digelar dalam rangka menyambut HUT Kota Ambon ke-451 ini dihadiri oleh Wakil Wali Kota Ambon, Ketua DPRD Kota Ambon, Sekretaris Daerah, Kapolresta Pulau Ambon & PP Lease, Danpom Koderal X Ambon, perwakilan Pengadilan Negeri Ambon, Ketua TP PKK Kota Ambon, jajaran pimpinan OPD, Camat, Kades, Lurah, Direktur Ambon Music Office, dewan juri, pelatih, serta ratusan finalis dari 5 kecamatan se-Kota Ambon.
Acara dibuka dengan pantun yang menggambarkan semangat kebersamaan:
"Jalan-jalan ke Negeri Lama, jangan lupa bawa manisan pala. Jukulele dimainkan dengan penuh irama, untuk menyatukan hati untuk basudara semua."
Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan Jukulele bukan sekadar alat musik, melainkan identitas budaya dan jiwa orang Ambon.
"Jukulele adalah musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon. Ia menggambarkan siapa kita. Tanggung jawab kita bersama adalah menjaga, melestarikan, dan membudayakannya — supaya Jukulele menjadi bagian penting dari identitas budaya lokal kita, sebagai akar dari budaya nasional."
Mengusung tema "Jukulele Par Semua Ambon, Par Dunia", Wali Kota menekankan bahwa Jukulele milik semua warga Ambon — tanpa sekat perbedaan. Ia harus menjadi alat pemersatu, bukan pemisah.
Wali Kota mengingatkan pengakuan UNESCO sebagai Kota Musik Dunia bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab besar.
"Pengakuan itu tidak boleh sekedar jadi narasi. Ia harus memotivasi kita membangun kota kreatif berbasis musik. Kalau kita bilang Jukulele untuk semua dan Ambon untuk dunia, maka tahun depan kita harus buktikan — Jukulele bukan sekadar alat musik, tapi jiwa dan semangat kita bersama."
Wali Kota memberikan tantangan luar biasa kepada seluruh jajaran pemerintah kota:
"Saya minta Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan mendata SEMUA pemain Jukulele di Kota Ambon. Tahun depan saat final Jukulele, kita pecahkan rekor MURI dan rekor dunia untuk pemain Jukulele terbanyak! Baru saat itu kita benar-benar bisa bilang: Jukulele untuk dunia, Ambon untuk dunia!"
Langkah konkret untuk mewujudkan mimpi itu, Wali Kota memberikan perintah tegas kepada Sekretaris Daerah dan Dinas terkait:
"Kurikulum musik WAJIB dikembalikan di seluruh sekolah di Kota Ambon! Tidak ada alasan apapun. Pak Sekkot, ini perintah — cari solusi, pastikan berjalan. Saya beri waktu SATU BULAN dari sekarang."
"Mengapa ini penting? Karena itulah bukti kita sebagai Kota Musik Dunia. Bukan sekadar pengakuan di atas kertas. 10–20 tahun ke depan, dari kota kecil ini akan lahir musisi-musisi hebat yang mengisi panggung nasional dan internasional. Caranya? Bina generasi muda dengan kurikulum musik sejak SD dan SMP."
Wali Kota juga menyampaikan makna mendalam di balik setiap perlombaan:
"Kompetisi bukan untuk mencari satu pemenang dan sisanya kalah. Kompetisi adalah untuk mengukur kemajuan, melatih kerja sama, dan menekan ego — karena tanpa harmoni, Jukulele tak akan terdengar indah. Satu orang main lebih cepat, satu orang mau paling hebat — rusak semua harmoni."
"Anak-anak kita harus belajar: bekerja sama, tahan ego, ciptakan harmoni. Itu pelajaran hidup yang paling berharga. Bukan cuma soal menang lomba, tapi soal membangun karakter untuk Indonesia Emas 2045."
Wali Kota berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung, termasuk OJK, perbankan, dan tim percepatan akses keuangan daerah. Ia juga mengapresiasi dewan juri yang profesional — termasuk juri tingkat nasional dan internasional — sehingga tidak ada protes dari peserta.
"Kita tidak dituntut membangun gedung megah. Cukup lakukan hal-hal kecil yang berdampak besar — itulah tugas kita. Kalau kita konsisten, Ambon bukan hanya sekadar nama besar, tapi kota yang membanggakan kita semua."
(M.N)

























Komentar via Facebook