Menjaga Warisan Rempah Dunia, Fakfak Rawat Delapan Kebun Induk Pala Tomandin
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah meningkatnya kebutuhan bibit pala berkualitas, Pemerintah Kabupaten Fakfak memilih memperkuat fondasi dari hulu. Melalui Dinas Perkebunan, pemerintah daerah terus melakukan pembinaan dan perawatan intensif terhadap delapan Blok Penghasil Tinggi (BPT) yang telah ditetapkan sebagai sumber benih unggul Pala Tomandin Fakfak.
Langkah ini tidak sekadar menjaga produktivitas tanaman, tetapi juga menjadi strategi penting mempertahankan kemurnian varietas Pala Tomandin Fakfak yang telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG), sebuah pengakuan yang menegaskan identitas dan kualitas khas pala asal tanah Mbaham Matta.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T, mengatakan keberadaan BPT menjadi pilar utama dalam sistem perbenihan pala di Fakfak. Dari kebun-kebun inilah benih unggul diproduksi secara terkontrol untuk menjamin kualitas tanaman yang akan dikembangkan masyarakat.
“Melalui BPT, pemerintah memastikan bibit pala yang beredar berasal dari sumber benih resmi yang telah tersertifikasi. Dengan demikian, kualitasnya terjamin, tetap asli varietas Fakfak, serta bebas dari hama dan penyakit karena mendapat pembinaan dan pengawasan secara berkala,” kata Widhi.
Delapan BPT tersebut telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 87/Kpts/KB.020/12/2016 sebagai kebun sumber benih unggul pala. Lokasinya tersebar di sejumlah kampung dan dikelola langsung oleh pekebun yang selama ini dikenal memiliki pohon induk berkualitas tinggi.
Masing-masing BPT dimiliki oleh Zakarias Hindom di Kampung Werba, Distrik Fakfak Barat, dengan luas 2 hektare dan populasi 290 pohon; Luter Kakis seluas 4,8 hektare dengan 630 pohon; Bertus Woy seluas 0,5 hektare dengan 50 pohon; Yohanes Ginuni di Kampung Falak seluas 3 hektare dengan 375 pohon; Benediktus Temongmere di Kampung Mendopma seluas 2 hektare dengan 240 pohon; Husin Temongmere seluas 1,72 hektare dengan 275 pohon; Abdul Halil Wanggabus seluas 1 hektare dengan 150 pohon; serta Udin Mury seluas 1 hektare dengan 140 pohon.
Menurut Widhi, sistem perbenihan pala kini diarahkan melalui mekanisme penangkaran resmi. Pemerintah tidak lagi mendorong pengadaan bibit secara bebas tanpa pengawasan karena berpotensi menurunkan mutu dan mengaburkan asal-usul varietas.
“Kita ingin memastikan keberlanjutan Pala Tomandin Fakfak. Karena itu, benih yang digunakan masyarakat harus berasal dari sumber yang jelas dan terjamin kualitasnya,” ujarnya.
Upaya menjaga kualitas benih tidak berhenti pada proses sertifikasi. Dinas Perkebunan bersama para pemilik BPT secara rutin melakukan perawatan setiap tiga bulan sekali, mulai dari pembersihan kebun, pemangkasan tanaman, pengawasan kesehatan pohon induk, hingga pemberian nutrisi tambahan.
Menariknya, program pemeliharaan tersebut mendapat dukungan langsung dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui bantuan pupuk organik yang diperuntukkan bagi seluruh BPT di Fakfak. Bantuan itu menjadi bagian dari komitmen pemerintah pusat dalam memperkuat ketersediaan sumber benih unggul pala nasional yang berasal dari Fakfak.
Ketua Tim BPT, Martinus Gewab, mengatakan para pemilik BPT menyadari bahwa mereka memegang peran strategis dalam menjaga keberlanjutan komoditas unggulan daerah tersebut.
“BPT ini merupakan sumber benih unggul pala Fakfak untuk masa depan. Karena itu perawatannya dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Kami bersyukur mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian melalui bantuan nutrisi pupuk organik sehingga kondisi pohon induk tetap sehat dan produktif,” kata Martinus.
Di tengah upaya pemerintah mendorong peningkatan produksi perkebunan, keberadaan delapan BPT tersebut menjadi benteng terakhir yang menjaga identitas Pala Tomandin Fakfak tetap autentik. Dari kebun-kebun induk inilah kualitas, reputasi, dan keberlanjutan pala Fakfak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi Fakfak, menjaga pohon induk bukan sekadar merawat tanaman. Lebih dari itu, menjaga BPT berarti menjaga warisan, mempertahankan nama besar Pala Tomandin di pasar nasional maupun internasional, sekaligus memastikan kejayaan rempah khas Papua itu tetap hidup dari masa ke masa.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook