Satu Tungku Tiga Batu Menggema di Fakfak: Bupati Samaun Salurkan Hibah Rp850 Juta untuk Gereja dan Luncurkan Kurikulum Katekisasi GPI Papua

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 25 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Satu Tungku Tiga Batu Menggema di Fakfak: Bupati Samaun Salurkan Hibah Rp850 Juta untuk Gereja dan Luncurkan Kurikulum Katekisasi GPI Papua

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Gedung Gereja Bakal jemaat GPI Papua Galilea Kampung Torea siang itu tak hanya dipenuhi para pendeta, majelis jemaat, dan tokoh masyarakat. Ia juga dipenuhi satu hal yang jarang tampak dalam ruang-ruang birokrasi: rasa haru yang tumbuh dari persaudaraan.

Senin, 25 Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Fakfak menyerahkan bantuan dana hibah kepada tujuh jemaat Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua sekaligus meluncurkan Kurikulum Katekisasi GPI Papua.

Momentum ini menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi penegasan tentang wajah Fakfak sebagai tanah toleransi yang hidup.

Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak bisa hanya diukur dari berdirinya gedung dan jalan, tetapi juga dari kokohnya nilai moral dan spiritual masyarakat.

“Pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek fisik semata, tetapi juga pembangunan mental dan spiritual masyarakat,” kata Samaun di hadapan Ketua Majelis Pekerja Sinode GPI Papua, Ketua Klasis GPI Fakfak, para pimpinan OPD, tokoh agama, serta jemaat yang hadir.

Nada sambutan itu terasa tenang, tetapi mengandung pesan yang kuat. Pemerintah daerah, kata dia, ingin memastikan rumah-rumah ibadah tetap menjadi pusat pembinaan iman, pendidikan karakter, sekaligus ruang lahirnya persaudaraan di tengah masyarakat Papua yang majemuk.

Karena itu, Pemkab Fakfak menggelontorkan dana hibah sebesar Rp850 juta kepada tujuh jemaat GPI Papua untuk mendukung pembangunan gereja dan fasilitas pelayanan umat.

Tujuh jemaat penerima bantuan hibah tersebut yakni Panitia Pembangunan BK GPI Papua Galilea Kampung Torea sebesar Rp125 juta, Panitia Pembangunan Pastori Imanuel Werba Rp100 juta, Panitia Pembangunan Gereja Eden Weri Rp100 juta, Panitia Pembangunan Gereja Elim Bomberay Rp80 juta, Panitia Pembangunan Gereja Rehobot Sum Rp20 juta, Panitia Pembangunan Gereja Eden Wagom Rp300 juta, serta Panitia Pembangunan Gereja Elshaday Mbahamdandara sebesar Rp225 juta.

Bupati Fakfak Samaun Dahlan saat menyampaikan Sambutan sebelum menyerahkan Dana Hibah | Foto Istimewah KSI

Usai sambutan, satu per satu perwakilan jemaat maju menerima bantuan hibah dari tangan bupati. Tepuk tangan jemaat pecah berkali-kali. Sebagian tamu undangan tampak mengabadikan momen itu dengan telepon genggam mereka.

Namun acara siang itu tidak berhenti pada penyerahan bantuan. Pemerintah daerah bersama GPI Papua juga meluncurkan Kurikulum Katekisasi GPI Papua sebuah langkah yang disebut strategis untuk membangun fondasi iman generasi muda Papua.

Bupati Samaun menyebut kurikulum tersebut penting untuk membentuk karakter generasi muda agar tetap berakar pada nilai spiritual, kasih, dan persatuan di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.

“Kurikulum ini diharapkan mampu membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai spiritual generasi muda Papua,” ujarnya.

Di Fakfak, pesan itu menemukan konteksnya sendiri. Daerah di pesisir barat Papua ini sejak lama dikenal dengan falsafah “Satu Tungku Tiga Batu” simbol hidup berdampingannya Islam, Katolik, dan Protestan dalam satu rumah persaudaraan.

Falsafah itu kembali digaungkan Samaun dalam pidatonya. Ia mengingatkan bahwa toleransi tidak boleh hanya menjadi slogan budaya, tetapi harus dirawat melalui kerja bersama antara pemerintah, gereja, tokoh adat, dan masyarakat.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keharmonisan dan membangun daerah ini dengan semangat kebersamaan,” katanya.

Di tengah berbagai riak sosial yang kerap membelah banyak daerah di Indonesia, Fakfak justru memilih memperlihatkan wajah lain Papua: tenang, bersaudara, dan saling menopang.

Dan siang itu, lewat penyerahan hibah gereja serta peluncuran kurikulum katekisasi, pesan itu kembali ditegaskan bahwa pembangunan Papua tidak semata dibangun dengan beton dan anggaran, tetapi juga dengan iman, toleransi, dan rasa saling menjaga sesama.

 

Writter & Editor : Den