Hari Nen Dit Sakmas di Malra: Dari Ziarah Makam Leluhur Menuju Penguatan Nilai Adat Kei
Hari Nen Dit Sakmas di Malra: Dari Ziarah Makam Leluhur Menuju Penguatan Nilai Adat Kei
LANGGUR Kabarsulselindonesia.web.id — Peringatan Hari Nen Dit Sakmas di Kabupaten Maluku Tenggara, Senin (7/9/2026), berlangsung dalam suasana khidmat dan sarat makna. Rangkaian peringatan diawali dengan ziarah ke makam Rat Ohoivur dan makam Nen Dit Sakmas, sebelum dilanjutkan dengan acara seremonial di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara.
Acara tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam.
Momentum Hari Nen Dit Sakmas tidak sekadar dipandang sebagai agenda tahunan. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi ruang untuk kembali mengingat akar sejarah, nilai adat, serta keteladanan yang diwariskan para leluhur kepada generasi Kei.
Ziarah ke makam Rat Ohoivur dan Nen Dit Sakmas menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah sekaligus pengingat bahwa perjalanan sebuah daerah tidak dapat dipisahkan dari warisan para pendahulunya.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, nilai-nilai adat dan budaya menghadapi tantangan yang tidak ringan. Karena itu, peringatan Hari Nen Dit Sakmas menjadi momentum penting untuk memastikan nilai luhur tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dalam perilaku dan kehidupan masyarakat.
Jangan Biarkan Sejarah Berhenti Sebagai Seremoni
Peringatan adat memiliki makna yang jauh lebih besar ketika mampu diterjemahkan dalam kehidupan nyata.
Nilai penghormatan terhadap leluhur, persaudaraan, kebersamaan, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap martabat manusia harus terus diwariskan kepada generasi muda.
Sebab, masyarakat yang kehilangan hubungan dengan sejarah dan budayanya akan mudah kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, Hari Nen Dit Sakmas harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali kesadaran generasi muda terhadap identitas Kei.
Adat bukan sekadar pakaian pada acara seremonial. Budaya bukan hanya tarian dan ritual. Sejarah bukan sekadar nama yang ditulis dalam buku. Semuanya harus hidup dalam sikap, karakter, dan tindakan masyarakat.
Di sinilah pentingnya peran pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta generasi muda untuk bersama-sama menjaga warisan tersebut.
Merawat Identitas, Menjaga Masa Depan
Rangkaian peringatan Hari Nen Dit Sakmas di Maluku Tenggara menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan identitas budayanya.
Justru di tengah arus modernisasi, nilai adat dapat menjadi fondasi moral untuk membangun masyarakat yang kuat, saling menghargai, dan memiliki jati diri.
Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan terus menjadikan momentum seperti ini sebagai ruang edukasi budaya bagi generasi muda.
Sebab menjaga warisan leluhur bukan berarti hidup di masa lalu.
Menjaga adat berarti memastikan generasi hari ini memiliki akar yang kuat untuk melangkah menuju masa depan.
Peringatan Hari Nen Dit Sakmas akhirnya bukan hanya tentang mengenang siapa yang telah pergi, tetapi tentang bagaimana nilai yang mereka tinggalkan tetap hidup dan menjadi cahaya bagi generasi yang akan datang.
Editor: Bruce Elang

























Komentar via Facebook